Saya Tidak Pernah Bermimpi Melihat Arah Perkembangan Bangsa Ini

Rais Abin Jelang 94 Tahun

Oleh Dasman Djamaluddin

*Berkunjung ke rumah Letnan Jenderal TNI (Purn) Rais Abin, Selasa, 4 Agustus 2020, jelang usianya 94 tahun, tepat pada hari kelahirannya tahun ini, hari Sabtu, tanggal 15 Agustus 2020, mengingatkan kenangan saya bersama beliau, pertama kali melangkahkan kaki ke Gedung Legiun Veteran RI (LVRI), pada tahun 2019 untuk membicarakan masalah para Veteran di tanah air kita ini. Juga di bulan Agustus ini, tepatnya tanggal 10 Agustus 2020 merupakan Hari Veteran Nasional, oleh karena itu sangatlah tepat jika Letjen Rais Abin mengundang saya berbincang-bincang ke kediamannya.*

Di tengah merebaknya Covid-19 di dunia kali ini, pembicaraan kami pun dengan menggunakan masker.

Rais Abin yang lahir pada 15 Agustus 1926 di Koto Gadang, Agam, pada masa Hindia Belanda itu menulai pembicaraannya juga dari Minangkabau.

” Jika diartikan situasi yang terjadi sekarang ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, saya mengibaratkan kita berada seperti anak di dalam cerita Malin Kundang,” ujar Rais Abin.

Malin Kundang adalah cerita yang berasal dari provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu. Cerita rakyat yang mirip juga dapat ditemukan di negara-negara lain di Asia Tenggara.

“Itulah sebabnya, saya berpesan kepada generasi penerus di usia saya 94 tahun ini, kepada yang muda-muda, agar janganlah bertindak seperti Malin Kundang,” jelas Rais Abin.

Tokoh militer yang pernah menjadi Ketua Umum LVRI dan Panglima Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1976-1979 itu agak kecewa melihat perkembangan bangsa dan negara setelah reformasi. “Undang-Undang Dasar 1945 kita diutak atik, bahkan ditambah-tambah, ” kembali Rais Abin menegaskan.

Memang ide untuk mengamandemen Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, buat LVRI sudah lama dikumandangkan. Rais Abin sebagai anggota LVRI menganggap perlu meminta pengkajian ulang terhadap amendemen UUD 1945. Sehingga nantinya bisa mengubah jalan kehidupan berbangsa menuju lebih baik.

“Selain itu juga bertujuan untuk membuat generasi bangsa ke depan memahami isi UUD,” ujarnya.

LVRI telah mengeluarkan Pokok-Pokok Pikiran Kaji Ulang Perubahan UUD 1945, pada tahun 2013.

Mereka ini hadir tanpa membusungkan dada. Bahkan dengan rendah hati, usia yang uzur (seperti Letjen/Purm Rais Abin/Angkatan Darat).

Sejauh ini diakui bahwa Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan perubahannya telah mengubah secara radikal bangunan sistem pemerintahan Indonesia. Ada beberapa lembaga negara yang kehilangan fungsi dan kewenangannya seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Majelis itu tidak lagi menjadi lembaga tertinggi negara, karena lembaga itu menjadi bikameral yang terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Rais Abin, meski usianya jelang 94 tahun, tetapi masih tetap berpikir tentang masa depan kehidupan generasi penerus agar lebih baik. Ia menikah dengan seorang perempuan bernama Dewi Asiah Hidayat, mantan wartawati harian “Pedoman,” dan putri dari Letjen (Purn) TNI Letjen (Purn) TNI Hidajat Martaatmadja. Pernikahan mereka telah dianugerahi tiga orang anak, tujuh orang cucu serta beberapa orang cicit.

Sepanjang tahun 1976 – 1979, Rais Abin dipercaya sebagai Panglima United Nations Emergency Forces (UNEF) II, suatu pasukan perdamaian dari PBB yang terdiri lebih dari 4000 tentara yang berasal dari berbagai negara di dunia, yaitu Australia, Austria, Kanada, Finlandia, Ghana, Indonesia, Irlandia, Nepal, Panama, Peru, Polandia, Senegal, dan Swedia.

UNEF II bertugas menjaga perdamaian antara Mesir dan Israel  setelah perang Yom Kippur (Oktober 1973). Berkat lobi dan diplomasinya, Rais Abin, berhasil mempertemukan Presiden Mesir, Anwar Sadat, dengan PM Israel, Menachem Begin, yang dilanjutkan dengan perundingan perjanjian damai di Camp David, dan diakhiri dengan penandatanganan perjanjian damai antara Mesir dan Israel yang dilakukan di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, yang disaksikan Presiden AS, Jimmy Carter, pada tahun 1979.

Sampai saat ini Rais Abin merupakan satu-satunya jenderal Indonesia yang pernah memimpin pasukan internasional (PBB) dalam misi perdamaian yang beranggotakan ribuan tentara dari banyak negara di dunia.

Sedangkan di dalam negeri berbagai tugas negara juga pernah diembannya, antara lain Sekjen KTT Non Blok periode 1991-1992, Duta Besar Malaysia dan Singapura, serta jabatan lainnya. Setelah pensiun ia aktif LVRI.

Atas jasa-jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputra Adipradana dan Bintang Mahaputra Utama oleh Pemerintah Republik Indonesia serta Medali Perdamaian dari PBB. (Penulis wartawan senior tinggal di Jakarta)

About dwidjo -

Check Also

Tak Perlu Khawatir Berlibur Ke Pantai Likupang

Travelling ke Sulawesi Utara, Taman Laut Bunaken sudah terlalu biasabagi para pecinta bahari. Namun, jika …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *