Di Samigaluh, Menanti Hujan

Mendekati pertengahan bulan September belum ada tanda-tanda akan hujan di rumah Samigaluh. Mendung silih-berganti muncul namun belum juga membawa hujan.

Sungai Tinalah tempat saya biasa main pun masih sedikit airnya sehingga tak bisa ciblon di sungai saat pulang kampung bulan lalu. Demikian juga sumur dan belik di rumah mulai menipis airnya.

Pantas saja ketika tadi pagi saya ingatkan teman yang sedang berada di Samigaluh supaya jangan lupa mandi sebelum aktivitas meninjau kebun, jawabnya mandinya ntar sore saja biar ngirit air.

Sejenak saya tertawa, karena itu pasti alasan teman saya yang malas mandi air dingin dengan berdalih menghemat air. Namun bagi warga yang punya tanaman, kecukupan adanya air sangat penting. Tanaman butuh air untuk bisa tumbuh berkembang. Tentunya selain diberi nutrisi berupa pupuk organik maka air diperlukan supaya tanaman tidak mati kekeringan.

Di desa, kita tak bisa hanya mengandalkan air sungai atau air sumur untuk kebutuhan sehari hari, apalagi untuk menyiram tanaman. Tentu kebutuhannya sangat banyak. Dan bagi petani yang lokasi lahannya jauh dari saluran irigasi, tentu harapannya adalah dari air sumur atau air hujan. Makanya untuk kebutuhan menyiram kebun pepaya, kami sengaja membuat tandon tandon air berupa kolam untuk menampung air hujan.

Terasa sekali manfaatnya saat musim kemarau seperti saat ini, air kolam bisa digunakan untuk menyirami tanaman. Selain itu, juga digunakan untuk memelihara ikan sehingga mengurangi jentik jentik nyamuk. Sekarang ini saat musim kemarau, datangnya hujan pasti sangat dinanti. Meskipun beberapa daerah sudah mulai hujan, namun tampaknya hujan masih enggan turun di Samigaluh, sehingga benar kata teman saya bahwa kita harus hemat menggunakan air.

Kita senantiasa lupa telah menyedot air tanah atau sumur kemudian menggunakannya  dengan boros hanya karena tidak mengeluarkan uang untuk membeli air. Beda dengan listrik di mana kita akan segera menghemat penggunaan listrik begitu melihat tagihannya melonjak besar.

Apalagi saat ini, ketika Adab Kehidupan Baru atau New Normal, mengharuskan semua pihak mengkampanyekan 3M untuk mencegah penyebaran virus Corona: Memakai Masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak.

Nah terkait kampanye untuk mencuci tangan, mau tak mau kita harus menggunakan air. Bila kita mencuci tangan dengan air mengalir dalam minimal waktu 25 detik maka setidaknya ikut menyumbang terbuangnya 1,5 liter air.

Bayangkan berapa kali dalam sehari kita mencuci tangan dan berapa banyak air yang terbuang sia sia. Itu baru pemakaian air untuk mencuci tangan, belum lagi penggunaan air untuk kebutuhan lainnya.

Oleh karena itu kita perlu berhemat air dengan cara mencuci tangan secara tepat. Yang penting diingat adalah matikan kran air selama kita menggosok tangan dengan sabun secara menyeluruh sampai sela sela jari dan ujung jari  yang biasanya sekitar 20 detik. Selanjutnya baru bilas dengan air mengalir hingga bersih.

Dengan langkah tersebut maka kita sudah ikut menghemat air. Demikian juga saat menggosok gigi atau mencuci piring, jangan biarkan air mengalir sia sia. Mari kita buka dan matikan keran air seperlunya saja.

Bayangkan bila semua orang melakukan hal yang sama, berapa banyak air yang dihemat tanpa mengurangi manfaat air untuk menjaga kebersihan. Jadi gunakanlah air seperlunya. Jangan hidupkan kran air terlalu lama yang bisa menyebabkan air terbuang percuma. Jika hal ini dilakukan maka kita ikut menjaga ketersediaan air di bumi.

Ingat bahwa manusia berhutang air kepada tanah dan seharusnya ikut menjaga kelestarian tersedianya air karena air merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan manusia.

Semoga musim hujan segera tiba dan petani tidak kesulitan mendapatkan air untuk lahan tanamannya. Mari jaga bumi yang telah memberi kehidupan dengan berhemat air.(*)

About dwidjo -

Check Also

Mulai Sabtu Hingga Senin, Pasar Trayeman Ditutup Sementara

Slawi, koranpelita.com – Pemkab Tegal resmi menutup sementara operasional Pasar Trayeman, Slawi, Kabupaten Tegal, Jumat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *