Film Perasuk Kisah Pemuda Desa Yang Ambisi Menjadi Pemimpin Ritual Sambetan

Jakarta, Koranpelita.com

Film  Para Perasuk mengisahkan Bayu (Angga Yunanda), seorang pemuda di Desa Latas yang berambisi menjadi pemimpin ritual”sambetan” (kerasukan) untuk menyelamatkan sumber mata air desa dari penggusuran. Film drama supernatural ini berfokus pada konflik batin, obsesi, dan tradisi unik pesta kerasukan sebagai pelarian dari realita.

Selain itu, film ini juga mengangkat kisah yang berakar dari tradisi lokal yang hidup di tengah masyarakat dan memiliki makna lebih dalam dari sekadar ritual.

Cerita berawal di Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota yang dikenal dengan pesta kerasukan. Warga terbiasa dengan “pesta sambetan” di mana mereka kerasukan roh hewan, menjadikannya hiburan sekaligus pelarian dari kehidupan nyata.

Mata air desa yang menjadi sumber roh terancam digusur perusahaan. Bayu, seorang mantan manusia silver, bertekad menjadi “Perasuk” utama untuk mengumpulkan dana demi menebus mata air tersebut.

Bayu harus bersaing dalam sayembara melawan sahabat karibnya, Pawit (Chicco Kurniawan), dan Ananto (Bryan Domani).

Cerita mengeksplorasi obsesi, ketakutan, trauma, dan sisi kelam manusia, di mana kerasukan bukan sekadar supranatural, melainkan simbolis.

Jajaran cast dan crew Film Para Perasuk saat Press Screening & Press Conference, XXI Epicemtrum, Selasa (14/4/2026). (Foto : dok KP)

Film yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 23 April 2026 ini disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, dan diproduseri oleh Siera Tamihardja, Iman Usman, dan Amalia Fitriani Rusdi. Mereka berhasil menggandeng nama-nama besar buat ikut main di Para Perasuk.

Seperti, Maudy Ayunda sebagai Laksmi, Angga Yunanda sebagai Bayu, Bryan Domani sebagai Ananto, Chicco Kurniawan sebagai Pawit, Indra Birowo sebagai Bapak Bayu, Ganindra Bimo sebagai Fahri dan Anggun C. Sasmi sebagai Guru Asri.

Para Perasuk juga merupakan proyek kolaborasi internasional. Film ini melibatkan rumah produksi dari Singapura, Momo Film Co. Dan nantinya, film ini bakal punya judul internasional Levitating.

Kisah di Para Perasuk cukup unik dan misterius. Film ini mengangkat cerita tentang sebuah desa di mana masyarakatnya punya kebiasaan aneh.

Mereka anggap kerasukan roh sebagai sumber kebahagiaan dan kesenangan bersama. Kebahagiaan buat mereka bukan cuma dari hal yang terlihat, tapi juga dari yang nggak kasat mata.

Film ketiga besutan Wregas pengen cerita soal fenomena di masyarakat yang menjadikan hal supranatural, kayak pesta kerasukan, sebagai cara buat kabur sejenak dari realita dan nyari kebahagiaan.

Menurut mereka, kebahagiaan nggak cuma dari benda fisik, tapi juga dari yang nggak terlihat dan dianggap hidup berdampingan sama mereka.

Di tengah cerita, muncul seorang pria bernama Bayu yang pengen banget jadi perasuk dalam upacara pesta kerasukan massal. Tapi ternyata, dia juga jadi tokoh penting yang harus ngadepin krisis besar yang mengancam desanya.

Tantangan baru Anggun C Sasmi

Fakta menariknya, ini pertama kalinya penyanyi Anggun C Sasmi bermain di layar lebar. Anggun memerankan tokoh utama bernama Guru Asri dalam film bergenre drama-psikologis ini.

“Saya sangat gugup (“deg-degan”) dan merasa sebagai pendatang baru di dunia seni peran, meskipun sudah lama sukses sebagai penyanyi. Ini tantangan baru buat saya, dimana harus beradaptasi dengan ritme kerja syuting yang melelahkan, berbeda dengan industri musik, dan menantang kemampuannya dalam seni peran,” ujarnya dalam Press Screening & Press Conference, XXI Epicemtrum, Selasa (14/4/2026).

Wregas Bhanuteja mengungkap bahwa naskah film ini berakar dari pengalaman pribadinya bersama sang adik yang memiliki kemampuan paranormal. Kenangan masa kecil ini menjadi fondasi kuat dalam membangun atmosfer mistis dalam film.

Kisah bermula saat adiknya mengaku melihat dan menemani sosok roh kucing putih di loteng rumah mereka. Keberadaan makhluk tak kasat mata tersebut kemudian divalidasi oleh paman Wregas yang juga seorang paranormal, sehingga membentuk perspektif Wregas terhadap dunia supranatural.

Seiring waktu, sang adik menjadi semakin aktif mencari dan membawa pulang berbagai entitas roh lainnya. Aktivitas itu sempat memicu kekhawatiran keluarga karena rumah mereka menjadi penuh dengan energi dari dimensi lain yang tidak biasa.

Wregas juga menjelaskan bahwa fokus utama film ini adalah potret emosional seseorang yang terjebak dalam mimpinya sendiri. “Film ini bukan film horor ya, karena saya sendiri penakut. Film ini tentang obsesi manusia,” katanya.

Para pemain film ini melakukan riset mendalam untuk memastikan penggambaran fenomena kerasukan terlihat sangat nyata dan natural. Wregas sangat menekankan pada aspek visual dan audio untuk memberikan pengalaman menonton yang imersif bagi penonton. (Vin)

About ervin nur astuti

Check Also

Rapi Films Rilis Teaser Trailer Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan: Kisah “Kehilangan” Paling Menyakitkan dalam Sebuah Keluarga

Jakarta, Koranpelita.com Bagaimana bila orang yang paling kamu cintai mulai melupakanmu? Pertanyaan emosional inilah yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertanyaan Keamanan *Batas waktu terlampaui. Harap selesaikan captcha sekali lagi.

Eksplorasi konten lain dari www.koranpelita.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca