Diaspora Indonesia Apresiasi Program BKKBN

Jakarta, Koranpelita.com

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) (22/08). Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) memberikan penghargaan kepada Prof Dr. Haryono Suyono pada momen Seminar 75 Tahun Indonesia Merdeka: Kontribusi DIaspora Indonesia Dalam Konteks Kesehatan Global (22/08).

Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas keberhasilannya dalam membentuk dan mengembangkan Posyandu di Indonesia.

Webinar dibuka oleh Menteri Riset RI Prof. Dr. Bambang Brojonegoro dan sambutan Kepala BKKBN Dr. (H.C), dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) dan Prof Haryonoi Suyono yang menyampaikan sejarah program BKKBN di masa kepemimpinannya.

Perkumpulan yang diketuai oleh Dr. Moh. Aziz yang mengajar di Universitas Tokyo Jepang. Keanggotaan diaspora ni telah mencapai lebih dari 1200 orang dan bekerja atau melakukan tugas di berbagai negara bekerja sebagai tenaga dosen, riset atau dalam jabatan lain di perguruan tinggi.

Prof. Bambang Brodjonegoro dalam video sambutanya nenyampaikan harapannya agar kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh I4 nantinya akan berdampak pada percepatan internasionalisasi perguruan tinggi di Indonesia. Melahirkan semangat membangun ilmu pengetahuan.

Kami berharap program-program seperti ini akan berjalan secara konsisten dan berkelanjutan dengan diarahkan untuk memperkuat kerjasama sekaligus membuka kerjasama yang baru antara ilmu dengan ilmuwan. ujar Bambang. Target kolaborasi ilmu pengetahuan diharapkan dapat memiliki daya saing yang bisa bersaing dan membawa Indonesia ke kancah internasional.

“Mari bersama-sama membangun masa depan Indonesia dan berkolaborasi untuk membawa nama Indonesia ke pentas ilmu pengetahuan dunia Indonesia sebagai bumi ilmu pengetahuan,” ajak Bambang di akhir smabutannya.

Prof Haryono Suyono mantan Kepala BKKBN menyampaikan sejarah singkat perkembangan program pembangunan keluarga, kependudukan dan keluarga berencana dimasanya. Program KB pada tahun 1970 melalui pendekatan medis dengan fasilitas klinik di semua wilayah. Bersamaan dengan itu dikembangkan pendekatan kemasyarakatan yang di barengi dengan partisipasi perguruan tinggi dan masyarakat luas.

Pengembangan yang berhasil dalam pendekatan kemasyarakatan dilanjutkan dalam lima tahun kedua dengan kegiatan operasional yang seimbang antara pendekatan klinis dan pendekatan kemasyarakatan. Pada awal tahun ketiga dari garapan lima tahunan, makin diyakini bahwa pendekatan kemasyarakatan bersama semua komponen pembangunan bangsa adalah pilihan yang tepat.

Mulai tahun 1983 program KB berfokus pada pendekatan kemasyarakatan, dengan dibentuk Pusat Pelayanan Terpadu di tingkat desa dengan nama Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).  Pada pelaksanaannya dilaksanakan oleh aparat BKKBN dan Departemen Kesehatan di bantu ibu-ibu PKK di desa. Program ini mendapat dukungan dari Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah daerah sampai level terbawah. Waktu itu kegiatan posyandu didampingi oleh penyuluh lapangan KB dan para bidan desa.

Program KB melalui kegiatan Posyandu semakin meluas dan menampakan hasil yang positif. Keberhasilan berdampak positif, Indonesia banyak didatangi tamu berbagai negara untuk belajar. Inovasi pendekatan kemasyarakatan membawa Indonesia ke kancah dunia. Tahun 1989 Indonesia mendapatkan Penghargaan UN Population Awards dari PBB yang diserahkan langsung oleh Sekjen PBB di Markas PBB di New York kepada Presiden RI saat itu HM Soeharto.

“Saya berharap program Bangga Kencana dapat memberi dukungan yang kuat menuju Indonesia Emas tahun 2045, maka Program BKKBN perlu pertama-tama diarahkan lebih tajam kepada usaha meningkatkan mutu sumber daya manusia,” harap Haryono.

mempertahankan usia harapan hidup melalui perbaikan tingkat kesehatan penduduk agar angka kematian bayi dan anak, ibu hamil dan remaja terus diturunkan, Usia Harapan Hidup lansia yang meledak jumlahnya dipertahankan pada posisi tinggi seta mutu kesertaan KB diarahkan pada pasangan usia muda dan diharap ber-KB dengan lebih lestari.

Presiden Jokowi berharap untuk meningkatkan Indeks Mutu Manusia (IPM), mempertahankan usia harapan hidup melalui perbaikan tingkat kesehatan penduduk agar angka kematian bayi dan anak, ibu hamil dan remaja terus diturunkan. Adanya jaminan bagi usia penduduk usia sekolah untuk mendapatkan kesempatan belajar sampai tingkat setinggi-tingginya. Memastikan setiap penduduk muda usia kerja dapat memiliki kerja yang menghasilkan pendapatan untuk persiapan rumah tangga dan jaminan hidupnya. Selain itu para lansia produktif perlu tetap mendapat kesempatan kerja agar tidak mempengaruhi dependency rasio penduduk muda yang jumlahnya besar. Dibutuhkan strategi di sepuluh tahun pertama untuk disempurnakan program pada bagian akhir menjelang tahun 2045, di mana kita berada era 5.0 yang serba cepat dan perlu efisiensi yang sangat tinggi.

Pada kesempatan ini Kepala BKKBN menyampaikan kekagumannya atas keberhasilan program Bangga Kencana di saat kepemimpinan Prof Haryono. Program disesuaikan dengan hal-hal baru, nilai-nilai, situasi dan kondisi saat ini.

Kita meneruskan apa yang sudah di warisi pendahulu kita. Kita teruskan nilai-nilai yang memiliki prestasi baik kata Hasto.

“Karena ekosistem yang ada sekarang sudah berbeda kita harus menentukan hal-hal baru untuk mempertahankan prestasi bangsa kita di mata dunia, tambah Hasto dalam sambutannya. (Humas BKKBN)

About redaksi

Check Also

Menteri ATR BPN, Secara Nasional Ungkap 87 Kasus Mafia Tanah Potensi Kerugian Capai Rp 5,16 Triliun

SEMARANG,KORANPELITA- Menteri ATR/BPN Agus Harimurti Yudhoyono menyatakan, bahwa penanganan kasus mafia tanah sangat penting untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertanyaan Keamanan *Batas waktu terlampaui. Harap selesaikan captcha sekali lagi.

Eksplorasi konten lain dari www.koranpelita.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca