Manila, Koranpelita.com
Indonesia resmi memegang kendali jaringan perpustakaan publik se-ASEAN. Perwakilan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) Chaerul Umam dikukuhkan sebagai President ASEAN Public Libraries Information Network (APLiN) periode 2026–2028 dalam Sidang Umum APLiN yang digelar di National Library of the Philippines, Manila, pada (15-17/10/2025).
Tidak hanya itu, satu lagi perwakilan Perpusnas Irhamni Ali juga dipercaya masuk dalam jajaran Board of Directors APLiN untuk periode yang sama.
Indonesia menjadi negara yang menempatkan dua posisi inti kepemimpinan.
Terpilihnya dua pustakawan Perpusnas, Chaerul Umam sebagai Presiden dan Irhamni Ali sebagai anggota Board of Directors APLiN membuktikan bahwa jajaran Perpusnas RI memiliki kapasitas untuk tampil sebagai pimpinan pada jejaring perpustakaan global. Hal ini sejalan dengan visi Perpusnas untuk tidak hanya hadir dalam gerakan literasi global, tetapi ikut memimpin arah kebijakan dan inovasinya melalui peran perpustakaan.
APLiN adalah jejaring resmi perpustakaan publik negara-negara ASEAN yang berfungsi memperkuat kolaborasi, standardisasi, riset kebijakan, dan inovasi layanan perpustakaan di Asia Tenggara.
Pengukuhan kepengurusan baru dilakukan bertepatan dengan penyelenggaraan forum internasional bertajuk “Harnessing AI: Artificial Intelligence Applications in ASEAN Public Libraries”, yang membahas akselerasi pemanfaatan AI pada layanan perpustakaan publik untuk memperkuat literasi, produktivitas, dan inklusi sosial.
Dengan mandat baru ini, Indonesia tidak lagi hanya menjadi peserta jaringan literasi kawasan, tetapi tampil sebagai pengarah agenda, penentu standar, dan representasi politik pengetahuan di level ASEAN.
“Mandat ini bukan sekadar posisi, melainkan kerja kolektif untuk memastikan perpustakaan publik di ASEAN bergerak pada arah yang sama yaitu literasi naik, inklusi sosial nyata, dan inovasi teknologi hadir sebagai solusi,” ujar Chaerul Umam usai pengukuhan di Manila.
Kepala Perpustakaan Nasional RI E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa posisi Indonesia dalam APLiN sejalan dengan arah kebijakan nasional, terutama pembangunan manusia, diplomasi pengetahuan, dan akselerasi transformasi digital menuju Indonesia Emas 2045. Indonesia membawa komitmen untuk menjadikan perpustakaan sebagai instrumen pembangunan manusia, bukan hanya fasilitas penyimpanan koleksi.
“Selamat kepada Chaerul Umam atas amanat tambahan sebagai Presiden APLiN. Semoga amanah ini membawa kemajuan dan keberkahan bagi khalayak,” ujar Aminudin menyampaikan apresiasi dan dukungan institusi atas amanat tersebut.
Mandat APLiN 2026–2028 menempatkan Perpusnas sebagai aktor kunci dalam: merancang standar literasi publik ASEAN, memimpin kolaborasi riset dan inovasi perpustakaan, mengintegrasikan AI dalam layanan publik berbasis pengetahuan, memperkuat diplomasi budaya Indonesia di ruang kebijakan regional.
Kepemimpinan ini menandai pergeseran penting yaitu perpustakaan tidak lagi dipahami sebagai ruang sunyi, melainkan pusat produksi pengetahuan dan instrumen pembangunan manusia di Asia Tenggara. (Vin)
www.koranpelita.com Jernih, Mencintai Indonesia