NKS Menulis Kanada-4: Hening di Quebec City…

Saya ikut rombongan ke Ottawa. Mengunjungi OSFI Ottawa Office. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Toronto yang pusat perdagangan dan bisnis terbesar di Kanada berada.

Saya sudah berencana mengajak anak istri. Apalagi perjalanan dinas ke Ottawa dan Toronto ini, terselip sesi ke grojokan Niagara Fall. Rasanya mengajak anak-istri akan menyenangkan, karena mereka bisa membunuh jenuh karena selama ini seperti terkurung bosan berada dalam ruangan apartemen berukuran 40 meter persegi.

Cerita menjadi lain, karena istri menolak ikut. Saya agak kaget tapi kemudian bangga. Sebab, istri saya itu, memilih menemani rekan saya yang sedang dalam kondisi sakit dan diselimuti kesedihan. Mongkok hati saya. Mongkok itu bahasa Jawa yang jika diterjemahkan, lebih tinggi derajatnya dari rasa bangga.

Melihat sikap itu, rasa-rasanya, cinta saya pada istri semakin bertambah besar. Lalu, saya berjanji mengganti sesi jalan-jalan ke Toronto, nanti sebelum waktu magang berakhir.

Ya sudah. Saya menikmati sepi di Ottawa yang saling bergantian dengan riuhnya kota Toronto. Semua menjadi lengkap oleh pertemuan-pertemuan yang gegap-gempita dengan berbagai lembaga penting di Kanada.

Agak kuciwo juga rasane. Perjalanan saya ke grojokan Niagara tak dilengkapi foto bersama anak-istri. Padahal, sudah lama membayangkan bisa memiliki foto dengan latar si tapak kuda, Niagara Fall.

BACA JUGA: NKS Menulis Kanada-3: Tujuhbelasan yang Menggetarkan

Tapi alhamdulillah. Setelah ke Toronto bersama rombongan pejabat dari Indonesia, tak perlu menunggu terlalu lama, saya bisa merealisasi janji mengajak anak-istri ke Toronto. Hanya bertiga saja. Saat itu ada seminar bagus tentang aktuaria di Toronto. Tumben-tumbenan,  sayayang  ditugasi untuk hadir dibiayai oleh Sobesco E & Y tempat magang saya.

Saya naik kereta api dari stasiun bawah tanah Montreal menuju Toronto. Dasar wong Nganjir, rasa kagum tak putus-putus setiap kali ke  stasiun megah ini. Lalu, yang terbayang adalah Stasiun Wates yang ndeso itu: kecil saja tapi malah tak kalah awet ngangeni.

Stasiun bawah tanah Montreal, memang berbeda. Tidak bisa dibanding-bandingkan karena kelewat megah. Pelayanannya sudah seperti saat kita menaiki pesawat terbang yang dipandu oleh pramugari.

Saya dan anak-istri diminta ke gate dengan nomor tertera di tiket. Gerbong dan tempat duduk sudah ditentukan. Beberapa kali ada pengumuman jangan sampai salah gerbong, karena ada gerbong yang hanya sampai Ottawa.

Sebenarnya, piknik bukan sekali ini kami lalui. Selama magang di sini, tiap akhir pekan, saya mengajak keluarga membuang bosan dengan menikmati suasana yang berbeda-beda. Paling sering adalah menikmati indahnya alam menjelajah Montreal, baik alam di atas tanah maupun alam bawah tanah.

Sesekali, kami ke lokasi yang agak tinggi di Parc Mont-Royal. Sebuah taman kota yang asri menawan untuk memandang hamparan perkotaan di sebelah bawah. Lokasi Parc Mont-Royal tepat di sebelah barat downtown Montreal.

Saat memasuki bulan Oktober 1997, dedaunan berubah warna. Kekuningan, kemerahan, dan kecoklatan. Sangat indah. Terutama pohon maple yang daunnya dijadikan lambang bendera Kanada.

BACA: NKS Menulis Kanada-2: Montreal, Saya Kembali Jatuh Cinta

Sejarah mencatat bahwa dahulunya ada gunung berapi kecil bernama Mont Royal yang tak aktif lagi. Nama kota Montreal juga diambil dari namanya dari gunung Mount Royal ini.

Lokasi di atas permukaan bumi Montreal lain yang bisa dinikmati adalah Notre-Dame Basilica of Montreal. Sebuah gereja megah baik dilihat dari luar ataupun di interior gerejanya.

Tak lupa saya mengajak menikmati replika empat ekosistem benua Amerika yang disajikan dalam bangunan bernama Biodome Montreal. Tak jauh dari Biodome, saya ajak keluarga menikmati pemandangan indah kota Montreal dari ketinggian di menara Olimpic Stadium Montreal. Yang menarik adalah lift yang membawa ke menara berjalan tidak lurus ke atas namun bergerak sesuai dengan kemiringan bangunan.

Suatu saat saya dihubungi rekan yang kuliah di Oregon State University yang ingin berwisata ke Montreal. Pasangan yang terlihat sangat muda ini selain ingin menikmati indahnya Montreal, ia mengajak ke Quebec City.

Ini piknik bonus untuk anak-istri, setelah janji ke Toronto ditepati. Berwisata ke Quebec City harus menyiapkan diri menikmati aura yang berbeda. Karena di sini, banyak bangunan peninggalan Perancis penuh magis. Penduduknya pun makin jarang yang berbahasa Inggris tapi berbahasa Perancis.

Dengan menyewa satu mobil, kami melaju dengan kecepatan maksimal. Hampir tiga jam perjalanan, yang tampak hanya keindahan, bukan rasa bosan. Apalagi saat sampai. Tak salah jika UNESCO menetapkan khususnya Old Quebec sebagai salah satu situs warisan dunia yang wajib dirawat.

Di Old Quebec, bangunan batu kuno yang tampak sangat anggun membentuk komplek bangunan yang terletak di sekitar pelabuhan kota di tepi Sungai St. Lawrence. Bangunan yang telah melintasi sejarah sejak ratusan tahun lalu.

Saya dan rombongan sedikit bergeser dari Old Quebec ke arah barat. Ada pemandangan yang lebih menakjubkan dan sempurna untuk bersantai dan menikmati udara segar Quebec. Bukan hanya lapang dan hijau, namun area yang mirip lapangan itu dihiasi pohon yang saat itu tampak menguning kecoklatan. Sempurna indahnya.

Padahal sejatinya di taman itu, sesuai nama tamannya Battlefields Park, pertumpahan darah terjadi saat pertempuran Quebec yang memaksa Perancis menyerahkan Kanada kepada Inggris. Andai taman itu bukan saksi bisu, pasti banyak cerita mengerikan disuarakan. Keindahan bangunan, taman, dan daun yang menguning kecoklatan memasuki musim gugur membuat semua turis tak peduli dengan cerita pertempuran Inggris dan Perancis memperebutkan kota sangat cantik bernama Quebec City.

BACA: NKS Menulis Kanada-1: Meninggalkan Corvallis tanpa Tangis…

Dan, akhirnya, setelah mengurai kesibukan yang sesekali diselingi pakansi, waktu magang saya di Sobesco E & Y selesai. Sampai sejauh itu, tetap tak menyangka, atase wong Nganjir bisa melipir hingga Kanada.

Banyak yang saya dapatkan dari Montreal. Juga salam perpisahan yang tak terlupakan: serpihan warna putih, melayang pelan dari angkasa.

Salju. Sesuatu yang jarang saya dapatkan di musim daun pohon maple masih berwarna kuning. Tidak di Corvallis, apalagi di Nganjir. Benar. Hari itu turun salju, tidak pada waktu biasanya, karena musimnya masih  musim gugur. Ini pasti cara Tuhan sengaja memberi sebuah hadiah indah. Sebuah ucapan selamat berpisah.

Lalu saya ajak Vallisa dan ibunya ke taman. Tanpa sadar kami berputar, wajah menengadah. Mencecap salju hanya karena ingin tahu rasanya seperti apa. Saya membayangkan es gosrok (ini nama bubuk es yang diparut untuk membuat es campur) akan terasa segar apalagi andai ditambah sirup.

Di Montreal, sebelum pulang ke  Indonesia, rambut saya seperti dimahkotai warna putih disepuh butiran dari langit. Tapi meski rambut memutih, yakinlah hati ini tetap selembut salju. (*)

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About NKS

Check Also

Nasdem Siapkan Perangkat Konvensi Capres-Cawapres 2024

Jakarta, Koranpelita.com Dewan Pakar Partai Nasional Demokrat (Nasdem) mulai merancang Konvensi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *