NKS Menulis Reuni ITB: Katanya, Menulis itu Mudah

Sudah. Kelas menulis dimulai. Dan, hari pertama terlewati. Namanya pemanasan. Jadi, pasti mentor manas-manasi kami sebagai siswanya: betapa menulis itu mudah dan indah.

Lalu, di pertemuan berikutnya, para mentor memberikan materi tentang menggali ide. Ini memang sering menjadi persoalan bagi penulis. Sebab, jika menyebut kata ide yang segera tergambar adalah hal-hal besar.  Padahal, sesuatu yang kecil, bersahaja, serta ndeso, bisa menjadi ide yang menarik.

Mentor-mentor kami itu, selanjutnya, meneror kami dengan kata-kata ajaib bahwa setiap peristiwa dan setiap rasa, bisa jadi cerita. Ia seolah ingin menyadarkan bahwa hidup yang sudah kita melewati, adalah sumur tanpa dasar untuk menggali gagasan.

Tapi persoalan berikutnya datang. Saya merasa, ada problematika yang rumit, oleh banyaknya peristiwa dalam hidup.  Jika dirunut, hingga usia setengah abad, berapa juta peristiwa pernah saya alami. Lalu yang mana yang harus ditulis?  Belum lagi peristiwa yang luput dari ingatan.

Beruntung, mentor kami termasuk tipe guru yang sabaran. Kami dituntun pelan-pelan. Caranya, peserta kelas menulis diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan. Pertanyaan itu adalah apa kejadian yang menarik itu, bagamana dapat terjadi, kapan terjadinya, dimana terjadinya, dan siapa saja yang terlibat.

Pertemuan selanjutnya, lebih seru. Kelas menulis kian miris. Soalnya, mulai ada istilah-istilah yang aneh-aneh. Ada premis dan tujuan. Dalam hal penulisan, premis bisa diartikan sebagai acuan untuk menulis yang berlogika.

Sementara itu, tujuan pembuatan premis adalah sebagai panduan penulis dapat menulis sampai selesai.

Ternyata menulis yang baik itu laksana menu makanan lengkap. Mesti ada pembuka, hidangan utama, dan penutup.

Setelah semua terhidang, penulis masih harus memikirkan klimaks cerita. Lalu kapan klimaks ini dicipta? Jawabnya adalah sebelum akhir cerita. Di sanalah kita letakan kejutan, titik balik keadaan tokoh, atau yang paling sesuatu dari keadaan itu.

Selain diajari bagaimana membangun sebuah cerita, para calon penulis antologi ini diingatkan tentang apa yang mesti ada dalam sebuah kalimat. Apa itu? Tentang pelajaran yang kita peroleh dari sekolah dasar dahulu.  Terkadang kita sudah lupa bahwa kalimat mesti minimal ada subyek dan predikat. Atau jika lebih lengkap lagi perlu ditambah dengan obyek dan keterangan (S-P-O-K).

Teori tanpa praktik sejatinya hanyalah ilmu omong kosong. Maka, lagi-lagi mentor meneror siswanya dengan tugas-tugas dan target penyerahan yang jelas.  Tentu saja tugas utama yang mesti diselesaikan adalah menulis cerita inspiratif sebisa mungkin yang dialami penulis.  Hal yang tidak mudah adalah tulisan tidak boleh melebihi batasan tiga halaman dengan spasi 1,5.

Saat sudah terlalu asyik menulis, tiga halaman ternyata tak cukup untuk bercerita hingga klimaks. Namun, para penulis mesti mematuhi aturan ini agar  tebal buku antologi ideal.

Waktu untuk mengumpulkan tugas menulis tak lebih dari seminggu. Rasanya sangat cukup bagi yang terbiasa menyusun kata-kata. Apalagi hanya untuk tak lebih dari tiga halaman ukuran A4. Tapi, untuk saya yang baru diajari menulis dengan benar, tentu menjadi perkara tersendiri.

Setelah tulisan terkumpul, mentor melakukan koreksi dan memberi masukan untuk perbaikan tulisan. Melalui zoom meeting, dengan sabar mentor coaching satu per satu anak muridnya. Lantas, hasil reviu mentor itu diberikan untuk selanjutnya dilakukan pembetulan.

Yang tak kalah seru adalah menentukan judul buku dan cover buku.  Beberapa peserta memberikan masukan untuk judul dan cover buku lalu dilakukan semacam pungutan suara untuk menentukannya.

Seperti saya prediksi, tidak semua peserta kelas menulis yang berjumlah 35 orang ini dapat menyelesaikan tugasnya. Namun, target tulisan tetap tak berubah sesuai dengan tema reuni 35 tahun. Untungnya, ada dua dewa penyelamat yang mau menyumbangkan tulisan lebih dari satu.

Saya percaya dua peserta yang tak dapat menuntaskan tugas, bukan lantaran menulis itu tak gampang. Bukan pula kesulitan mendapatkan ide penulisan tapi lebih pada alasan kesibukan pekerjaan. Yakinlah, setiap peristiwa dan rasa bisa jadi cerita.

Akhirnya, jadilah buku antologi berjudul Limitless 35 Kisah Inspiratif Alumni ITB 87. Tentu ada rasa bangga saat melihat nama saya tercantum dalam deretan penyumbang tulisan. Dan, ini sebuah rasa dan peristiwa besar buat saya sehingga saya membuat cerita dalam tulisan yang anda baca. (tamat)

 

Salam NKS

About NKS

Check Also

BEM USM Bincang Asyik Bahas Core Values dengan HATI

Semarang,koranpelita.com Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Semarang (BEM USM) menggelar diskusi dengan tajuk “ Bincang Asyik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *