Airmata Bunda Warjinem untuk Sahabat Ngopi

Tadi malam, zoom series yang digelar Sahabat Ngopi, memberi suasana yang berbeda. Gelaran ketiga diskusi online warga Kulon Progo ini, menampilkan Bunda Warjinem dan Pak Bambang Hady.

Dua tokoh senior perantau Kulon Progo itu, tampil maksimal di depan tidak kurang 50 peserta diskusi. Tokoh-tokoh lain yang ikut terlibat tadi malam adalah Profesor Bedjo Sujanto, mantan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dua periode, ada juga Pak Sumarjono, Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan.

BACA JUGA: Ngobrolin Inspriasi Warga Kulon Progo Sukses Digelar

Saat diskusi sedang hangat, Pak Paiman yang pengusaha beras terkemuka, ikut masuk ke forum diskusi.

Suasana diskusi memang sangat hangat. Sekaligus haru-biru, saat Bu Warjinem berkisah perjuangannya, membangun karir sejak meninggalkan Gadingan, Wates, Kulon Progo. Tidak mudah, karena banyak lara-lapa yang dialami.

“Saya pernah jadi kuli panggul di Stasiun Beos Jakarta Kota. Saya juga pernah di pasar Tanahabang. Itu nyambi jadi petugas KB,” kenang Bu War tentang perjuangannya di masa lalu.

Saat menjadi petugas KB atau lengkapnya sebagai PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) di Puskesmas Menteng Wadas, Pasar Manggis, Kelurahan Karet Belakang, Setiabudi, Jakarta Selatan, Bunda Warjinem membawa dagangan.

BACA JUGA: Malam Ini, Sahabat Ngopi Gelar Diskusi Membangun Bisnis Agribisnis

Hari-hari berat Bu War, memang telah menempanya menjadi sosok yang kuat. Beberapa kali, alumni SD Negeri Beji ini, terlihat menghapus airmatanya. Terutama jika sedang berkisah tentang perjuangannya yang tak lunak. Melihat itu, 50an peserta zoom terdiam.

Beberapa kali Prof Bedjo yang bersahabat baik dengan Bu Warjinem sejak sama-sama merintis karir sebagai guru, berusaha meredakan tangisan kecil Bu War. Ada juga celetukan peserta lain, yang menguatkan bunda Warjinem.

Perjuangan keras Bunda Warjinem, terus dijalani, sampai diterima sebagai guru di ST 1 Kramat Raya, Jakarta Pusat. Itu sudah tahun 1976. Sambil melanjutkan kuliah di IKIP Jakarta, Bu War pindah mengajar di STM 6 (sekarang SMK 34 Jakarta).

Sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Kewirausahaan, alumni SPG Wates yang pada 24 Agustus nanti genap berusia 69 itu, memetik banyak prestasi. Salah satu yang paling momumental adalah menjadi Guru Teladan tingkat DKI Jakarta pada tahun 1985.

Narasumber diskusi online tadi malam, memang istimewa. Selain Bu Warjinem, ada Pak Bambang Hady yang juga seorang pendidik. Dua tokoh perantau ini, memiliki kesamaan. Selain sama-sama guru, juga sama-sama pejuang kemanusiaan. Pak Bambang yang menetap di Cilegon, selain dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah, adalah relawan kemanusiaan.

“Kita tahu, Banten itu memang daerah rawan bancana. Hampir setiap hari ada gempa. Kalau bukan kita yang bergerak dan turun tangan membantu korban bencana, ya siapa lagi,” tegas piyayi Kopok Kidul, Tawangsari ini. (pitu)

About NKS

Check Also

JIC Gelar Do’a Kesembuhan Gubernur DKI Jakarta.

Jakarta, Koranpelita.com Pandemi virus corona di Indonesia belum kunjung mereda. Sejak kemunculan pertama.2 Maret hingga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *