Jakarta, Koranpelita.com
Hj Siti Hardiyanti Rukmana prihatin kondisi masjid saat ini. Aneh banyak pihak menempatkan masjid menjadi sorotan, terkadang tuduhan tidak nyaman.
“Masjid menjadi tempat penyebaran terorisme, ini tuduhan tidak tepat,” katanya di Jakarta, Kamis 28 November 2019.
Mbak Tutut panggilan akrabnya bersama Prof Dr Email Salim hadir saat penyerahan penghargaan Masjid YAMP Terbaik 2019.
“Apalagi Masjid YAMP,” jauh dari terorisme, radikalisme dan intoleransisme. Masjid YAMP berdiri atas dasar semangat bangsa Indonesia yang toleransinya sangat tinggi.
Bangunannya mewarisi semangat perjuangan para pendahulu. Dari segi
arsitektur khas warisan Walisongo. Demikian juga halnya dengan semangat membangun, mengisi dan memakmurkannya.
Masjid YAMP lanjutnya diharapkan para pendirinya sebagai pusat peribadatan dan peradaban.
“Masjid jadi tempat yang aman dan nyaman, bagi siapa saja,” terangnya.
Pemberdayaan ekonomi, berhasil garis perjuangan tersebut.
Selain itu Madjid YAMP hendaknya menjadi motor penggerak ekonomi, pengurus agar jeli kembangkan peluang di sekitar masjid.
Di daerah terpencil Tutut memberi contoh banyak pohon kelapa. Masyarakat agar jeli melihat setiap peluang. Daun kelapa banyak dan tidak memiliki nilai ekonomis dapat diubah menjadi komoditas ekspor.
“Daun kelapa dikupas diambil lidinya, diubah sedikit menjadi sapu dan diekspor,” ujarnya. Saudi Arabia menerima sapu lidi dan eksportirnya sekarang menjadi kaya raya.
Di bagian lain Mbak Tutut menyampaikan apresiasi dan berbahagia bapak ibu yang sempat dipotong gajinya, amalnya sampai hari ini bahkan hari akhir kelak.
Pak Harto membangun masjid sebagai sarana ibadah, bukan uang negara tapi gerakkan muslim bersama, pegawai dan tentara ikut beramal bangun masjid.
Untuk itu Tutut minta keikhlasan para pegawai pemerintah yang dipotong gajinya. Hanya kecil sekali mulai Rp50 sampai Rp 500 dari pegawai golongan satu sampai menteri. (djo)
www.koranpelita.com Jernih, Mencintai Indonesia