Jakarta, Koranpelita.com
IMAC Film Festival 2026 setelah sukses diselenggarakan selama tiga hari. Penutupan ditandai dengan Awarding Day yang digelar di Ruang Pemutaran Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu (19/4/2026), sekaligus menjadi momen pengumuman para pemenang.
IMAC Film Festival merupakan festival film pendek kolaborasi Komunitas Suka Sinema dan Ikatan Alumni Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (ILUNI UI FIB) yang di gelar selama tanggal 16-18 April 2026 di TIM dan FIB UI Depok yang juga mendapat dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
IMAC 2026 mengusung tema “Resilience” yang mengajak masyarakat untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga terus bertumbuh di tengah berbagai tantangan global. Tema ini turut tercermin dalam karya-karya film pendek yang ditampilkan, yang mengangkat berbagai cerita tentang perjuangan dalam diam, harapan, serta semangat untuk bangkit. Selain itu, sejumlah film juga menyoroti isu keberlanjutan dan pentingnya gaya hidup yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Cecep Rukendi, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan IMAC Film Festival yang kini memasuki tahun ketiga. Ia menilai festival ini memiliki peran penting sebagai ruang inkubasi bagi talenta muda sekaligus sarana promosi karya sineas Indonesia.
“Ke depannya, kolaborasinya perlu ditingkatkan, tidak hanya berjuang sesama filmmakers tapi juga harus berkolaborasi dengan subsektor lain di industri kreatif. Salah satu kelemahan pelaku film itu berjuang di sektor filmnya saja. Padahal kalau lihat dari film seperti James Bond, ini kolaborasi film makers, digital teknologi, AI, termasuk fashion, crafts, dan banyak lagi,” tutur Cecep. Festival ini dinilai berperan penting dalam pengembangan industri film nasional.
Cecep Rukendi, juga mengatakan IMAC memiliki tiga fungsi utama. Ia menilai festival ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ruang pengembangan talenta.
Menurutnya, IMAC menjadi wadah berkumpulnya sineas muda dari berbagai negara. Mereka datang untuk berkompetisi sekaligus belajar bersama. “Pertama adalah talent incubator, banyak generasi muda dari Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, datang bersama-sama dan berkompetisi. Kami juga mengenali festival ini sebagai alat promosi,” kata Cecep, di Ruang Pemutaran Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, Minggu (19/4/2026).
Selain itu, IMAC juga berfungsi sebagai sarana promosi karya film. Cecep berharap film pemenang bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
“Kami harus membuat pemenang film ini tidak hanya senang menunjukkan cinema di festival ini saja. Tetapi kita juga bisa berhubungan dengan OTT, seperti Netflix, Vidio, dan lain-lain,” katanya.
Ia menambahkan, IMAC juga menjadi ruang kolaborasi antar sineas. Ke depan, kolaborasi lintas sektor dinilai perlu terus diperkuat.

Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Cecep Rukendi (kiri) foto bersama Ketua Pelaksana IMAC 2026 Sri Bandoro (kanan). (Foto : KP/Vin)
Menemukan harapan di tengah tantangan
Ketua Pelaksana IMAC 2026 Sri Bandoro menyampaikan bahwa tema resiliensi dipilih sebagai refleksi atas kondisi global saat ini. Menurutnya, resiliensi tidak hanya berarti bertahan, tetapi juga menemukan harapan di tengah tantangan.
“Melalui IMAC, kami ingin menghadirkan karya-karya yang tidak hanya kuat secara cerita, tetapi juga mampu menyampaikan pesan mendalam tentang perjuangan dan harapan. Festival ini juga menjadi milestone penting dalam langkah kami menjadi festival film bertaraf internasional. Terima kasih kepada semua filmmakers yang telah berpartisipasi dalam festival ini. Mari merayakan kekuatan film semoga ceritanya tidak hanya menginspirasi tapi juga memantik percakapan tentang kekuatan yang ada dalam diri kita semua,” tutur Bandoro.
Sementara itu, Ketua ILUNI UI FIB Visna Vulovik menambahkan bahwa tahun ini menjadi tonggak penting dengan dilibatkannya juri internasional dari Malaysia dan Filipina, bersama juri nasional dari Indonesia. Hal ini menjadi langkah awal menuju visi IMAC sebagai festival film berskala global.
“Film bukan sekadar hiburan, tetapi juga medium untuk menyampaikan nilai dan membentuk perspektif. Melalui film, kita dapat mengenal jati diri bangsa, merefleksikan masa lalu, dan membayangkan masa depan. Kami berharap IMAC dapat terus menjadi ruang bagi sineas muda untuk berkarya dan berkembang,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ia juga menyampaikan rencana pengembangan IMAC ke depan, termasuk penyelenggaraan roadshow ke berbagai kota serta potensi ekspansi ke tingkat regional, seperti Malaysia, Filipina, hingga Thailand.
Juri Internasional, Yow Chong Lee dan Kristine de Leon menyampaikan apresiasi IMAC yang berkembang ke arah lebih baik setiap tahunnya. Mereka menekankan pentingnya resiliensi, tidak hanya bagi para pembuat film, tetapi juga bagi masyarakat dan negara dalam menghadapi berbagai isu global saat ini.
Mereka berpendapat, film festival yang dimulai dengan core value dan dimulai dengan langkah-langkah kecil namun selalu bertumbuh perlahan seperti IMAC, adalah sebuah contoh baik dan ideal di dunia film festival. Untuk itu, tema “Resiliensi” yang diangkat di tahun ini dinilai sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Resiliensi sangat penting tidak hanya bagi para pembuat film, tetapi juga bagi bangsa dan komunitas saat kita menghadapi berbagai tantangan saat ini.
Acara menayangkan 10 program film terbaik IMAC 2026, serta masterclass bersama Wahana Edukasi, Sony Indonesia, Dimas Bagus, dan Cianicolay, serta talkshow yang membahas tentang pembuatan film dan bedah karya penulis alumni UI.
Rangkaian ditutup dengan Awarding Day yang menjadi pengumuman pemenang festival film pendek IMAC 2026. Dari 212 film pendek dari 18 negara yang diikuti sineas dalam dan luar negeri, terpilih 8 pemenang.
Berikut pemenang dari berbagai kategori:
- Pemenang Film Camp:
Ngamplop
- Pemenang Kategori Student:
We Don’t Know The Title Yet
- Pemenang Kategori Documentary:
Birth date
- Pemenang Kategori Documentary Special Jury Mention: Talking to Family
- Pemenang Kategori International:
Nativity Scene
- Pemenang Kategori International Special Jury Mention:
The Night is Long and Its Yours Alone
- Pemenang Kategori Nation Film Winner :
The Night is Long and Its Yours Alone
- Pemenang Kategori Nation Special Jury Mention :
Apocalypse Mart. (Vin)
www.koranpelita.com Jernih, Mencintai Indonesia