Potensi Bakteri Antagonstik dan Pemanfaatannya Sebagai Biopestisida

Oleh: Ebrry Dwi Putra

Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terbesar di dunia, menurut Direktorat Jendral Perkebunan Kementerian Pertanian, lahan sawit Indonesia mencapai 14,23 juta hektar (Ha). Lahan tersebut tersebar di pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Hal ini menjadikan kelapa sawit menjadi salah satu komoditas perkebunan yang memiliki manfaat luas dalam industri makanan, farmasi dan kosmetik. Akan tetapi budidaya kelapa sawit memiliki beberapa kendala yang serius saat ini, salah satunya adalah penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense. Jamur patogen ini menyerang tanaman kelapa sawit yang sudah tua maupun yang masih muda. Jamur patogen ini menyebar ke tanaman kelapa sawit sehat ketika akar tanaman kelapa sawit saling bersinggungan dengan tunggul-tunggul tanaman kelapa sawit yang sakit. Ketika populasi sumber penyakit semakin banyak di areal perkebunan maka laju infeksi dari G. boninense akan semakin cepat. Hal tersebut akan mengancam kehidupan tanaman kelapa sawit muda yang baru saja ditanam. Penyakit busuk pangkal batang sudah menyerang tanaman kepala sawit dengan tingkat serangan 20%-30%. Hal ini mengakibatkan berkurangnya jumlah produksi tandan buah segar (TBS).

Telah banyak dilakukan upaya pengendalian penyakit BPB ini oleh perkebunan kelapa sawit. Pada umumnya upaya yang dilakukan adalah mengandalkan penggunaan fungisida kimia sintetik. Fakta menunjukkan bahwa upaya pengendalian penyakit BPB dengan menggunakan fungisida kimia sintetik bukan merupakan alternatif yang terbaik, karena kandungan senyawa bersifat toksik dan dapat meracuni serangga penyerbuk, ternak peliharaan, tanaman, serta menimbulkan polusi pada lingkungan. Pemakaian peptisida kimia dengan dosis yang tidak tepat bisa membuat jamur G. boninense tersebut menjadi resisten. Oleh sebab itu, perlu adanya alternatif lain dalam penanganan penyakit BPB yang disebabkan oleh G. boninense. Pengendalian biologis oleh agen hayati merupakan strategi yang menarik perhatian untuk dilakukan karena tidak memiliki efek negatif terhadap pencemaran lingkungan.

Penggunaan agen hayati sebagai biokontrol dalam menghambat G. boninense diharapkan menjadi langkah pengendalian yang lebih efektif dengan mengoptimalkan pengendalian alami di alam. Bakteri antagonis dapat digunakan sebagai biokontrol karena bakteri ini memiliki senyawa antifungi yang dapat menghambat pertumbuhan fungi G. boninense. Beberapa bakteri yang telah dilaporkan memiliki kemampuan sebagai agen pengendali hayati terhadap G. boninense seperti Peudomonas, Bacillus dan Burkholderia. Bakteri-bakteri antagonis yang memiliki kemampuan antifungi dapat diperoleh melalui proses isolasi dari lingkungan seperti tanah, serasah daun, limbah cangkang dan kulit binatang bahkan dari limbah media jamur tiram (baglog).

Bakteri antagonis adalah bakteri yang dapat mengekskresikan enzim selulase dan enzim kitinase. Enzim-enzim ini mampu menghambat pertumbuhan miselium G. boninense. Mekanisme kerja enzim kitinase ini adalah dengan mendegradasi senyawa kitin yang ada pada dinding sel miselium G. boninense. Sedangkan enzim selulase akan mendegradasi senyawa glukan dengan mekanisme memutuskan ikatan β-1,4-glikosidik. Penggunaan bakteri antagonis dapat menghambat pertumbuhan miselium G.boninense karena bakteri antagonis tersebut memproduksi enzim selulase yang mampu memotong ikatan β-glukan pada G. boninense.

Untuk mewujudkan hal tersebut, tentunya harus melalui serangkaian penelitian di laboratorium. Diawali dengan mengisolasi bakteri antagonistik kemudian melakukan penapisan (screening) untuk mencari bakteri yang paling berpotensi. Dilanjutkan dengan pengujian terhadap G. boninense pada skala laboratorium dan skala lapangan. Disiplin ilmu mikrobiologi, biologi meluker, bioinformatika dan budidaya pertanian sangat berperan untuk menghasilkan produk biopestisida ini. Kita berharap semoga kedepannya semakin banyak peneliti yang konsen terhadap pembuatan biopestisida berbasis mikroorganisme sehingga kita bisa mengurangi pemakaian fungisida.(Penulis, mahasiswa Program Studi Biologi FMIPA UPR)

About dwidjo -

Check Also

GAME untuk Fakhrunnas Jabbar

Puisi  Sutardji Calzoum Bachri larikan aku seperti pantun membawaku simpan aku laksana mantera memeliharaku selinapkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *