Geopolimer Berbasis Limbah Abu Layang PLTU

PLTU adalah suatu peralatan pembangkit tenaga listrik yang mengubah potensi tenaga kimia yang ada dalam bahan bakar menjadi tenaga listrik, setelah melalui beberapa proses/konversi energi dan dengan menggunakan uap sebagai media atau fluida kerjanya.

Energi listrik merupakan suatu faktor penunjang yang sangat penting bagi perkembangan secara menyeluruh suatu bangsa. Di Indonesia, dengan semakin meningkatnya kegiatan industri dan jumlah penduduknya, maka kebutuhan energi listrik juga mengalami peningkatan. Keberadaan PLTU di Indonesia berada di beberapa wilayah seperti Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi Papua dan Jayapura. Di era modern ini, energi listrik berpengaruh besar terhadap pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan PLTU juga dirasa efektif untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang semakin meningkat. PLTU memiliki cara kerja tersendiri yaitu energi kimia dalam bahan bakar diubah menjadi energi panas dalam bentuk uap bertekanan dan temperatur tinggi yang kemudian menjadi energi mekanik dalam bentuk putaran, setelah itu energi mekanik diubah menjadi energi listrik.

Limbah yang dihasilkan PLTU diklasifikasikan menjadi limbah padat berupa abu, limbah cair berupa minyak dan limbah gas yang berupa emisi gas SOx, NOx dan partikulat. Banyak limbah yang dihasilkan PLTU salah satunya adalah limbah abu layang. Abu layang adalah residu halus yang dihasilkan dari pembakaran batu bara gilingan (grounded) atau serbuk (powdered) yang dipindahkan dari tungku pembakaran melalui boiler oleh aliran gas buang.

Setiap kali PLTU beroperasi abu layang yang dihasilkan berkisar 80-90 % dari total abu seluruhnya. Perkembangan industri di Indonesia saat ini semakin pesat, membuat adanya beberapa dampak yang akan terjadi. Pada limbah abu layang dapat menimbulkan dampak bagi lingkungan dan bagi kehidupan manusia yaitu bertambahnya limbah yang dihasilkan dapat menyebabkan masalah pencemaran bagi lingkungan sekitarnya.

Limbah abu layang dapat digunakan dalam pabrik semen sebagai salah satu bahan campuran pembuat beton. Selain itu sebenarnya limbah abu layang memiliki berbagai kegunaan antara lain sebagai penyusun beton untuk jalan dan bendungan, penimbun lahan bekas pertambangan, recovery magnetik, cenosphere, dan karbon, sebagai bahan baku keramik, gelas batubata, dan refraktori, sebagai bahan penggosok (polisher), sebagai filer aspal, plastik, dan kertas, sebagai pengganti dan bahan baku semen, sebagai aditif dalam pengolahan limbah, dan sebagai adsorben dan konversi menjadi zeolit. Abu layang juga dapat dijadikan pembuatan geopolimer. Bahan dasar utama yang diperlukan untuk pembuatan material geopolimer ini adalah bahan-bahan yang banyak mengandung unsur-unsur silika dan alumina. Unsur-unsur ini banyak di dapati, diantaranya pada material hasil sampingan industri, seperti misalnya abu layang dari sisa pembakaran batubara.

Dari sudut pandang kimia dapat dijelaskan bahwa geopolimer dibentuk oleh material aluminosilikat yang diaktifkan oleh larutan alkali. Pada perkembangannya, geopolimer telah banyak digunakan di bidang keramik, bahan tahan api, bahan bebas asbes dan bahan-bahan berteknonologi tinggi yang ramah lingkungan. Sifat kimia dari abu layang dipengaruhi oleh jenis batubara yang dibakar dan teknik penyimpanan serta penanganannya. Pembakaran batubara lignit dan sob/bituminous menghasilkan abu layang dengan kalsium dan magnesium oksida lebih banyak daripada bituminus. Namun memiliki kandungan silika, alumina, dan karbon yang lebih sedikit dari pada bituminous. Abu layang terdiri dari butiran halus yang umumnya berbentuk bola padat berongga. Ukuran partikel abu layang hasil pembakaran batubara bituminous lebih kecil dari 0,075 mm. Kerapatan abu layang berkisar antara 2100-3000 kg/m3 dan luas area spesifiknya antara 170-1000 m2/kg. Pada umumnya, komponen utama dari abu layang yang berasal dari pembangkit listrik adalah silika (SiO2), alumina (Al2O3), dan besi oksida (Fe2O3), sisanya adalah karbon, kalsium, magnesium, dan belerang. Geopolimer berbasis abu layang mempunyai kemampuan untuk mengimmobilisasi ion logam berat.

Efektivitas abu yang sebagai bahan pembuatan geopolimer memiliki kuat tekan dan durabilitas yang tinggi

Dengan demikian, limbah abu layang merupakan hasil limbah dari PLTU yang memiliki banyak manfaat. Salah satunya abu layang dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan geopolimer. Dalam pemanfaatannya, abu layang ini dapat mendukung ilmu pengetahuan dalam bidang industri yang berkelanjutan di Indonesia. ( Penulis, Mahasiswa Universitas Palangka Raya)

About dwidjo -

Check Also

GAME untuk Fakhrunnas Jabbar

Puisi¬† Sutardji Calzoum Bachri larikan aku seperti pantun membawaku simpan aku laksana mantera memeliharaku selinapkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *