Dipertanyakan, Kematian Fitri di Sampit Belum Terungkap ?

Sampit, Koranpelita.com.

Sudah setahun lebih delapan bulan, dari Oktober 2017 sampai dengan Juni 2019, kasus kematian Nur Fitri 24 tahun belum terungkap siapa pembunuhnya?

Hal itu bukanlah waktu yang sebentar tetapi waktu yang lumayan lama, sebuah kasus pembunuhan belum bisa terkuak oleh pihak yang berwajib.

Mungkin, Sungai Mentaya di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur ( Kotim) Provinsi Kalteng, adalah saksi bisu tewasnya wanita malang ini.

Padahal, ketika jasad almarhum Fitri pertamakali ditemukan sekitar pertengahan Oktober tahun 2017 lalu, disemak-semak kawasan jalan Pramuka Sampit , masyarakat berharap kasus pembunuhan tersebut cepat tersibak dan pelakunya dapat diciduk.

Terkonfirmasi dengan Kasat Reskrim Polres Kotim AKP Wiwin Juniarto Supriadi Kamis ( 13/6) via ponselnya mengatakan, kasus kematian Fitri masih dalam proses penylidikan.Tentu ada hasil lidik baru dan itu tidak bisa disampaikan ke media guna kepentingan penanganan kasusnya, dan kita sudah profesional dalam penanganan kasus tersebut.

Beberapa waktu lalu Kasat Reskrim Polres Kotim AKP Wiwin Juniarto Supriadi ketika dikonfirmasi menjelaskan, belum terungkapnya kasus kematian Fitri karena terkait dengan alat bukti dan masih dilakukan penyelidikan.

“Kami tidak mungkin gegabah dalam mengumpulkan alat bukti, mohon dukungan dan doanya Polres Kotim bisa mengungkap perkara ini ,” katanya.

Belum terungkapnya kasus kematian Fitri, tentu membuat masyarakat kecewa karena menyangkut nyawa warga Negara dalam sebuah Negara yang berdasarkan hukum.

Terlebih bagi jurnalis media ini mengingatkan pada peristiwa kelam di tahun 1992-an silam, dimana almarhum Iksan tetangga di Sampit juga mati dibunuh orang dikediamannya pada suatu tengah malam. Namun, hingga kini kasus kematiannya belum terungkap, siapa pembunuhnya?

Upaya yang dilakukan, selain intens menginformasikan berupa tulisan esai yang terbit di media lokal soal kematian Fitri yang belum terungkap, tidak saja kepada Kapolres Kotim di Sampit.

Tetapi juga kepada Kapolda Kalteng di Palangka Raya, Ombudsman Perwakilan Kalteng di Palangka Raya, Propam Polda Kalteng dan Propam Mabes Polri, serta Ombudsman RI, Komnas HAM RI dan Kompolnas di Jakarta bahkan ke Kapolri.

Dengan pengharapan supaya kasus kematian Fitri dapat segera menjadi terang benderang.

Sebagai partisipasi kekuatan masyarakat sipil dan pers, dalam sebuah Negara demokrasi dan NKRI yang berfalsafah Pancasila dan UUD 1945.

Ikhtiar yang dirajut tersebut juga bukanlah bermaksud untuk menyudutkan pihak kepolisian,namun merupakan wujud kecintaan terhadap Polri sebagai pelayan, pengayom dan pelindung masyarakat.

Disamping memberikan dorongan semangat dalam menuntaskan penanganan kasus kematian Fitri, sebab menyangkut hilangnya nyawa seseorang yang diduga dibunuh. Untuk itu hukum harus ditegakkan meskipun langit akan runtuh.

Terlebih , tewasnya wanita cantik yang diduga mati dibunuh ini telah menjadi sorotan khalayak luas.

Karenanya, apa yang dilakukan selama ini “begitu intens ” menyoroti kasus kematian Fitri yang belum terungkap, semata-mata sebagai tanggungjawab moral kepada publik, dalam membela dan memperjuangkan kepentingan masyarakat untuk mendapatkan keadilan.

Jikapun ada pertanyaan, spekulasi dan dugaan, terkait belum terungkapnya kasus kematian Fitri yang sudah melewati bilangan tahun ini, merupakan hal yang wajar anggapan itu ada dalam masyarakat.

Misalkan adanya “sinyalemen”, benarkah atau tidak informasi ini, lambatnya kasus kematian Fitri terungkap karena disinyalir ada keterlibatan oknum aparat?

Meskipun hal ini ketika dikonfirmasi beberapa waktu lalu dengan Kasat Reskrim Polres Kotim AKP Samsul Bahri, SE yang sudah pindah tugas ke daerah lain dengan tegas dibantahnya. Menurutnya, tidak ada keterlibatan oknum aparat terkait penemuan mayat yang diduga adalah korban pembunuhan. Jadi kasus kematian Fitri lambat terungkap hanya karena alat bukti yang belum cukup untuk menjadikan seseorang sebagai tersangka.

Semoga kasus kematian Fitri bisa terungkap. Karena menyangkut nyawa manusia yang tak bisa tergantikan oleh apapun dan oleh siapapun. Kita meyakini dan berharap kasus kematian Fitri yang sudah lebih setahun delapan bulan akan terungkap.

Tersebab pihak kepolisian juga begitu intens dan bekerja keras untuk mengungkap kasus kematian wanita malang ini.Untuk itu, sepatutnya, kita berikan apresiasi kepada Polres Kotim. ( Ruslan AG ).

About dwidjo -

Check Also

KPK: Calon Kepala Daerah Petahana Jangan Pakai Keuangan Negara

Jakarta, koranpelita.com Para petahana yang kembali bertarung di Pilkada Serentak 2020 diingakan KPK agar tidak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *