Home / Profil / Menghadapi Ujian Sekolah Kehidupan

Menghadapi Ujian Sekolah Kehidupan

Renungan Jumat 

Oleh: Nana Sukmana

HIDUP adalah sekolah, belajar. Setiap belajar pasti ada evaluasi yang harus diikuti dan dijalani dengan cermat, teliti, sabar, dan tawakal. Dalam paradigma Islam, salah satu tujuan hidup manusia itu untuk mendapatkan gelar kemuliaan di sisi Allah yang ditandai dengan “ijazah takwa”. Siapa pun yang ingin memperoleh ijazah takwa dari sekolah kehidupan dengan yudicium cumlaude yang diberikan Allah Swt, maka harus mengikuti pembelajaran hidup dengan baik agar mampu mengikuti ujian dan dinyatakan lulus. Ujian dihadirkan oleh Allah untuk menguji kualitas hidup manusia, “Untuk menguji siapa di antara kalian yang beramal lebih baik”_(QS. Almulk/62:2).

Di antara materi uji yang diberikan Allah yaitu, “Sesungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. Albaqarah/2:155).

Hari ini, kita sedang diuji oleh Allah dengan bahan uji berupa ketakutan, kecemasan, dan ancaman keselamatan jiwa dari Corona Virus Disease (Covid)-19 yang mewabah di dunia. Bahkan rasa takut ini berdampak pula pada bahan uji lainnya berupa kekurangan harta dan makanan. Kebijakan social distancing yang diterapkan pemerintah telah mengubah pola kerja warga negara Indonesia dan membatasi ruang gerak, bukan hanya aktivitas sosial, melainkan aktivitas ekonomi pun menjadi terbatas. Hal ini tentu saja berkaitan dengan income dan peredaran keuangan, terutama bagi para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), seperti warung-warung, pedagang kaki lima, pedagang keliling, dan pedagang asongan.

Kebijakan membatasi ruang gerak secara tidak langsung telah berpengaruh pada keadaan keuangan keluarga sebagian besar masyarakat Indonesia. Akan tetapi, kebijakan ini harus disikapi dengan paradigma religius, harus ditafsirkan bahwa kebijakan ini bukan sebagai upaya penelantaran masyarakat, melainkan harus dipandang sebagai salah satu bahan uji dari Allah berupa kekurangan makanan (naqsim minal amwal) sebagaimana diisyararatkan QS Albaqarah ayat 155 di atas. Dengan demikian yang muncul bukanlah keluh-kesah, marah, dan ujaran kebencian yang mengagitasi masyarakat, terutama di ranah media sosial, melainkan sikap sabar yang dikolaborasi dengan rasa syukur plus tawakal kepada Allah sebagai gambaran dari jiwa yang sempurna (insan kamil).

Allah adalah Mahaguru Besar yang setiap saat akan selalu mengevaluasi sikap mental dan akidah manusia, dimulai dari ujian harian, ujian mingguan, ujian bulanan, ujian tahunan, dan ujian sekali seumur hidup. Tingkatannya pun tentu berbeda-beda, malai dari yang sangat ringan, ringan, sedang, berat, dan sangat berat tergantung siapa yang diujinya. Ujian sekolah yang diberikan pada siswa sekolah dasar tentu akan sangat berbeda dengan ujian dalam sidang doktoral. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin berat ujiannya; semakin tinggi tingkat keimanan dan ketakwaan, semakin berat pula ujian yang diberikan Allah.

Wabah Covid-19 jangan sampai menggelincirkan akidah, menggeser keyakinan kepada Allah sebagai Khaliq. Covid-19 dan virus lainnya seperti ebola, HIV/AIDS, H1N5, dan BC hanyalah makhluk yang menyebar dan menebar kesulitan kepada manusia dengan izin Allah. Islam mengajarkan umatnya agar tetap berpegang teguh pada akidah bahwa Allahlah yang mengatur semua pergerakan makhluk-Nya. Allah tidak pernah memberikan sebuah bencana, baik sebagai ujian bagi kaum beriman maupun hukuman bagi kaum yang ingkar, kecuali sebagai akibat dari perbuatan manusianya. Allah berfirman dalam Alquran, _“…Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.”(QS Albaqarah/2:61)

Wabah Covid-19 menyebar dan menebar malapetaka karena ulah manusia yang berlebihan _(israf)_, makan tidak teratur, mengonsumsi binatang haram dan menjijikkan, hidup tidak mengutamakan kebersihan sehingga agen-agen tersebut menjadi lahan menerbarnya virus. Padahal Islam selalu mengajarkan pola makan yang baik, makan makanan yang halal, bersih dan baik; minum jangan dari bejana, selalu cuci tangan sebelum makan, membersihkan tempat tidur setiap beranjak dari tempat tidur, menjaga diri agar tetap memiliki wudu, mandi minmal dua kali sehari. Allah sangat mencintai orang yang bertobat dan selalu bersih.

Allah tidak pernah mendatangkan keburukan bagi manusia, sebaimana firman-Nya, “Apa pun nikmat yang kamu peroleh, itu dari Allah, dan apa pun bencana yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS Annisa/4:79)

Beberapa hari lagi, Ramadan akan segera tiba. Kesabaran kita akan kembali diuji. Itulah sebabnya, mari sambut Ramadan dengan sukacita dan kita jalani SOP-nya dengan penuh kesabaran, ketakwaan, dan ketawakalan pada Allah. Hanya satu tujuan kita: lulus ujian dengan _yudicium cumlaude_, menyandang gelar Insan Mulia dengan bukti ijazah Paling Bertakwa.** (25/3/2020). (Penulis, Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung. Pembimbing Haji dan Umrah Sanabil Madina Barakah, Bandung. Ketua Forum Studi Islam Amifa Bandung. tulisan yang sama dimuat Pikiran Rakyat edisi Jumat Wage 3 April 2020)

About dwidjo -

Check Also

Idul Fithri, COVID-19 dan Kebangkitan Kaum Sufi Baru

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki Memasuki Idul Fithri 1441H di tengah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *