Hikmah di Tengah Wabah

Tahun 2020 berlalu. Ada kesedihan yang tertinggal. Juga kegundahan, karena memasuki tahun baru, dengan ancaman pandemi yang belum berakhir.

Setahun lalu, kita semua masih ingat, awal 2020 yang kita sambut dengan semangat menggelora ternyata menjadi kegalauan ketika memasuki triwulan pertama. Setelah itu, hampir 10 bulan berakhir dengan berbagai pembatasan dan keterbatasan sehingga kira lebih banyak “dirumahkan” karena adanya pandemi Covid 19.

Tapi siaran pers Menteri Kesehatan yang baru mengenai rencana tahapan pemberian vaksin, memberikan harapan kondisi tahun 2021 menjadi lebih baik.

Beberapa hari yang lalu di saat menanti kedatangan cucu, saya dikejutkan oleh kiriman buku dari Ratih, sahabat saya. Sebuah buku yang ditulis oleh Ratih sendiri.

Saya teringat beberapa bulan sebelumnya diminta untuk memberikan ucapan selamat memasuki purna tugas bagi Ratih Arti, sahabat saya yang  juga merupakan teman seangkatan. Setelah pensiun rupanya Ratih mengikuti kelompok penulis “Emak Emak Punya Karya”.

Menarik juga karena mempunyai tempat dan teman untuk berbagi pengalaman dan ide menulis sesuatu yang menjadi perhatian. Sebelumnya, Nita, teman saya jalan sudah lebih dulu pensiun dan kemudian kembali bekerja di bidang yang berbeda.

Tak terasa waktu terus berjalan. Satu persatu teman serta sahabat memasuki usia pensiun. Semua itu, seperti mengingatkan saya bahwa tak lama lagi, karena hanya sembilan bulan kedepan, akan tiba giliran saya memasuki masa pensiun.

Tentu harapannya dapat menikmati masa pensiun dengan bahagia, sebagaimana doa dan harapan yang saya sampaikan ketika melepas sahabat yang memasuki purna tugas. Saat memikirkan hal itu, ada keinginan masa itu segera tiba sehingga bisa mempunyai banyak waktu untuk menikmati dan memanjakan diri sendiri.

Namun kadang juga muncul rasa was was, apakah nanti mampu mengisi masa pensiun dengan bahagia?

Saat kita bekerja, sudah terbiasa dengan kesibukan yang menguras waktu dan pikiran. Kemudian saat pensiun nanti banyak waktu yang dimiliki tanpa dikejar-kejar deadline menyelesaikan pekerjaan. Ada teman yang mengatakan bahwa sebagai pensiunan enaknya hanya bulan pertama, selanjutnya terasa bosan.

Mungkin menjadi bosan karena tidak mempunyai kesibukan atau tidak ada aktivitas apalagi tidak ada teman untuk melakukan kegiatan yang disukai. Selain itu, dari sisi penghasilan juga sudah berkurang. Membayangkan hal itu membuat saya jadi kepikiran, karena yang masih kerja ingin cepat cepat pensiun, sementara yang sudah pensiun  justru ingin mencari kesibukan lagi.

Kekhawatiran itu muncul bila nanti tidak mampu mengisi masa pensiun dengan efektif kemudian merasakan kebosanan. Pasti impian semua orang adalah menikmati pensiun dengan sehat, sejahtera, dan bahagia.

Nah ini yang kebanyakan dari kita melupakan persiapan memasuki kehidupan sebagai pensiunan. Tentu jauh-jauh hari kita sudah harus menyiapkan dana yang cukup untuk masa pensiun agar tetap sejahtera. Upayakan menjadi pensiunan yang mandiri, tidak membebani anak cucu kita. Bisa dengan mengikuti program Jaminan Hari Tua melalui BP Jamsostek atau Dana Pensiun Lembaga Keuangan sejak dini, dimana iurannya bisa diatur sesuai kemampuan keuangan kita.

Selain itu, tentu harus menjaga kesehatan dengan rajin berolah raga dan bila mampu ditambah mempunyai asuransi kesehatan untuk menutup biaya perawatan apabila sakit. Selanjutnya, kita tinggal mengisi waktu dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan dan syukur syukur bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Tujuannya tentu supaya kita tidak menjadi pikun karena otak tetap dilatih dengan adanya berbagai aktivitas.

Mengingat beberapa bulan lagi akan menjadi pensiunan, mulailah saya merencanakan beberapa kegiatan yang akan dilakukan saat pensiun. Dimana kegiatan itu sulit terwujud saat masih aktif bekerja, seperti menikmati naik kereta api ke beberapa kota di Jawa dengan diskon khusus bagi pensiunan atau mengunjungi beberapa daerah wisata di Indonesia yang belum pernah dilihat sampai belajar membatik dan karawitan.

Tentu tak ketinggalan menikmati hobby menyelam melihat keindahan biodata laut Indonesia sambil jalan bersama cucu cucu tercinta sekaligus memberikan Literasi Keuangan dengan bahasa yang mudah dipahami bagi anak nelayan.

Saya merasakan ada hikmah dibalik pandemi covid ini. Karena dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar dan Adab Kebiasaan Baru dimana sebagian besar aktifitas pekerjaan dilakukan dari rumah, seolah saya dikondisikan untuk memasuki Masa Persiapan Pensiun.

Tanpa disadari saya terlatih melakukan kesibukan di rumah tanpa perlu mengalami “syok culture” karena tidak lagi ke kantor setiap hari. Saya juga mempunyai waktu untuk olah raga ringan dan berjemur mencari vitamin D gratis di pagi hari. Selain itu, pandemi covid membuat saya belajar melakukan komunikasi virtual sehingga memperlancar penyelesaian pekerjaan tanpa harus bertemu secara fisik.

Kita tidak tahu kapan dunia terbebas dari wabah covid 19 ini. Bisa juga saat pensiun nanti masih belum aman untuk jalan jalan sehingga berbagai aktivitas yang telah saya impikan tak dapat segera terlaksana.

Tentu saya harus menyiapkan rencana lain yang menarik. Salah satunya adalah ikut mengelola kebun organik Soka dan sanggar pedalangan Mahening Budhi di Samigaluh Kulon Progo. Sudah terbayang nikmatnya menghirup udara yang bersih dan melihat bintang di langit diselingi suara serangga yang menyapa malam.

Ternyata banyak juga kegiatan yang ingin saya lakukan saat pensiun nanti. Tentunya saya berharap selalu sehat, bisa bertemu teman teman yang memiliki visi yang sama sehingga lebih semangat dan bersyukur dalam setiap kegiatan yang dilakukan.

Mari kita persiapkan masa pensiun sejak awal supaya bisa  menikmatinya dengan sehat semangat sejahtera dan tentu bahagia. Selamat Tahun Baru 2021, semoga dengan hadirnya vaksin covid 19, kondisi ke depan lebih baik dan kita semua sehat serta dalam lindungan Allah SWT.(*)

About NKS

Check Also

Bantahan Keras KLHK Soal Tudingan Obral Izin di Era Jokowi

Jakarta, Koranpelita.com Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membantah keras tudingan beberapa pihak tentang perihal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *