Sumaryoto: Minimalisir Radikalisme Melalui Pendekatan Agama

Jakarta. Koranpelita.com

Radikalisme yang masih ada di Indonesia merupakan bagian dari kehidupan atau sikap seseorang dan itu juga tidak bisa dihilangkan.Benarkah?

“Radikalisme itu paling tidak dikurangi atau diminimalisirkan.Dianalogikan seperti pencuri diberantas, maka itu tidak bisa dilakukan, karena memang kodratnya begitu. Jadi, dalam diri manusia itu ada sisi baik dan buruknya. Juga ada jujur dan ada yang tidak, suka berbohong. Jadi, bagaimana kita meminimalisir,”ujar Prof Sumaryoto selaku Rektor Unindra kepada KORANPELITA.COM belum lama ini di Jakarta.

Menurut Prof Sumaryoto mengatakan radikalisme itu jangan dilawan dengan kekerasan. Nantinya bisa berdampak kontraproduktif.

“Yang tepat adalah dengan suatu pendekatan bagaimana meningkatkan kesadaran, “tuturnya.

Untuk itu, tambah Prof Sumaryoto yang paling tepat adalah pendekatan agama. Semisal di Unindra mata kuliah agama  diberikan dua semester. Alasannya, karena, selain untuk memperdalam subtansi kuliah, juga membekali akhlaq mahasiswa yang lebih baik.

“Alhasil dari mata kuliah agama itu, maka  disitulah kesempatan untuk mengikis sifat atau tindakan radikalisme.  Selain itu, meningkatkan kesadaran. Pendekatan agama itu cukup efektif,”terangnya.

Dikatakan Sumaryoto pendekatan agama yang terus menerus dan konsisten bisa merubah sikap mahasiswa kearah yang lebih baik dalam hal radikalisme.

“Merubahnya tentu membutuhkan waktu, tapi paling tidak mereka dengan disadarkan dan diberikan pemahaman. Ditambah lagi dengan siraman iman, rohani, saya kira bisa berhasil dalam batas tertentu, “urainya.

Lebih lanjut Sumaryoto mengatakan radikalisme menjadi fenomena terutama  diperguruan tinggi, kata dia, itu didasari dengan sikap yang ekstrim jadi tidak moderat. Sikap ini dimiliki oleh setiap orang, hanya kadarnya yang beda beda.

“Jadi, kalau ada stimulusnya karena yang muncul sekarang begitu, seperti  sifat jahat. Lagi pula setiap orang punya sifat baik juga, namun tergantung stimulusnya. Nanti kalau stimulusnya baik maka orang juga menjadi baik termasuk radikalisme. Kalau stimulusnya memang mengarah kesana, radikalisme terungkap dan potensinya lebih tinggi,” imbuhnya.

Menurut Sumaryoto jika stimulusnya meniadakan, seperti materi agama dengan pendekatan maka sehebat apapun, sebesar apapun secara perlahan bisa dikurangi.

“Sebetulnya dari sisi pendidikan dan yang perlu dikaji dan ditinjau kembali itu adalah materi pembelajaran agama. Pembelajaran  agama sebetulnya, terutama disekolah pada tingkat SD sampai Perguruan Tinggi itu penting sekali,”terangnya.

Menurutnya sebenarnya juga bukan hanya pembelajaran agama saja, namun pembelajaran umum pun ditambah tujuannya, dengan bekal agama dan umum itu lalu dipraktekkan, dibina secara akhlaq, maka menurutnya anak-anak ini punya benteng.

“Memiliki benteng agama, kelak semakin dewasa mereka bisa memfilter mana yang baik dan mana yang buruk. Paling tidak sejak dini, usia sekolah mereka harus punya benteng dulu. Paling tidak sudah terlatih, sudah dibiasakan dan dibawa kealam yang lebih baik,”ungkapnya.

Dikatakan Prof Sumaryoto jadi kalau disikan agamanya kurang, maka rentan kalau dimasuki pengaruh pengaruh dari luar. Untuk membentenginya, anak-anak harus terus dipompa diberikan pengetahuan dengan agama bukan dari Full Day Schoolnya, bukan. Itu pembinaan dari sisi agama.

“Pendidikan pesantren juga sangat menunjang mereka jauh dari sifat radikal. Jika anak-anak ini jenuh dengan pembelajaran disekolah maka mereka diajak kealam yang berbeda. Hal itu dalam rangka pembinaan untuk mengikis sifat radikalisme,”ungkapnya.

Disinggung tentang serangan terorisme ditujukan kepada kepolisian tambah Prof Sumaryoto karena akibat tindakan represif dari aparat terhadap mereka yang radikal, itu tindakan tidak menyelesaikan persoalan. Seharusnya kekerasan itu tidak dilawan dengan kekerasan. Kekerasan dilawan dengan lentur, sehingga mereka yang melakukan perlawanan itu kalah sendiri.

“Hadapi mereka dengan penuh kesabaran, fleksibel, itu mereka akan berpikir juga. Kalau dilawan dengan keras malah persoalan semakin berat. Namun dengan kesabaran itu mungkin mereka malu atau mengubah sendiri sifatnya,”imbuhnya.

“Menurut saya itu lebih berhasil dari pada yang harus proses normatif. Malah tidak bisa. Tapi dengan keluwesan, kesabaran itu bisa melawan Radikal,”ungkapnya.

Menurut Prof Sumaryoto jika sasaran radikalisme itu hanya ditujukan pada aparat keamanan, dia mengistilahkan, seperti seorang petani menanam dan lalu memetik hasilnya. Kalau seseorang menanamnya padi maka akan keluar, berbuah padi pula. Kalau  menanam pisang maka buah yang keluar adalah pisang. Tidak mungkin seseorang menanam pisang, maka buah yang keluar adalah padi, ibaratnya kan begitu.

Artinya kalau kita menanam kebaikan maka akan berbuah kebaikan pula itu saja. Kalau menanam kurang baik maka berbuahnya kurang baik. Nah ini juga menjadi suatu pembelajaran bagi aparat, bagaiamana menghadapi orang berpaham radikalisme.

“Sekali lagi, penanganan radikalisme menurut saya harus dibenahi dari semua lini, baik dirumah, disekolah dan dimana pun jangan sampai vakum. Vakum bisa masuk paham radikalisme. Tetap ada pengawasan terutama pada anak-anak karena perkebangannya masih labil, ” tandasnya.(han)

About dwidjo -

Check Also

Hero Luncurkan Rumah Belajar Online

Tangerang Selatan, Koranpelita.com Pandemi COVID-19 yang belum kunjung selesai membuat Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Provinsi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *