Prof Dr Lucky Bayar Harga Tanah Sudah Dimark Up Terdakwa F dan J

Jakarta, koranpelita.com

Pengadilan Jakarta (PN) Jakarta Pusat kembali mengadili terdakwa J dan F  dalam sidang terpisah di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (7/9). Sidang kasus mark up harga tanah itu dipimipin oleh Hakim Tuty Haryati, SH, MH dengan Hakim Anggota Yusuf Pranowo, SH,MH dan Bambang Nurcahyono SH, M.Hum.

Keduanya didakwa melakukan pemufakatan jahat dalam kasus pembelian tanah di Cisarua, Bogor. Kedua terdakwa juga memalsukan data dalam akte otentik, pemalsuan surat dan pengelapan.

Sidang terdakwa F  dengan jaksa Guntur Adi N, SH menghadirkan empat saksi yakni Prof DR Lucky Aziza, Retno selaku Legal PT Jakarta Medika, notaris Arfiana Purbohadi dan karyawan notaris Heryanto Senin (7/9). Sidang sidang sempat diwarnai debat sengit antara saksi Prof Dr Lucky Aziza dengan kuasa hukum terdakwa F, Firdaus.

Pengacara itu mencecar Dr Lucky dengan pertanyaan jauh ke belakang saat Dr Lukcy membeli tanah di bagian yang dibeli dari Leonova Marlius yang harganya dimark up oleh J dan F. Pertanyaan ini membuat Dr Lucky protes karena masa lalu di luar konteks masalah yang tengah disidangkan.

Kuasa hukum F bertanya kemudian mengapa tanah yang tadinya Rp 1,1 juta menjadi Rp 23juta, Dr Lucky menjawab, kuasa hukum tidak menyimak apa yang diucapkan saksi.

Sebelumnya jaksa bertanya apakah saksi kenal J, saksi mengatakan tidak kenal.Tadinya dia tahu J hanya mandor bangunan. “Saya punya ribuan karyawan jadi tidak mengenalnya satu persatu,” kata Dor Lucky.

Ketika disinggung soal niatan membeli tanah, Lucky mengatakan tanah yang depan di pinggir jalan juga dia beli sendiri. Tidak pernah beli melalui orang lain. Sementara untuk membeli tanah yang bagian belakang milik Leonova, Dr Lucky tidak pernah memerintahkan F untuk bernegosiasi.

Karena terlalu sibuk dengan pekerjaan selama dua tahun terakhir, Dr Lucky mengutus Retno mewakilinya sebagai owner. Perikatan jual belinya kemudian dibuat oleh Noteris Arfiana. Dr Lucky tidak melakukan tanda tangan jual beli tersebut, hanya diwakili Retno sebagai owner nanti belakangan baru ditandatangani oleh Dr Lucky sendiri.

Pembayaran dilakukan dari 2018, tetapnya September 2018, yang usulannya datang dari Syamsudin. Dr Lucky tidak mengecek. Dalam hal ini Dr Lucky tidak mengecek hanya menandatangani cek. Belakangan diketahui nama pembawa cek tidak dicoret.

Cek yang tiga kali dikeluarkan tersebut untuk perikatan yang ada di meja dokter Lucky yang harganya Rp. 2 juta sehingga harga obyek tanah Sertipikat Hak Milik No. 525/Cisarua tersebut menjadi Rp. 1.440.000.000,-

Padahal berdasarkan akta pengikatan untuk jual beli yang dibuat oleh notaris Arfiana Purbohadi, SH yang belum ada nomor dan yang sudah ditandatangani oleh para pihak penjual dan saksi-saksi, harga obyek tanah Sertipikat Hak Milik No. 525/Cisarua tersebut sepakat Rp. 1,1 juta per meter dan harga keseluruhan sebesar Rp. 792.000.000,-
Perikatan yang sudah disulap menjadi Rp 2juta permeter, pembayarannya dilakukan tiga kali.

Setelah Prof. Lucky melakukan pembayaran lunas tanah Sertipikat Hak Milik No. 525/Cisarua atas nama Lionova Marlius tersebut, kemudian dibuatkan Akta Jual Beli No. 444/2018 tanggal 11 Desember 2018 yang dibuat berhadapan dengan PPAT Arfina Purbohadi, S.H. Sampai saat ini Prof. Lucky belum menerima sertifikat atas nama Prof. Lucky dan Salinan Akta Jual Belinya, walaupun sudah lunas sejak Maret 2019.

Sementara saksi Retno mengatakan menyerahkan kepada Dr Lucky perikatan yang nilainya Rp 1,1 juta. Begitu juga saksi Arfiana tidak mengetahui adanya perikatan yang Rp 2juta. Dia hanya mengetahui perikatan yang diketik oleh Heryanto yang nilainya Rp 1,1 juga.

Heryanto juga mengaku hanya mengetik perikatan yang Rp 1,1 juta dan tidak pernah diserahkan kepada siapapun. Apalagi surat itu belum ada nomor, tapi  sudah di tandatangani oleh para pihak penjual dan saksi-saksi, harga obyek tanah Sertipikat Hak Milik No.525/Cisarua tersebut sepakat Rp. 1, 1 juta per meter.

Harga inilah yang dibayar oleh dokter lucky melalui tiga cek tersebut di atas. Cek itu dicairkan terdakwa Jun atas perintah Fik tanpa sepengetahuan Prof. Lucky (PT. Jakarta Medika), lalu di transfer ke penjual sebagian, ke atas nama anak penjual:

Tanggal 14 September 2018, setor tunai ke rekening BNI nomor: 43487062 atas nama cut Safira Zulva, sebesar Rp 292.000.000. Tanggal 11 Desember 2018, ditransfer ke rekening BNI nomor: 43487062 atas nama cut Safira Zulva, sebesar Rp. 100.000.0003.

Tanggal 11 Januari 2019, setor tunai ke rekening BNI nomor: 43487062 atas nama Cut Safira Zulva, sebesar Rp. 417.000.000. Tanggal 14 maret 2019, tunai dengan kwitansi yang ditanda tangan Cut Safira Zulva dan Cut Nadila, sebesar Rp. 140.000.000. Total yang ditransfer atas nama penjual bukan Rp. 792.000.000, tetapi Rp. 809.000.000 sehingga terjadi kelebihan bayar Rp. 17.000.000.(Tom)

About redaksi

Check Also

Terpilih Ketua DKD, Dr Jawade Hafidz: Segera Selesaikan 13 Perkara Pelanggaran Etika

SEMARANG,KORANPELITA – Ketua DKD terpilih yakni Dr H Jawade Hafidz SH MH mengatakan, pihaknya akan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertanyaan Keamanan *Batas waktu terlampaui. Harap selesaikan captcha sekali lagi.

Eksplorasi konten lain dari www.koranpelita.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca