Berkontemplasi Tentang Idealisme Pers Dulu, Kini dan Mendatang

Cacatan Hari Pers Nasional:

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH

*Penulis, Notaris tinggal di Sampit.

Banyak dimensi yang bisa dijadikan catatan tentang Pers Indonesia, di hari keberadannya yang ke 75. Pasang surut kiprah Pers tentu tidak cukup jika dianalisis atau disampaikan hanya dalam beberapa baris kalimat. Namun kepastiannya perjuangan Pers dari waktu ke waktu senantiasa mengguratkan idealisme. Secara eksternal, atau sebutlah pengamatan masyarakat terhadap idealism Pers ini menjadi catatan yang patut direnungkan, di tengah berbagai aktivitas teknis yang dilakukan oleh insan Pers dalam menggeluti profesinya.

Idealisme versus Bisnis
​ Baik pada masa lalu, masa kini dan mendatang, idealism Pers senantiasa berkutat dan tarik menarik dalam pengelolaan antara aspek idealisme pada satu sisi dan pengelolaan secara bisnis dengan basis industri pada sisi lain.aspek idealism mengabdi kepada kepentingan masyarakat dengan jargon memecahkan permasalahan yang ada dalam masyarakat, sementara pengelolaan secara bisnis berbasis keuntungan, atau paling tiak demi kelangsungan pengelolaan Pers yang besangkutan.

​Pertanyaan “nakal” diajukan dalam kaitan dengan hal di atas, masih adakah idealisme Pers di zaman sekarang. Bukankah idealisme sudah hancur berkeping-keping dijepit kepentingan bisnis dan politik, yang mau tidak mau meletakkan pes sebagai bagian integral di dalamnya. Faktanya, dewasa ini tidak banyak media yang mampu menjaga keseimbangan antara idealisme, bisnis dan politik. Kendatipun (mungkin) masih banyak wartawanyang mengedepankan hati nurani, dan berpihak kepada fact its sacre (fakta itu suci). Sebagai konskuensinya pasti ada risiko bagi wartawan yang bertahan dengan idealismenya, dengan pilihan pahit berkelana dalam jagat jurnalis dengan kepahitan.

​Sekaitan dengan hal ini, kendatipun pada akhirnya cenderung semakin jauh dari nyata, maka harapan untuk membangun Pers yang berkualitas tetaplah harus diwujudkan. Sebab, pada fitrahnhya Pers senantiasa membawa fungsi ideal yang dibutuhkan oleh masyarakat dan bangsa seperti menginformasikan, mendidik, menghibur, dan melakukan pengawasan sosial. Apa lagi jargon lama memberikan penegasan bahwa Pers adalah kekuatan keempat demokrasi, setelah kekuatan legislatif sebagai fungsi penampung dan penyalur aspirasi rakyat, eksekutif sebagai fungsi pelaksana pemerintahan dan yudikatif sebagai fungsi penegakan hukum.

Namun pada sisi khususnya dalam dismensi politis, Pers secara pelan tapi pasti memainkan peran politik, justru tanpa tanggungjawab. Artinya kalau para politisi begitu ketat dikawasi dan pada akhirnya harus mempertanggungjawabkan perilakunya, tidak demikian dengn Pers. Arah politik yang secara tidak tertulis menjadi misinya dibungkus sedemikian halus dengan bersembunyi dibalik penyajian dengan bungkus idealisme. Hal ini tentunya sesuatu yang kiranya menjadi cermin bagi Pers secara umum.

Idealisme Pers Masa Kini
Era kini merupakan masa digitalisasi. Secara umum Pers menghadapi tantangan berat dari media sosial, dengan sajian berita bersliweran dan nyaris tanpa control. Sejumlah masalah yang dihadapi media online saat ini, adalah koneksi internet di Indonesia masih lambat untuk mendukung pergerakan media online yang menuntut kecepatan dalam memuat berita.

Demikianpula faktanya masih banyak jurnalis yang tidak menguasai teknologi untuk mendukung aktivitas peliputan. Apalagi secara praktis para jurnalis saat ini banyak yang dituntut hanya mengejar perolehan iklan tanpa mempertimbangkan kualitas dan kevalidan informasi di dalam beritanya. Pada sisi lain diperlukan permakluman, karena keharusan pengelolaan Pers berdasarkan prinsip ekonomi, yhang bagian terbesarnya diperoleh dari iklan.
Namun bagaimanapun, di era seperti saat ini dan ke depan para jurnalis dituntut untuk semakin meningkatkan kualitas dirinya jika tidak ingin tergerus oleh pergantian masa. Tidak sekadar berupaya untuk memenangkan prinsip siapa yang paling cepat menaikkan berita. Wartawan harus terus bekerja berdasarkan idealism sebagaimana tecermin pada Kode Etik Jurnalistik, dengan menjadikan verifikasi sebagai hal yang utama. Dalam situasi apapun kinerja jurnalisme harus senantiasa didasari pada idealism untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.

Pada Perspektif idealisme, para jurnalis harus senantiasa berpegang pada prinsip untuk menyampaikan informasi berdasarkan kaidah jurnalistik. Tak dipungkiri bahwa Pers harus juga melihat sisi bisnis. Jika tidak, media itu bisa mengalami kebangkrutan. Bahwa tantangan jurnalis di era digital adalah bagaimana berita para jurnalis bisa meneduhkan dan tidak memprovokasi. Informasi yang diberikan harus jelas dengan narasumber yang kredibel dan prinsip Jurnalismenya harus bisa diseimbangkan dengan sisi bisnis media. Kendatipun keseimbangan inilah yang seringkali goyah, dan cenderung kepada kelangsungan Pers dengan dasar pengelolaan berdasarkan prinsip bisnis.
Kendatipun normatif dan samar, harus senantiasa dikedepankan kinerja para jurnalis harus memperhatikan kaidah menulis, tata bahasa yang pantas disampaikan kepada publik dan informasi yang disajikan tidak boleh mendiskreditkan hak-hak hidup dan privasi seseorang. Para jurnalis harus benar benar menjadi benteng pertahanan media untuk mencegah tersebarnya berita hoaks. Apa lagi di era ketika muncul fenomena yang nyata, yaitu jurnalisme media sosial. Jika ingin mendatangkan pembaca pada berita yang disajikan salah satu caranya harus dengan menggunakan peran dari media sosial. Namun demikian secara yuridis tidak berlaku UU Pers sebagai proteksi terhadap para jurnalis.

Kiranya diperlukan kiat khusus dari para jurnalis juntuk tetap menjaga idealism pada satu sisi dan kehidupan bisnis pada sisi lain. Satu diantara rambunya adalah agar semakin berhati-hati dalam beraktivitas di media sosial dan memahami dasar aturannya. Pemahaman terhadap kinerja para jurnalis, kiranya tidak tergoda dengan keuntungan sesaat yang bisa merusak cara berpikir dan akal sehat, serta mengadaikan idealismenya. Nilai kehormatan, dan kekayaan merupakan bagian dari profesi, untuk dijalankan sebagai bagian dari profesionalisme. Tentu tak diinginkan oleh kita semua, karena fungsi begitu strategis dari Pers kemudian membuat Pers lupa diri, arogan dan menganggap diri paling tinggi di antara profesi yang lain. Tetap berpegang teguh pada marwahnya, pada rel yang terus terjaga dengan senantiasa berpegang kepada idealism jurnalis. Dirgahayu Pers Nasional, Dirgahayu Jurnalis Indonesia.***

About dwidjo -

Check Also

Memberantas Mafia Tanah, Mulai Dari dan Berakhir di Mana (1)

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH *Penulis Notaris tinggal di Sampit. MAFIA tanah benar benar meresahkan. Praktik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *