Jalur Zonasi Sudah Penuhi Keterwakilan Semua Pihak Untuk Lebih Tertib

Jakarta. Koranpelita.com

Polemik terkait Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Republik Indonesia No. 51 Tahun 2018 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menjadi sorotan publik.

Tak pelak hal ini menuai protes dari orang tua siswa yang terjadi dibeberapa daerah karena dirasa kurang mewakili ketidakadilan masyarakat.Menurut Prof Sumaryoto sebenarmya peraturan dibuat sudah melalui proses, pembahasan dan pertimbangan yang matang sehingga sudah mewakili semua.Terjadi gejolak persoalannyakan karena mengubah dari pola lama ke pola baru sehingga ada yang merasa dirugikan atau diskriminasi.

“Secara substansi peraturannya sudah baik dalam rangka mengendalikan. Selama ini menggunakan jalur prestasi semisal nilai bagus diterima walaupun menyebrang wilayah dan ini yang sekarang ditertibkan sehingga yang diprioritaskan menggunakan zonasi/wilayah”ujar Prof Sumaryoto selaku Rektor UNINDRA ketika dijumpai KORANPELITA.COM, di Jakarta, Jumat (10/07/2020)

Menurut Prof Sumaryoto dengan menggunakan sistem zonasi sebenarnya membantu siswa soal tranportasi dan mengurangi traffic/kepadatan karena lintas zona bermasalah soal tranportasi.

“Ini berpulang pada kesadaran orang tua siswa jangan sampai dicari-cari kelemahan dan kesalahanya sehingga merasa didiskriminatif ini tidak betul karena jalur prestasi juga dikasih tempat berapa persen namun yang diutamakan jalur zonasi.Sebenarnya ini masalah simple cuma dibesar-besarkan, “terangnya.

Dikatakan Prof Sumaryoto kebijakan ini sebenarnya sudah benar dalam pelaksanannya ada pihak-pihak atau kelompok yang dirugikan karena selama ini merasa sudah nyaman dengan kebijakan lama. Begitu tertib malah bermasalah.

‘Secara umum peraturan dibuat untuk lebih baik dan tertib.Perkara ada yang dirugikan pasti tidak ada peraturan yang mutlak menguntungkan semua pihak,”imbuhnya

Permasalah utama dalam Permendikbud ini tambah Prof Sumaryoto adalah soal pandangan masyarakat yang kurang pas soal zonasi yakni seolah-olah sekolah tertentu segala-gala ini yang salah.

“Seolah-olah sekolah menjadi dominan dalam membentuk kepribadian dan kualitas intelektualnya.Padahal kalau bakatnya pintar tetap pintar dimanapun sekolahnya,”tandasnya (han)

About dwidjo -

Check Also

WINNER Pererat Hubungan Indonesia-Belanda Capai SDGs

Jakarta,Koranpelita.com Pada tanggal 24 – 26 November 2020, akan diselenggarakan pekan kerjasama pendidikan dan riset …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *