HAMKA Mengawali Karir Sebagai Wartawan

_Mengenang Kepergian Buya Hamka (2)_

Oleh: Dasman Djamaluddin

_Bulan Juli ini, Buya Hamka meninggal dunia di usia 73 tahun. Tepatnya tanggal 24 Juli 1981 di Jakarta. Diberitakan ia gagal organ multipel. Sangatlah tepat jika figur Buya Hamka kembali kita ingat di tengah-tengah situasi merebaknya virus corona dan banyaknya aksi protes masyarakat di berbagai bidang. Lebih tepatnya sulit untuk mencari figur yang jujur seperti Buya Hamka. Gelar Buya berarti juga gelar ulama di Sumatera Barat. Buya adalah sebutan untuk seorang Kiai di Minangkabau. Gelar ini biasanya diberikan kepada orang yang alim dalam ilmu agama. Seseorang dipanggil Buya terutama disebabkan pemahamannya yang mendalam terkait pengetahuan agama._

Menulis tentang Hamka, samalah artinya menulis di samudera luas. Kadang kala tangan ini berhenti bukan karena tidak memiliki data, melainkan banyaknya sumber dari berbagai sudut pandang, sehingga muncul pertanyaan, dari sudut mana lagi kita akan menulis tentang tokoh terpandang ini?

Menulis tentang orang-orang besar sudah tentu membutuhkan berbagai pengamatan dan penelitian lebih mendalam. Butuh waktu lama. Tetapi bagaimana pun, di saat bangsa dan negara ini kehilangan tokoh panutan, seperti Hamka, 24 Juli 1981, perlu juga mengenalkan kembali sosok sastrawan dan ulama besar itu ke permukaan agar lebih diketahui generasi berikutnya.

Bagi saya, Hamka identik dengan kultur Minangkabau di daerah Padang Panjang, Sumatera Barat. Hamka lebih banyak bersentuhan dengan adat istiadat di daerah itu. Meskipun Hamka terlahir dengan nama Abdul Malik Karim Amrullah di Maninjau, pada tanggal 16 Februari 1908, tetapi setelah ayahnya mendirikan sekolah Sumatera Thawalib di Padang Panjang, beliau banyak bersentuhan dengan daerah Padang Panjang.

Sementara ibu Hamka adalah Siti Shafiyah Tanjung. Dalam silsilah Minangkabau, ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya. Rumah tempat Hamka dilahirkan, sekarang diabadikan sebagai Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Hanya kadang kala museum selalu diidentikan dengan benda mati. Sepi pengunjung. Hendaknya dengan berbagai tulisan mengenai tokoh-tokoh daerah maupun nasional, generasi muda lebih memahami arti museum, sebagai sebuah tempat di mana sejarah itu awal mulanya ditulis.

Hamka merupakan cucu dari Tuanku Kisai, memperoleh pendidikan rendah pertama kali di usia 7 tahun di Sekolah Dasar Maninjau selama dua tahun. Ketika usianya mencapai 10 tahun, karena ayahnya mendirikan sekolah Sumatera Thawalib di Parabek Padang Panjang, Hamka bersekolah di sekolah itu dan malam hari belajar agama dengan ayahnya, yang adalah seorang ulama besar tersebut. Sumatera Thawalib merupakan sekolah agama Islam terkenal, kelanjutan sekolah agama Surau Djembatan Besi yang didirikan Syekh Abdullah pada masa peralihan abad ke-20.

Guru-gurunya saat itu merupakan tokoh-tokoh pembaharuan Islam di Minangkabau, seperti Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid dan Zainuddin Labay. Saya ingin mengatakan jika Yogyakarta sering disebut kota pelajar, maka Padang Panjang sejak awal sudah menjadi kota pelajar. Banyak tokoh terkemuka bangsa Indonesia berasal dari daerah Padang Panjang.

Hamka kemudian mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab, salah satu pelajaran yang paling disukainya. Melalui kefasihan bahasa Arab inilah kemudian ia belajar sendiri (otodidak) dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi ini pula, ia dapat mempelajari karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, ia meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti.

Padang Panjang sekarang sudah tentu berbeda ketika Hamka masih kecil. Padang Panjang sekarang sudah menjadi kota dengan luas wilayah terkecil di Provinsi Sumatera Barat. Kota ini memiliki julukan sebagai Kota Serambi Mekkah, dan juga dikenal sebagai Mesir van Andalas. Sementara wilayah administratif kota ini dikelilingi oleh wilayah administratif kabupaten Tanah Datar.

Kawasan kota ini sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Tuan Gadang di Batipuh. Pada masa Perang Padri kawasan ini diminta Belanda sebagai salah satu pos pertahanan dan sekaligus batu loncatan untuk menundukkan kaum Padri yang masih menguasai kawasan Luhak Agam. Selanjutnya Belanda membuka jalur jalan baru dari kota ini menuju Kota Padang karena lebih mudah dibandingkan melalui kawasan Kubung XIII di Kabupaten Solok sekarang. Kota ini juga pernah menjadi pusat pemerintahan sementara Kota Padang, setelah Kota Padang dikuasai Belanda pada masa agresi militer Belanda sekitar tahun 1947.

Jika ditelusuri secara kronologis, sejak tahun 1920 an, Hamka sudah menjadi wartawan di “Pelita Andalas,” Seruan Islam,” Bintang Islam” dan “Suara Muhammadiyah.” Surat kabar terakhir, ” Suara Muhammadiyah,” karena Hamka sendiri tahun 1925, adalah salah seorang pendiri organisasi Muhammadiyah di Minangkabau dan kelak mengetuai Muhammadiyah Cabang Padang Panjang di tahun 1928. Pada tahun 1925 itu juga, Hamka menjadi anggota Partai Sarekat Islam.

Oleh karena itu berbekal ilmu sebagai seorang wartawan, Hamka mampu menulis banyak buku. Memang wartawan itu bukan dicetak, tetapi dilahirkan. Itulah ungkapan yang sering kita baca dan dengar tentang wartawan. Tetapi apakah cukup dengan sebutan itu? Tidaklah demikian. Memang wartawan itu dilahirkan. Maksudnya setelah lahir harus terus menerus menjadikan wartawan sebagai pilihan hidupnya, meskipun ia memegang jabatan lain, naluri kewartawanannya tidak berhenti.

Selain itu seorang wartawan harus mengikuti cara-cara yang berlaku dalam tradisi intelektual. Ia harus memiliki sikap kemandirian intelektual. Artinya, dia melakukan berbagai kegiatan berpikir dengan dorongan dari dalam dirinya sendiri. Selain memiliki berbagai tehnik dan ketrampilan untuk bisa menjalankan tugas kewartawanannya, ia harus ber-etika. Untuk apa mengkaderkan seorang wartawan yang cerdas dan berilmu pengetahuan, tetapi tidak ber-etika.

Prinsip kewartawan itulah yang dipegang Hamka. Jadi Hamka baru mulai bekerja pada tahun 1927 (ada juga yang mengatakan tahun 1929), sebagai guru agama di Perkebunan Tebing Tinggi. Berdasarkan ilmu jurnalistik yang diperolehnya ditambah kefasihannya berbahasa Arab, Hamka menulis karya pertamanya dalam bahasa Arab di tahun 1928 dengan judul Khatibul Ummah jilid 1-3. Buku keduanya berjudul Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq), buku ketiga berjudul Adat Minangkabau dan Agama Islam, buku keempatnya berjudul Ringkasan Tarikh Umat Islam dan buku kelimanya Kepentingan Melakukan Tabligh.

_Berguru kepada H.O.S Tjokroaminoto_

Hamka mulai meninggalkan kampung halamannya pada usia 16 tahun di tahun 1924. Pada waktu itu beliau sudah menjadi anggota organisasi Muhammadiyah di Padangpanjang dan tertarik dengan Partai Politik Sarekat Islam (SI) pimpinan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, kelak menjadi mertuanya Bung Karno dan sering disebut sebagai “Guru Para Pendiri Bangsa.” SI sebuah organisasi politik pertama di Indonesia yang bertujuan melawan dominasi pedagang Tionghoa (Cina).

Pada tahun 1905, SI ini bernama Serikat Dagang Islam (SDI), tidak berpolitik, hanya sebuah perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi ini dirintis Haji Samanhudi di Surakarta (Solo) bertujuan menghimpun para pedagang pribumi Muslim (khususnya pedagang batik) agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Tionghoa. Pada saat itu, pedagang-pedagang keturunan Tionghoa lebih maju usahanya dan memiliki hak dan status yang lebih tinggi dari pada penduduk Hindia Belanda lainnya. Kebijakan yang sengaja diciptakan oleh pemerintah Hindia-Belanda tersebut kemudian menimbulkan perubahan sosial karena timbulnya kesadaran di antara kaum pribumi yang biasa disebut sebagai Inlanders.

Organisasi SDI berkembang pesat hingga menjadi perkumpulan berpengaruh. Terbukti ketika R.M. Tirtoadisurjo pada tahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia. Kemudian tahun 1910, Tirtoadisuryo mendirikan lagi organisasi semacam itu di Buitenzorg. Demikian pula, di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan organisasi serupa tahun 1912.

Kelak ketika Haji Oemar Said Tjokroaminoto dipilih menjadi pemimpin, mengubah nama SDI menjadi SI. Hal ini dilakukan agar organisasi tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang lain seperti politik. Tujuan SI selain mengembangkan jiwa dagang, juga membantu anggota-anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha, memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat, memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam dan hidup menurut perintah agama.

Pada waktu bernama SDI anggotanya terbatas untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Tetapi setelah Tjokroaminoto memimpin SDI kemudian mengganti nama menjadi SI, keanggotaannya tidak hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan masyarakat muslim. Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak terlihat adanya unsur politik, tapi dalam kegiatannya SI menaruh perhatian besar terhadap unsur-unsur politik dan menentang ketidakadilan serta penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Artinya SI memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekhawatiran pemerintah Belanda.

Seiring dengan perubahan waktu, akhirnya SI pusat diberi pengakuan sebagai Badan Hukum pada bulan Maret tahun 1916. Setelah pemerintah Belanda memperbolehkan berdirinya partai politik, SI berubah menjadi partai politik dan mengirimkan wakilnya ke Volksraad tahun 1917, yaitu HOS Tjokroaminoto; sedangkan Abdoel Moeis (Abdul Muis) yang juga tergabung dalam CSI menjadi anggota volksraad atas namanya sendiri berdasarkan ketokohan, dan bukan mewakili Central SI sebagaimana halnya Tjokroaminoto.

Hamka yang berdarah Minangkabau, pun sebagaimana halnya Abdul Muis yang telah dulu bergabung dengan SI, sangat tertarik dengan partai politik ini. Apalagi dengan kehadiran H. Agus Salim, yang juga berasal dari Minangkabau, membuat Hamka semakin ingin belajar langsung dengan HOS Tjokroaminoto. Memperdalam pengetahuan agama Islam memang menjadi ciri khas budaya Minangkabau yang memiliki nilai-nilai falsafah tinggi dan bersifat universal. “Alam takambang jadi guru”, ujar mereka.

Hamka di usia 16 tahun, tahun 1924 mulai meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di Pulau Jawa, sekaligus ingin mengunjungi kakak iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur yang tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Untuk itu, Hamka kemudian ditumpangkan dengan Marah Intan, seorang saudagar Minangkabau yang hendak ke Yogyakarta. Sesampainya di Yogyakarta, ia tidak langsung ke Pekalongan. Untuk sementara waktu, ia tinggal bersama adik ayahnya, Dja’far Amrullah di Kelurahan Ngampilan, Yogyakarta. Barulah pada tahun 1925, ia berangkat ke Pekalongan, dan tinggal selama enam bulan bersama iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur.

Di Yogyakarta tahun 1924 agar bisa belajar dengan HOS. Tjokroaminoto, Hamka bercerita dia sengaja memalsukan usianya dari 17 menjadi 18 tahun agar bisa masuk Sarekat Islam saat itu. Soalnya, hanya anggota SI yang boleh mengikuti kursus agama dua kali seminggu dalam kelas Tjokro. Cerita Hamka ini bersumber dari pengantar buku Amelz berjudul ‘HOS Tjokroaminoto, Hidup dan Perdjuangannya’. Hanya yang menjadi pertanyaan, apakah ketika masih di Padangpanjang, Hamka sudah masuk SI atau belum. Atau baru di Yogyakarta? Perlu penelusuran lebih jauh.

Tak jelas di mana rumah paman Hamka dan di mana tempat mereka biasa mengikuti kursus bersama Tjokro. Yang dicatat Hamka hanyalah dia terkecil di antara sekitar 30 peserta kursus. Pengajarnya tiga orang: RM Soerjopranoto, mengajar sosiologi; H. Fachruddin, membawakan dasar-dasar hukum Islam, dan Tjipto, memberikan kurus Islam dan sosialisme.

“Waktu itulah saya mulai mengenal komunisme, socialisme, nihilisme. Waktu itulah mulai mendengar nama Karl Marx, Engels, Proudhon, Bakunin, dan lain-lain,” tulis Hamka. (Penulis warrawsn senior tinggal di Jakarta)

About dwidjo -

Check Also

Kesaksian Jurnalis Palestina Bushra Jamal Ath-Thawil, Ungkap Fakta Penjajahan Zionis Israel

BUSHRA Jamal Muhammad Thaweel (22) memilih profesi wartawan setelah menyaksikan sendiri ayah dan ibunya ditangkap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *