Jakarta, Koranpelita.com
Rumah produksi Dunia Mencekam Studio bersama Santara resmi menggelar gala premiere film horor “Songko” di Metropole XXI, Senin (13/4/2026). Legenda lama kembali hidup dan membawa teror yang tak terbayangkan. Berlatar tahun 1986, kisah sebuah desa di Tomohon yang tiba-tiba dilanda teror.
Trailer Songko dibuka dengan suasana desa yang perlahan berubah menjadi penuh ketakutan. Warga mulai menemukan perempuan-perempuan muda tewas secara mengenaskan, sementara bisikan tentang makhluk bernama Songko mulai menyebar dari mulut ke mulut.
Film Songko, yang diangkat dari legenda masyarakat Minahasa, menghadirkan kisah kelam tentang ketakutan, tuduhan, dan kehancuran sebuah desa akibat kemunculan makhluk misterius yang mengincar darah suci perempuan muda.
Salah satu keunikan produksi Songko terletak pada pembangunan set yang dilakukan secara khusus di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Dari area yang sebelumnya masih kosong, tim produksi membangun sebuah desa lengkap sebagai lokasi utama cerita. Tidak hanya digunakan selama proses syuting, set tersebut hingga kini masih berdiri dan bahkan kerap dikunjungi oleh masyarakat yang penasaran, menjadi spot foto yang menarik sekaligus meninggalkan jejak nyata dari produksi film ini.

Salah satu adegan film SONGKO
Selain itu, komitmen terhadap keaslian juga terlihat dari keterlibatan talenta lokal. Hampir enam puluh persen cast dan crew dalam film ini merupakan putra-putri Manado dan sekitarnya, menjadikan Songko sebagai ruang kolaborasi yang kuat antara sineas nasional dan kreator daerah.
Dalam proses riset, Santara juga melakukan pendekatan yang mendalam. Produser kreatif Santara, Avandrio Yusuf, terlibat langsung dalam menggali akar cerita dengan melakukan wawancara kepada kepala adat, warga Tomohon, serta masyarakat Manado. Riset ini dilakukan untuk menentukan arah kreatif film, mulai dari visual sosok Songko, desain wardrobe, gaya bahasa, hingga atmosfer desa yang ditampilkan dalam film.
Pendekatan tersebut membuat Songko tidak hanya tampil sebagai film horor, tetapi juga sebagai representasi budaya yang kuat dan autentik.
Lebih dari itu, Santara juga didirikan sebagai sebuah ruang kreatif (creative playground) bagi talenta-talenta baru di industri storytelling. Santara membuka ruang bagi para kreator untuk berkarya secara bebas, dengan proses yang kolaboratif,menyenangkan, dan minim batasan khususnya dalam eksplorasi audio dan visual. Inisiatif ini diharapkan dapat melahirkan karya-karya segar dengan pendekatan yang lebih berani dan autentik.
Eksekutif Produser Santara, Whisnu Baker, menambahkan bahwa Songko merupakan bagian dari visi untuk mengangkat cerita-cerita daerah yang selama ini jarang tereksplorasi.“Kami ingin membawa cerita lokal ke level yang lebih luas, tapi tetap dengan keaslian yang kuat. Dengan melibatkan talenta dari daerah asalnya, kami berharap cerita ini terasa lebih hidup dan memiliki identitas yang kuat,” jelas Whisnu.
Sosok yang diyakini mengincar darah suci perempuan muda demi kekekalan itu perlahan mengubah desa yang tenang menjadi tempat yang dipenuhi kecurigaan, tuduhan, dan teror.
Ketegangan demi ketegangan diperlihatkan dalam potongan-potongan adegan dalam film ini. Wajah-wajah ketakutan para warga yang dipenuhi rasa takut, konflik antar keluarga yang mulai pecah hingga kemunculan sosok misterius yang diyakini sebagai Songko.

Film Songko disutradarai oleh Gerald Mamahit, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis skenario film-film populer seperti KKN di Desa Penari, Sosok Ketiga, dan Toghut.
Songko menjadi debut Gerald Mamahit sebagai sutradara layar lebar. Dibintangi oleh Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak, film Songko dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026.
Sutradara Gerald Mamahit mengungkapkan bahwa film ini bukan hanya tentang menghadirkan rasa takut, tetapi juga tentang menggali sisi gelap manusia saat dilanda teror.
“Yang membuat Songko terasa berbeda adalah bagaimana ketakutan itu berkembang. Bukan hanya dari makhluknya, tapi dari manusia yang mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain. Itu yang kami coba hadirkan horor yang terasa dekat dan nyata,” ujar Gerald.
Bagi Annette Edoarda, pengalaman menonton kembali film ini di gala premiere justru menghadirkan rasa tegang yang berbeda.“Waktu syuting, kami sudah merasakan atmosfer yang berat. Tapi saat menonton di layar lebar bersama penonton lain, rasanya jauh lebih intens. Ada momen-momen yang bahkan membuat saya sendiri ikut merinding,” ungkap Annette.
Sementara itu, Imelda Therinne menyoroti sisi psikologis yang membuat film ini terasa semakin mencekam.“Horor di Songko bukan hanya soal sosoknya, tapi bagaimana ketakutan itu menyebar dan memecah hubungan antar manusia. Itu yang menurut saya membuat film ini terasa lebih dalam dan menegangkan,” kata Imelda.
Setelah Jakarta, rangkaian gala premiere Songko akan berlanjut ke Manado, sebagai bentuk penghormatan terhadap asal-usul cerita yang menjadi inspirasi film ini. Kehadiran film ini di tanah Minahasa diharapkan dapat menghadirkan pengalaman yang lebih personal bagi masyarakat yang telah lama mengenal legenda tersebut. (Vin)
www.koranpelita.com Jernih, Mencintai Indonesia