NKS Menulis Pengasih: Lutessih, Wadah Berterimakasih

Menuju hari Sabtu, 1 Agustus 2020 pekan lalu, hati saya menggebu. Memang, saya sudah menunggu hari itu, sejak setahun lalu. Sejak Pak Mohammad Sohin, Kepala Sekolah SMPN 1 Pengasih (d/h atau dahulu SMPN 2 Wates Kulon Progo), menghubungi saya.

Saya tidak tahu, dari mana beliau mendapatkan nomor handphone saya. Saya ingat saat pertama berkenalan lewat aplikasi percakapan, setelah saya memberikan dua buku Nami Kulo Sumarjono (buku NKS) melalui seorang teman.

Sebagai alumni SMPN 2 Wates Kulon Progo yang lulus tahun 1984, buku NKS saya persembahkan untuk sekolah sebagai salah satu cara untuk berterimakasih telah dididik. Tak hanya dididik dari sisi ilmu pelajaran namun pula dari sisi budi pekerti.

Terselip angan, semoga buku NKS dibaca oleh para siswa. Walau berbeda generasi, namun saya berharap, NKS tetap bisa menginspirasi.

Jadi begitulah. Tanggal 1 Agustus 2020 memiliki makna tersendiri bagi SMPN 1 Pengasih (SMPN 2 Wates Kulon Progo). Sebab, di tanggal itu, 60 tahun lalu atau pada tahun 1960, SMP ini berdiri.

BACA JUGA; NKS Menulis Jogja: Lewat Malioboro, Pagi-pagi Asyiknya Gocapan

Maka, jauh hari sebelum tanggal 1 Agustus 2020 itu tiba, panitia lustrum ke-12 menyiapkan dengan matang berbagai kegiatan. Banyak acara dirancang menjelang pelaksanaan acara puncak tepat di hari lahir. Namun, covid-19 membuyarkan sebagian besar rencana. Sehingga puncak acara pun digelar secara sederhana tanpa mengurangi makna.

Saya datang sebagai ungkapan mencintai almamater yang setelah acara gocapan (gowes cari sarapan) di kota Jogja usai. Saya mematut diri supaya terlihat enak dipandang mata secara maksimal.

Lagi-lagi Mas Tejo menjadi andalan saya untuk membawa ke lokasi peringatan ulang tahun 60 tahun SMP tercinta. Mas Tejo membuntuti Mas Yudi yang seolah sudah menjadi orang Kulon Progo yang hafal jalan. Padahal saya tahu ia pasti dipandu aplikasi untuk menjangkau lokasi.

Waktu menunjukkan lima menit menjelang pukul 10.00 pagi. Mobil yang saya tumpangi masuk ke halaman sekolah. Ingatan saya serasa terlempar jauh ke masa silam, 39 tahun lalu. Ketika saya masih menggunakan pakaian putih biru. Baju putih dan celana pendek biru. Sepatu yang mesti digunakan sudah ditentukan yaitu big boss warna hitam. Mungkin ini sebuah pesan bahwa nanti diharapkan bisa menjadi boss besar kelak kemudian.

Saya diterima di SMP N 2 Wates setelah melalui ujian saringan. Saya beruntung dapat menjadi bagian dari sekolah ini setelah berkompetisi entah dengan berapa banyak pendaftar.

Hari pertama sekolah tentu sepatu merk big boss baru saya kenakan menunjang penampilan. Maklum saat SD saya tak sempat merasakan bagaimana kaki tidak menapak pada tanah karena mengenakan sepatu.

Namun, nikmatnya memakai sepatu ternyata cepat berlalu. Karena selebihnya, saya banyak tersika. Kaki, sering lecet, jadi jalannya seperti Gareng, pencik karena ada luka di jari kaki.

Dari dusun Nganjir hingga Pengasih, memang bukan perjalanan yang pendek. Walaupun bersepeda, saya masih harus menuntunnya, terutama saat jalan menanjak di sekitaran Nganjir. Sialnya lagi, sepatu kebanggaan saya itu, juga cepat sekali bolong. Nah, kalau sudah begitu, yang ada hanya ngenes, soalnya tidak bisa beli lagi sepatu baru.

Drama perjalanan ke sekolah, terjadi dari tahun 1981 sampai dengan tahun 1984. Tapi tentu saja, tidak melulu dramaa yang penuh kesedihan, sebab, ada nama-nama istimewea yang masih mengingat. Terawat dalam ingatan, tersimpan di laci hati.

Dan, kelas 1.D yang posisinya persis di pinggir sawah terkenal dengan anak-anak yang nakal. Selalu riuh rendah manakala guru tak ada di kelas. Atau mencuri tebu hingga bagian tengah perkebunan tebu dibuat sebuah lingkaran kosong sementara pinggir perkebunan tetap rapi seolah utuh tak terjamah.

Oke. Tutup sejenak buku masa lalu, mari melihat SMP Negeri 1 Pengasih di tahun 2020. Saya datang tidak dengan sepeda dan sepatu bolong. Yang menyambut Bapak Kepala Sekolah. Ramah, sekaligus saling mengenalkan diri secara resmi walau tanpa jabat tangan dan tetap jaga jarak. Kenalan lewat daring belum dirasa mantab dan perlu kenalan lewat kopi darat.

BACA JUGA: NKS Menulis Jogja-1: Mini-Reuni & Temu Rindu

Saya diarahkan menuju ruang tamu Pak Kepala Sekolah. Di sana telah hadir beberapa tokoh sentral penggagas lustrum ke-12 dan inisiator pembentukan paguyuban alumni SMP N 2 Wates (sekarang SMP N 1 Pengasih) yang kemudian disingkat Lutessih 2.1. Setelah sejenak berbincang dan menikmati makanan trasisional yang menurut Pak Kepala Sekolah  bikinan bapak ibu guru, kami memasuki ruang acara.

Tiga ruang kelas yang dipisahkan oleh sekat, hari itu disulap menjadi tempat peringatan hari ulang tahun SMP N 2 Wates (sekarang SMP N 1 Pengasih) ke-60. Sekat dibuka sehingga terlihat lega. Sebelum benar-benar memasuki ruang acara, kami dicek suhu sesuai protokol kesehatan dan dudukpun dalam jarak yang diperbolehkan.

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, acara resmi dimulai. Acara disambung dengan pembacaan surat keputusan Kepala Sekolah tentang pembentukan kepengurusan paguyuban alumni SMP N 2 Wates (sekarang SMP N 1 Pengasih) yang kemudian disingkat Lutessih 2.1.

Pak Kepala Sekolah dan beberapa tokoh kondang didapuk menjadi penasihat. Saya juga, walaupun bukan termasuk yang kondang-kodang amat. Sementara Pak Kris Sutanto ditetapkan sebagai Ketua Lutessih 2.1.

Pengukuhan pengurus Lutessih 2.1 dilakukan oleh Pak Kepala Sekolah. Lalu dilanjutkan penandatanganan berita acara. Saya diberi kehormatan, ikut menyaksikan penandatanganan tersebut.

BACA: NKS Menulis Kulon Progo: Nge-pit Membelah Bukit Menoreh

Secara simbolis peringatan ulang tahun ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Pak Kepala Sekolah. Lagi-lagi saya yang diserahi potongan tumpeng pertama. Tentu saja, bukan karena sayanya, tapi sekadar mewakili para penasihat alumni, untuk kemudian potongan tumpeng itu, diberikan kepada Ketua Lutessih 2.1.

Saatnya sambutan-sambutan dimulai. Kepala Sekolah mengawali dengan sejarah singkat SMP yang sudah berusia 60 tahun ini. Saya menyimak setiap kata yang beliau sampaikan. Termasuk inisiatif pembentukan paguyuban Lutessih 2.1 yang tentu peran dari Pak Kepala Sekolah sangat besar.

Kolaborasi antara sekolah dan alumni dirasa penting termasuk dalam memotivasi siswa. Diharapkan alumni juga dapat memberikan masukan membangun   bagi almamater.

Giliran Pak Kris Sutanto Ketua Lutessih 2.1 menguraikan berbagai program kerja paguyuban almuni dan meminta dukungan dari seluruh pengurus, penasihat, dan para alumni.

Banyak yang diusung sebagai program kerja unggulan saat kepemimpinan Pak Kris atas Lutessih 2.1 ini antara lain inventarisasi alumni, sosialisasi lembaga, kerjasama dengan pihak lain, care, menulis, daring, revolusi industri 4.0, dan membangun budaya tatanan kehidupan baru dlm situasi pandemik saat ini.

Ya, saya sepakat. Kini saat yang tepat berterimakasih pada almamater dan guru yang membimbing di saat kita dulu sedang mencari jati diri.

Pembawa acara lalu memanggil nama saya untuk memberi sambutan. Agak grogi juga, karena tidak siap untuk berbicara di forum yang isinya adalah guru-guru saya sendiri.  Grogi yang sulit dihentikan itu, membawa ingatan saat saya grogi luar biasa, lebih dari tiga dekade lalu.

Dulu, di SMP ini, saya diminta ke depan kelas untuk menyanyi. Apes sekali, karena grogi. Saya tak tahu kapan mesti berhentinya menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Ayo maju maju, ayo maju maju, ayo maju maju, … (bersambung)

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About NKS

Check Also

Tak Perlu Khawatir Berlibur Ke Pantai Likupang

Travelling ke Sulawesi Utara, Taman Laut Bunaken sudah terlalu biasabagi para pecinta bahari. Namun, jika …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *