NKS Menulis Sobat Agni: Lillah Mencintai Indonesia

Serius. Saya perlu waktu cukup lama untuk bisa menyelesaikan tulisan ini. Bahkan sampai harus menyeberang tahun. Entahlah. Padahal tulisan ini sejatinya lanjutan dari sebelumnya. Saya sadar jika saya belum banyak berkontribusi untuk negeri ini apalagi jika dibilang berbakti.

Ini tentang Sobat Agni. Benar. Walau hanya lewat layar komputer, namun  saya melihat semangat peraih beasiswa LPDP angkatan 166 menyala. Itulah mengapa mereka menyebut dirinya Ekasatya Agnibrata.

Kata ekasatya mengandung arti satu kejujuran, satu kesetiaan, satu kebenaran. Sementara agnibrata bermakna keinginan berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang aktif dan mempunyai jejaring pertemanan yang luas. Agnibrata boleh pula diartikan sebagai tingkah laku yang hangat.

Maka Ekasatya Agnibrata jelas sebuah nama angkatan yang sangat indah sarat makna.

Setelah saya dikenalkan dengan dibacakan riwayat hidup oleh moderator, saya bercerita bagaimana NKS kecil hidup dalam kesederhanaan jika tidak mau dibilang berkekurangan. Meskipun demikian, semangat belajar menyala tanpa pernah redup.

Terlebih lagi ketika sebuah perguruan tinggi papan atas menerima anak desa ini sebagai mahasiswa. Jalan mengubah kehidupan menjadi kian terbuka termasuk mendapat beasiswa negara untuk belajar di manca negara. Inilah modal besar dan salah satu alasan untuk mengabdi dan berbakti pada negeri.

Tulisan sebelumnya sudah mengupas tentang perjuangan dan perjalanan meniti tangga demi tangga kehidupan. Berbagi cerita berlanjut pada esensi anak negeri mengapa wajib mencintai tanah air dan bagaimana cara dan bentuk cinta bakti kepada negeri.

Dalam mengupas cinta negeri, saya mencoba mengaitkan pada tanah leluhur, tanah tempat orang tua lahir hingga dikubur.

Sumarjono bersama Pak Supangkat Riyanto sahabat saat SMP sekaligus pemilik RM Ayam Goreng Bu Hartin serta Bu Sofie, Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kulon Progo.

Lahir di Nganjir, tentu saja saya sangat ndeso. Juga kurang akses informasi pada saat itu. Tapi enaknya, dekat dengan alam. Kehidupan sosial juga menyenangkan. Akrab dalam kesederhanaan.

Makanan khas kampung membuat betah. Kegiatan olahraga yang serba tanpa fasilitas, memberi tempaan diri. Sementara kesenian seperti wayang, ketoprak, jathilan, menjadi menu wajib yang kelak kemudian hari memberi rasa kangen tersendiri.

Ketika harus meninggalkan dusun Nganjir untuk sekolah di Bandung, yang terbayang selalu Bapak Simbok, lengkap dengan masakannya yang lezat tak tertandingi.

Rindu Kulon Progo dengan kesederhanaannya itu sangat nyata. Saya mensyukuri ada rasa rindu yang bisa saya artikan bahwa tak sekadar rindu yang menggebu. Ini tentang cinta yang tumbuh berkembang pada kampung halaman. Tanah wutah getih, tanah tumpah darah, tempat saya dilahirkan.

Kepada sobat Agni, saya sampaikan bahwa terlalu banyak hal yang bisa menjadi alasan, sehingga kita harus cintai tanah kelahiran. Diawali dengan mencintai kampung halamanyang telah memberi hidup melalui orangtua dengan kasih sayangnya.

Tak bisa dipungkiri, dusun Nganjir di Kabupaten Kulon Progo adalah sebuah tempat menempa diri. Tempat diajari unggah-ungguh, tata krama saat menerima tamu, berbicara dengan yang lebih tua, dan keahlian yang menjadi bekal untuk bisa mengarungi hidup.

Di Nganjir pula diajari  berani bersaing, menyikapi kegagalan, menerima takdir, dan banyak lagi. Kampung halaman pun biasanya menyediakan ruang untuk mengenal cinta pertama, patah hati, dan bagaimana bangkit kembali.

Bersama Pak Diddi Siswadi

Dengan banyak hal yang didapat dari tanah kelahiran, masihkah akan bertanya apa yang diberikan oleh negeri ini kepada kita? Tidakkah seharusnya balik bertanya apa yang sudah diperbuat bagi tanah tumpah darah yang telah memberi cerita indah?

Saya menggunakan Kulon Progo sebagai contoh dari bagian negeri bernama Indonesia. Di saat saya sekolah di luar negeri dan tinggal di host family, tentu bukan Kulon Progo lagi yang saya bicarakan. Melainkan, gambaran keindahan Indonesia dengan berbagai pulau, adat istiadat, budaya, makanan, dan bahasa yang berbeda-beda.

Merawat dan mencintai budaya menjadi salah satu cara mencintai negeri ini. Mungkin saya terlambat menjadi orang Jawa yang dalam acara tertentu mengenakan surjan, blangkon, dan keris sebagai asesoris. Saya merasa gagah dengan berpakaian seperti ini dan merasa inilah saya yang orang Jawa.

Tentu ini bukan berarti saya tidak mencintai budaya Indonesia lainnya. Saya kagum dan menikmati semua budaya yang dimiliki Indonesia, tari atau batik misalnya.

Sobat Agni sudah barang tentu, tidak saja cerdas namun jelas pinilih dari ribuan pelamar untuk mendapatkan beasiswa LPDP. Maka sebuah tantangan saya tawarkan untuk membangkitkan rasa kebanggaan sekaligus kemauan memajukan Indonesia.

Jika negeri kita masih banyak yang masih perlu diperbaiki, haruskah kemudian kita berpindah negeri? Saya lalu teringat seorang rekan memilih pindah ke negara maju dengan alasan menentang orde baru saat itu.

Atau dalam skala kecil, beberapa rekan seperti punya hobi mengungkapkan rasa kecewa dan mengkritisi sebuah organisasi profesi. Satu contoh lagi, di sebuah institusi, beberapa karyawan memilih keluar karena menilai tak sesuai dengan tuntunan agama yang dianutnya (tak ada pilihan program dari institusi sesuai dengan yang diyakini).

Tapi sesungguhnya, pindah negeri, hanya mengkritis organisasi profesi, atau keluar dari institusi, bukan langkah seorang pemenang. Mereka hanya lari dari kenyataan dan takut berjuang, layaknya pecundang.

Yang saya ingin sampaikan bahwa kalau ingin ada perubahan ke arah yang lebih baik, mari mulai dari kita. Apalagi saat kita berada dalam sistem yang ada. Pada saat kita ada di dalam negeri, organisasi, atau institusi, kita akan lebih mudah mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Saat kita di luar sistem, upaya kita akan jauh lebih tak mudah.

Saat kita jauh dari negeri sendiri dan mendengar atau menyanyikan lagu Bagimu Negeri, jiwa dan raga kita bergetar jika sadar memaknai liriknya. Sobat Agni dan kita semua sepatutnya mencintai negeri dengan sepenuh hati, berbakti dan mengabdi bukan karena pamrih. Negeri ini sudah banyak memberi.

Di akhir sharing, saya diminta untuk membuat quote yang diharapkan menyemangati para Sobat Agni, calon pemimpin bangsa ini, yang sedang berjuang menimba ilmu. Sepertinya panitia tahu jika saya sedang senang membuat quote dan berharap nantinya mencapai seribu quote. Jadilah, satu quote yang relevan untuk Sobat Agni tercipta.

“jangan pernah lelah dalam mencintai Indonesia, tapi katakan aku Lillah mencintai Indonesia”

Salam NKS

About NKS

Check Also

Bantahan Keras KLHK Soal Tudingan Obral Izin di Era Jokowi

Jakarta, Koranpelita.com Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membantah keras tudingan beberapa pihak tentang perihal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *