NKS Menulis: Karena NKS itu beda dengan BSBT

Tanda-tanda itu segera tiba. Pertanda bahwa waktu berlalu serasa dalam sekedipan mata. Lima tahun bertugas di institusi bergengsi, rasa-rasanya tidak singkat, meski bukan pula terbilang panjang. Saya lebih senang mengatakan dalam takaran yang pas. Sempurna.

Jika ini soal sewu kutho (petikan judul buku saya, njih meniko sewu kutho) saya mengibaratkan sebuah perjalanan yang memberi banyak pelajaran. Dan, perjalanan itu sudah mendekati hari kembali. Pulang dengan membawa oleh-oleh yang diharapkan disukai oleh seisi rumah.

Benar. Baru kemarin sore saya mendapat pesan dari seorang rekan direksi. Pesan tentang panitia seleksi Dewas dan Direksi BPJS mengadakan konferensi pers. Setelah saya baca, inti konferensi pers itu berisi keanggotaan dan tugas panitia seleksi, persyaratan umum dan khusus dewas dan direksi. Juga, jadwal seleksi.

Rekan saya ini mengirim pesan justru bukan untuk seleksi di institusi yang masih lima bulan lagi harus saya jalani. Beliau menyertai dengan sebuah pesan agar saya mendaftar. Saya menjawab, saya mesti kembali ke rumah. Rekan saya ini, rupa-rupanya juga memilih peruntungan lain, meski dengan bahasa yang lebih maknawi: belum ada hal yang menggetarkan hati untuk ikut seleksi.

Mengapa saya harus kembali ke rumah? Karena saat lima tahun lalu saya pamit, diberi restu dan doa-doa keselamatan. Saya tak ingin dibilang seperti judul sebuah lagu yang menggambarkan seseorang yang pergi bertahun-tahun namun tak pulang-pulang.

Saya bukan hanya melewati tiga kali puasa, tiga kali lebaran, namun lebih dari itu. Jika saya tak juga pulang,  bisa-bisa menjadi ‘bukan sekedar Bang Toyib’ (BSBT). Atau, lebih celaka lagi, sebutan NKS yang terlanjur membuat saya merasa keren, akan diganti singkatannya menjadi Ngilang Kok Selamanya. Itu yang perlu saya hindari.

Lima bulan tersisa, tak menyurutkan saya untuk semangat berkarya. Justru di sisa waktu yang hanya sedikit ini rasanya saya mesti lebih giat bekerja. Bukan sebaliknya. Bang Toyip pun ingin pulang dengan banyak meninggalkan kenangan. Bukan kenangan pahit, namun kenangan yang membuat rindu untuk bertemu.

Belum banyak memang prestasi untuk institusi apalagi untuk pekerja dan negeri ini. Masih banyak mimpi yang belum terealisasi. Yang saya akan titipkan untuk pimpinan selanjutnya, dengan sebuah catatan jika mimpi itu masih relevan.

Belum saatnya saya berpamitan, karena tugas masih banyak hingga benar-benar lima tahun terjalani. Ditambah lagi saya harus menempa diri dan belajar kembali tentang regulasi, pengawasan, pengembangan industri, dan lain-lain yang telah saya tinggalkan selama ini. Saya yakin sudah banyak perubahan dan adaptasi diri rasanya harus segera dilakukan.

Sayang memang pandemi membuat harus ada jarak. Padahal sejak awal menjaga amanat, saya selalu mencoba mendekat akrab tanpa jarak dengan insan institusi hebat ini. Lewat kunjungan ke cabang saya menjalin kedekatan. Atau mendekat lewat bermacam cabang olahraga dari lari, jalan kaki, pingpong, bulutangkis, paddling, futsal, atau basket agar hubungan emosional lebih lengket. Walau kini harus menjaga jarak, namun saya percaya selalu tetap dekat di hati. Kesehatan tentu hal yang harus diutamakan.

Dan, ada satu cara saya agar lebih akrab adalah dengan menulis setiap kunjungan lengkap dengan dukungan foto kebersamaan. Cerita kebersamaan dalam sebuah acara formal atau sekedar makan malam yang disertai dengan kisah bagaimana lawan bicara bekerja dengan giatnya meraih kepesertaan atau melayani pelanggan atau mengatur tata ruang kerja menjadi lebih nyaman atau hal lainnya ternyata mampu membahagiakan. Begitupun saat ditanya tentang kabar keluarga yang kadang jauh dipisah oleh jarak dan waktu.

Begitulah. Lima bulan ke depan saya masih di kota yang sama agar genap lima tahun (ganjil atau genap ya kalau lima tahun itu?). Setelah itu akan ada jarak dan waktu yang memisahkan. Saya yakin jarak dan waktu diciptakan oleh Tuhan agar kita tahu seperti apa rasa rindu.

Bang Toyib pasti akan pulang ke kampung halaman. Ia sadar akan adanya anak istri yang setia menanti. Bahkan untuk waktu yang cukup lama: lima kali puasa, lima kali lebaran. Bang Toyib pun rindu canda tawa bersama dengan keluarga, sebuah harta yang paling berharga. Terima kasih Emak. Terima kasih Abah. Untuk tampil perkasa bagi kami putra putri yang siap berbakti. (*)

About NKS

Check Also

Wapres Resmikan Rumah Sakit Mata Achmad Wardi

Jakarta, Koranpelita.com Rumah Sakit Mata Achmad Wardi yang dilengkapi dengan fasilitas Retina dan Glaukoma Center  …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *