Apresiai Hardiknas 2021, MOmentom Transpormasi Pendidikan

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH

Penulis, Notaris tinggal di Sampit.

Mendikbut-Ristek (nama kementerian baru) Nadiem Makarim berkomitmen untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia dengan transformasi dengan terobosan merdeka belajar. Komitmen ini, merupakan momentum yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk merefleksikan kembali apa saja yang sudah dikerjakan dengan baik dan apa saja yang perlu diperbaiki. Lembaran baru pendidikan Indonesia berarti transformasi. Transformasi yang tetap bersandar pada sejarah bangsa, dan juga keberanian menciptakan sejarah baru yang gemilang.

Pada tataran praktis, nama yang disebut hampir seluruh penduduk bumi akhir akhir ini adalah virus korona, atau dengan nama Inggris Covid-19. Tak peduli dalam situasi atau kondisi serta tempat manapun., virus korona menjadi topik pembicaraan. Keberadaannya tidak terlihat, hanya kecil, tetapi sanggup menebar teror di senatero jagat. Virus ini memengaruhi Kesehatan, bahkan kehidupan seluruhnya. Sementara itu pemberantasnnya sangat sulit, perlu waktu yang sangat panjang, ibarat penantian yang tak kunjung henti.
Berbagai aktivitas sosial terpengaruh dengan keberadaan virus korona ini tak terkecuali dunia pendidikan di tanah air yang setiap tahun diperingati pada tanggal 2 Mei dengan upacara, dan penyampaian berbagai hal terkait pendidikan, kondisi saat ini, dan perspektif ke depan serta berbagai kebijakan terkait dengan pelaksanaannya di tanah air.

Momentum Hardiknas Tahun 2021
Untuk tahun 2021 ini, Hardiknas terpengaruh dan masih berada pada musim pandemi korona, dan berada pada bulan Ramadhan. Secara ritual, dengan masih beum perginya virus korona peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tidak dilaksanakan dengan berbagai aktivitas sebagaimana biasanya, termasuk secara khusus penyelenggaraan upacara yang biasanya diselenggarakan di seluruh jajaran birokrasi. Kemendikbud dalam hal ini meniadakan penyelenggaraan upacara di satuan pendidikan hingga perwakilan pemerintah Republik Indonesia di luar negeri. Kemeriahan peringatan Hadiknas berganti dengan keprihatinan dan sebagai penanda, tema dari peringatan kali ini terkonsentrasi pada upaya pencegahan penyebaran pandemi virus korona dimaksud.

Dari kebijakan yang diinisiasi oleh pemerintah (Cq Mendikbud) menunjukkan bahwa Kemendikbud selaku panitia penyelenggara peringatan Hardiknas Tahun 2021 meniadakan penyelenggaraan upacara bendera yang umumnya wajib diselenggarakan kantor instansi Pusat dan Daerah, setiap satuan pendidikan, serta kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. Untuk itu kepada seluruh instansi terkait diharapkan mengikuti upacara bendera peringatan Hardiknas 2021 melalui siaran virtual di YouTube Kemendikbud dan TV Edukasi. Selebihnya tidak ada aktivitas yang mengumpulkan orang banyak saat memperingati Hardiknas 2021.

Teknis dari peringatan itu adalah dengan tidak menyelenggarakan upacara bendera peringatan Hardiknas tanggal 2 Mei 2021 tahun ini. Di samping jatuh pada hari Ahad, juga musim pandemi korona menjadi penyebabnya.

Etos Pendidikan Abadi, Mengenang Ki Hajar Dewantara. Satu diantara yang mempertemukan komietmen dimaksud adalah pada terwujudnya kekhidmatan ini secara visual dilaksanakan dengan mempertemukan pada satu titik, yaitu mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara. Kalimat bijak yang harus senantiasa dikenang dari peringatan ini adalah kalimat beliau: Tanpa lahirnya pendidikan nasional, Bangsa Indonesia tidak akan ada. Sebuah ungkapan bijak dari sosok yang peduli akan pendidikan bangsa ini. Gelar Bapak Pendidikan Nasional pun disematkan pada dirinya. Oleh karena kepedulian yang sangat tinggi pada jamannya, ia mendirikan Taman Siswa. Taman Siswa sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mencintai bangsa dan tanah air. Saat itu perjuangannya adalah untuk memperoleh kemerdekaan.

Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Taman Siswa, Ki Hajar rajin menulis, dengan tema pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisan yang berjumlah ratusan itu intinya adalah bagaimana memajukan pendidikan khususnya golongan pribumi. Dengan itu pula, Ki Hajar berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Setelah zaman kemedekaan, Ki Hajar ditunjuk untuk posisi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Sejalan dengan ini, nama Ki Hajar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (Bapak Pendidikan Nasional). Sebagai momentum dunia Pendidikan, karena jasanya yang besar bagi bangsa Indonesia maka tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan dan diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.

Ajaran yang membekas dan akan tetap abadi adalah pepatah bijak yang maknanya sangat dalam. Makna ini bermuatan keteladanan bagi profil seorang pemimpin, dan semua orang pada dasarnya adalah pemimpin. Pemimpin rakyat, pemimpin organisasi tertentu, pemimpin dalam rumah tangga atau minimal adalah pemimpin bagi diri sendiri.

Filosofi pendidikian yang ditanamkan adalah: “Ing Ngarso Sung Tulodho” yaitu ketika di depan publik, kita harus bisa memberikan contoh atau teladan yang baik untuk orang lain. Kedua adalah “Ing Madyo Mangun Karsa” ketika di tengah atau di antara publik, harus bekerja keras dan membangun kinerja yang baik. Ketiga adalah “Tut Wuri Handayani” yaitu ketika berada di belakang, harus memberi semangat dan motivasi untuk orang lain.

Kini, karena keprihatinan pandemic virus korona, warga masyarakat, siswa, guru dan warga lingkungan pendidikan mengenang Hardiknas sebagai momentum untuk tetap berkomitmen memajukan pendidikan nasional dengan penuh semangat, mengapresiasi filosofi Pendidikan Ki Hajar. Pandemic virus korona hanya sebagai dinamika perkembangan alam yang kiranya tidak mengganggu dan mengurangi semangat untuk terus maju khususnya dalam dunia Pendidikan. Substansi Hardiknas tetap abadi, yaitu terus berkomitmen memajukan Pendidikan Nasional sesuai dengan posisi masing masing. Sebab hakekat Pendidikan adalah belajar pada kehidupan, yang berarti sepanjang hayat dikandung badan harus terus belajar tau bersekolah. Filosofi yang abadi sepanjang waktu adalah bahwa setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang lain adalah guru. Sekolah kehidupan dan guru kehidupan. Ini menjadi tema Hardiknas di sepanjang waktu, kendatipun pejabarannya dibahasakan dalam berbagai kata, sesuai dengan tempat dan waktunya***

About dwidjo -

Check Also

Hate Speech Dan Pasal Karet UU ITE

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH *Penulis, Notaris tinggal di Sampit. Ujaran kebencian (Inggris: hate speech), dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *