Budaya Konsumsi Kelelawar Masyarakat Suku Dayak Ngaju Di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh : Adventus Robertino Rangin

Tulisan ini merupakan bagian dari edukasi untuk masyarakat dengan mengambil contoh kebudayaan masyarakat Dayak Ngaju. Karena itu, tidak ada tendensi untuk mendiskriditkan maupun hal yang berbau SARA. Penulis menyadari potensi ini dan meminta pembaca untuk membiasakan membaca sampai habis.

Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau Kalimantan yang masih kaya akan keanekaragaman flora dan fauna. Keberadaan flora dan fauna sudah tidak dapat dipisahkan lagi dengan kehidupan masyarakat yang ada di Kalimantan Tengah. Salah satu suku asli yang mendiami Provinsi Kalimantan Tengah adalah Suku Dayak Ngaju. Masyarakat Suku Dayak Ngaju memiliki budaya mengkonsumsi hewan yang tidak umum dikonsumsi, salah satunya adalah kelelawar. Selain dikonsumsi untuk sumber makanan, kelelawar juga dipercaya oleh Suku Dayak Ngaju dapat menyembuhkan penyakit asma.

Jenis kelelawar yang dikonsumsi oleh Suku Dayak Ngaju adalah Pteropus vampyrus yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut kalong besar atau kalong kapauk, sedangkan dalam bahasa lokal Suku Dayak Ngaju disebut bangamat. Masyarakat Suku Dayak Ngaju mengolah bangamat biasanya dengan cara direbus dengan bahan dan bumbu tertentu. Untuk pengobatan asma yang diambil adalah bagian empedu, hati dan daging. Empedu kelelawar cukup dibersihkan saja kemudian dikonsumsi bulat tanpa dimasak, sedangkan hati dan dagingnya diolah dengan cara dibakar tanpa bumbu.

Ditengah pandemi Covid-19 seperti yang sedang berlangsung sekarang, masyarakat Suku Dayak Ngaju sangat tidak dianjurkan dan disarankan untuk mulai tidak mengkonsumsi kelelawar. Seperti yang kita ketahui pandemi ini diduga berasal dari hewan liar yang dikonsumsi oleh manusia atau disebut juga zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan oleh hewan ke manusia. Salah satu hewan yang diduga kuat sebagai definitive host sekaligus vector dari virus corona, penyebab COVID-19 adalah kelelawar.

P. vampyrus atau bangamat merupakan kelelawar pemakan buah dan bunga yang termasuk dalam suku Pteropodidae. Kelelawar suku Pteropodidae bisa berperan sebagai reservoir penyakit penting atau agen etiologi penyakit yang dapat menular antar spesies yang bisa menginfeksi hewan mamalia lain dan manusia, baik yang domestik maupun liar Berbagai jenis virus yang ditularkan oleh Pteropodidae antara lain Henipavirus atau virus Nipa (NiV) , Lyssavirus, Filovirus (meliputi virus Ebola dan virus Marburg) dan Coronavirus yang berhubungan dengan SARS dan MERS. Selain penyakit dari virus, kelompok takson Pteropodidae juga berperan sebagai pembawa penyakit bakterial seperti leptospirosis.

Melihat dan mempertimbangkan kelelawar dapat membawa berbagai virus dan bakteri yang dapat menular ke manusia, sangat tidak dianjurkan mengkonsumsi kelelawar ditengah wabah Covid-19, apalagi mengkonsumsi empedunya secara mentah dan bulat-bulat untuk pengobatan asma. Walaupun sudah dicuci bersih, tidak bisa dipastikan apakah virus dan bakteri yang ada pada bangamat sudah mati. Namun jika tetap ingin mengkonsumsi kelelawar dengan alasan ritual keagamaan atau hal lain yang bersifat keharusan, sangat dianjurkan untuk dimasak dengan cara yang benar. Daging kelelawar yang akan dikonsumsi harus direbus hingga matang untuk menurunkan resiko masih terdapat virus dan bakteri yang masih hidup pada daging kelelawar tersebut. Dengan kita stop mengkonsumsi kelelawar, maka kita ikut berperan dalam menjaga diri kita dan keluarga kita tetap sehat dan terhidar dari bahaya virus dan juga menjaga kelangsungan hidup kelelawar di alam. (Penulis, Mahasiswa Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Palangka Raya)

About dwidjo -

Check Also

Kepala Perpusnas : Perlu Cara Pandang Literasi Yang Selaras

Jakarta,Koranpelita.com Peningkatan literasi di Indonesia membutuhkan dukungan dari seluruh pihak, baik yang ada di pusat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *