NKS Menulis Ki Seno-1: Karena Ki Dalang juga sekadar Wayang

Hari itu, Rabu, 4 November 2020. Masih terlalu pagi saat sedih mruput menghampiri. Ini kabar sedih yang berlebih. Berita duka yang dalam seketika membuat dada saya mendadak sesak. Sepagi itu, saya sudah dipaksa melengguh nahan luh.

Ki Seno sedo. Kabar itu menggelegar, membuat saya tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Saya hanya membatin, Ki Seno Nugroho sedo. Duh Gusti. Baru setelah itu, kesadaran menuntun saya untuk melafalkan doa-doa.

Hari kelabu itu, menyadarkan saya bahwa Ki Dalang juga sekadar wayang bagi Yang Maha Kuasa.

Mungkin ada bertanya-tanya, mengapa saya sampai sedemikian menderita oleh duka. Sudah pasti, karena saya orang Jawa. Malah Jawa yang ndeso, yang dari kecil sampai remaja hanya paham satu-satunya hiburan adalah nonton wayang.

Di dusun saya, Dusun Nganjir, Kalurahan Hargorejo, Kapenewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, wayangan hanya mampu digelar oleh kelurahan. Berarti digelarnya setahun sekali, setiap merti deso. Jadi, bagi saya, betapa nonton wayang adalah hiburan yang sangat nikmat diresapi karena nunggunya satu tahun.

Begitulah. Seperti umumnya orang Jawa, wayang bagi saya bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan.  Saya banyak dituntun wayang untuk menjadi orang Jawa yang njawani. Dan, barangkali karena Bapak dan Simbok saya juga orang Jawa, yang juga penonton wayang, jadilah pituturnya banyak samanya dengan tuntunan wayang.

Kunci utama pitutur Simbok dan tuntunan yang diberikan pertunjukan ringgit purwo adalah bahwa kebenaran selalu menang terhadap kejahatan. Biasanya, kemenangan itu diperoleh di akhir cerita, setelah diperjuangkan, dijalani, ditekuni dengan proses panjang yang bahkan lewat perang dan drama yang tak lunak.

Tanggal 28 Oktober 2020, Sumarjono masih sempat bertemu Ki Seno Nugroho.

Penghormatan terhadap orangtua dan pemimpin juga digambarkan dengan baik dalam adegan wayang, perjuangan ksatria yang rela bersusah payah menuntut ilmu dan berlatih dengan kesungguhan bahkan dengan topo broto menghasilkan ksatria yang digjaya dan bijaksana.

Kekaguman saya kepada profesi dalang memang bukan kepalang. Sebab, seorang dalang sudah pasti multitasking, linuwih, serta waskita. Tidak hanya secara kasat mata, tapi yang utama adalah kewaskitaan yang tidak terlihat.

Dalang bisa memerankan banyak figur dengan suara berbeda-beda. Suara perempuan pun bisa diucapkan layaknya suara perempuan. Dalang mesti hafal ratusan tembang dan gending. Ialah sutradara, penulis naskah, seorang narator, seorang pemain karakter, penyusun iringan, seorang penyanyi, penata pentas lain sebagainya. Sudah jelas dalang adalah seorang pemimpin dalam pertunjukan bagi para wiyogo dan pesinden.

Nah, tentang Ki Seno Nugroho, sudah lama saya mengaguminya. Kagum dengan segala fenomenanya. Inilah dalang muda (karena usianya masih 48 tahun saat wafat) yang paham tentang cara mendalang. Bukankah mendalang itu, bukan sekadar menjadi dalang para wayang? Sebab mendalang artinya juga menyiasati situasi, menunggani teknologi, memberi sihir kelir. Dan, Ki Seno melakukan itu dengan sangat baik.

Sumarjono dan Tim BPJamsostek berbincang dengan Ki Seno, tanggal 28 Oktober 2020.

Sebelum dihentikan oleh pandemi Covid 19, kelir Ki Seno Nugroho adalah sihir. Ia manggung nyaris setiap malam, dengan ribuan penonton. Lalu, Bagong bagai diberi nyawa, sehingga selalu mampu membuatnya hidup. Bagong di tangan Ki Seno, terasa murup, ngleleng, menyuarakan krentegin ati banyak orang.

Saya pertama kali bertemu dengan Ki Seno Nugroho saat masyarakat Pedukuhan Nganjir tempat saya dibesarkan nanggap wayang. Rasanya saya masih ingat benar bahwa di tanggal 12 Juni 2019, Ki Seno membawakan lakon Parto Kromo (Menikahnya Arjuna) yang secara khusus saya pesan mengingat dua minggu sebelumnya saya merayakan ulang tahun ke-25 pernikahan.

Sumarjono dan Ki Seno saat wayangan pada 12 Juni 2019 di Dusun Nganjir, Hargorejo, Kokap, kulon Progo.

Tanggal 12 Juni setahun lalu itu, menjadi momentum paling wingit bagi saya. Wingit dalam makna mendalam, karena Ki Seno memberi kado sangat lekat lewat lakon Parto Kromo. Bagi orang Jawa, atau buat pecinta wayang, ini lakon yang tidak biasa. Lakon tua yang agak jarang dimainkan, karena terasa sakral. Cerita menikahnya Raden Arjuna dengan Dewi Woro Sembodro itu, hanya dibabar pada hajatan pernikahan.

Saya nonton sampai pagi. Ngebyar bersama sobat ngebyar lainnya, karena memang lakon itu, dimainkan untuk saya. Parto Kromo yang dilumuri sesanti, seperti memberi bekal bagi pernikahan saya yang menginjak usia 25 tahun. Saya, malam itu, merasa bagai penganten anyar,  diingatkan kembali makna pernikahan, seperti saat 25 tahun silam mengucap ijab.(bersambung)

About NKS

Check Also

Nasdem Siapkan Perangkat Konvensi Capres-Cawapres 2024

Jakarta, Koranpelita.com Dewan Pakar Partai Nasional Demokrat (Nasdem) mulai merancang Konvensi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *