NKS Munggah Kaji-4: Kamar Barokah & Haji Tamattu’

Airmata yang mbrebes mili, saat pertama kali melihat Ka’bah, rasa-rasanya, baru awal tangisan yang disusul tangisan-tangisan berikutnya. Dan, tanah suci, seperti menyediakan sumur airmata yang tak pernah mengering.

Hari-hari sebelum berangkat ke tanah suci, kami mendapat penjelasan Pimpinan KBIH saat pengajian di Kampus UI. Saya ingat  tentang tiga  jenis haji berdasarkan tata cara atau urutan pelaksanaannya: Ifrad, Qiran dan Tamattu’.

Pada haji Ifrad, jamaah haji melaksanakan ibadah haji terlebih dahulu. Setelah selesai, baru dilanjutkan dengan ibadah umrah.

Nah, tata cara pelaksanaan haji ifrad adalah saat jamaah memakai ihram dari miqad, mereka hanya berniat haji saja. Jemaah harus tetap dalam keadaan ihram sampai selesai haji yaitu saat Hari Raya Idul Adha.

Itu tentu berat jika kita datang jauh hari sebelum pelaksanaan haji. Apalagi bagi keluarga muda yang mesti menahan diri dari yang dilarang saat berihram. Setelah selesai melaksanakan ibadah haji baru dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah umrah dengan berihram dari miqad.

Sementara itu, haji Qiran adalah haji dan umrah dilaksanakan secara bersamaan. Pada saat berihram di miqat, jamaah berniat untuk melaksanakan haji dan umrah sekaligus. Dengan demikian, amalan haji mencakup pula amalan umrah.

Jenis haji yang ketiga yang saya tangkap saat mengikuti pengajian persiapan haji dikenal dengan haji Tamattu’. Jenis atau macam haji yang ketiga ini yang akan saya dan rombongan jalani. Memang umumnya jamaah haji Indonesia memilih haji Tamattu’. Makanya saya saat ustadz menjelaskan, saya menjadi lebih perhatian.

BACA JUGA: NKS Munggah Kaji-1: Saat Niat Menguat…

Haji tamattu’ merupakan jenis haji yang tata cara dan urutan pelaksanaannya mendahulukan umrah baru haji. Biasanya disebut sebagai haji bersenang-senang. Dalam pelaksanaannya, jamaah berihram untuk melaksanakan umrah pada bulan-bulan haji. Diteruskan dengan jamaah menyelesaikan rangkaian umrahnya: thawaf (berjalan mengelilingi Ka’bah), sa’i (berlari kecil antara bukit Syafa ke bukit Marwa) dan bertahallul (memotong rambut).

Setelah tahallul, jamaah  sudah terlepas dari kondisi ihram, hingga nanti datangnya hari Tarwiyah. Pada hari Tarwiyah ini (tanggal 8 Zulhijjah) jamaah berihram kembali dari miqat untuk melaksanakan hajinya hingga sempurna. Ada kewajiban menyembelih kurban bagi jamaah yang melaksanakan berhaji Tamattu’.

BACA LAGI: NKS Munggah Kaji-2: Labbaik Allahumma Labbaik…

Kini saatnya mempraktekkan ilmu yang didapat dari sang guru. Menjalankan tata cara pelaksanaan haji tamattu’. Ketika waktu menunjukkan pukul 22.00 tanggal 22 November 2008, dengan bimbingan pimpinan rombongan, kami yang sudah berihram menjalankan rangkaian thawaf, sai, dan tahallul.

Masih didasarkan penjelasan pembimbing haji dan buku saku berhaji, thawaf merupakan aktivitas ibadah mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji atau umrah. Ada makna mendalam dari tatanan simbolik mengelilingi rumah Allah ini. Makna tentang asal mula kita dicipta dan tentang kemana kita akan kembali. Ada satu titik kehidupan kita bermula dan kita pasti akan kembali ke titik semula. Yaitu Allah, Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.

Memang benar, Thawaf bukanlah hal yang ringan dilakukan. Walau telah larut malam, tak sedikit jamaah seluruh dunia melakukan ibadah mengelilingi Ka’bah. Semakin jauh dari letak Ka’bah, tentu diperlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak. Namun dekat dengan Ka’bah, pun tak mudah. Dorongan dari jamaah lain dengan tubuh yang lebih besar dan kekar, harus disikapi dengan sabar yang tak tertakar.

Tujuh kali mengelilingi Ka’bah, seolah menjalani kehidupan tiap harinya dalam seminggu dan yang perlu diingat itu semua untuk satu titik pusat yaitu Sang Pencipta. Rangkaian thawah ditutup dengan shalat sunat dua rokaat di belakang maqam Ibrahim. Ini pun sholat dengan penuh perjuangan. Lagi-lagi saat muda adalah saat bisa menikmati ibadah dengan lebih bahagia.

Setelah thawaf, saya dan rombongan yang tentunya ada kelompok lima sekawan dan pasangan, menjalankan sa’i dengan berlari-lari kecil antara bukit Syafa dan bukit Marwa. Sa’i dari literatur dan penjelasan pembimbing haji, bermakna berusaha keras. Sejatinya ibadah sa’i melambangkan usaha keras dan ketabahan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, dalam mencari air minum untuk bayinya, Ismail, yang kehausan.

Maka, saat menjalankan Ibadah Sa’i dengan berjalan kaki dan berlari-lari kecil di antara kedua bukit tersebut, seolah kita terbayang bagaimana seorang ibu dengan bayinya di tanah tandus mencari sumber air. Saat Sa’i, jamaah berjalan kaki dan berlari kecil sebanyak tujuh kali (bolak-balik) dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya.

Jelas ini juga ibadah yang tak mudah, mengingat jarak antara dua bukit itu sekitar 450 meter. Namun, niat yang kuat membuat ibadah selalu terasa indah. Di setiap bukit ada doa-doa yang mesti dilafalkan. Kebersamaan dengan umat muslim seluruh dunia dengan doa yang diucap sama benar-benar menggetarkan jiwa. Asal negara dan bahasa boleh berbeda, namun lafal doanya sama. Sungguh indah Islam menyatukan umat dengan cara gerak serta bacaan doa dalam ibadah yang seragam.

Setelah selesai sa’i di bukit Marwa, doa dipanjatkan. Lalu ritual terakhir dari umrah di jenis haji tamattu’ adalah tahallul atau memotong rambut. Gunting sudah disiapkan dan antar jamaah saling bantu untuk potong rambut.

Ini juga menarik terkait simbolik bertahallul dengan menggunting rambut. Tahallul sendiri berarti ‘menjadi boleh’ atau ‘dihalalkan’. Ini berarti setelah tahallul maka kita diperbolehkan, atau halal dari seluruh larangan atau pantangan selama Ihram.

Tahallul yang dilambangkan dengan membuang atau memotong rambut memiliki falsafah bahwa kita menghilangkan pikiran-pikiran kotor yang ada di dalam otak. Dengan mencukur rambut (bahkan ada yang hingga gundul), berharap maksiat-maksiat yang bersumber dari kepala (otak) bisa dihilang bersama rambut yang dibuang.

Dan, lega karena rangkaian awal dari haji tamattu’, yaitu rangkaian umrah. Kini larangan-larangan saat berihram tak lagi ada. Pakaian ihram pun boleh dilepas dan berganti baju biasa. Nanti tentu pada saatnya, harus mengenakan kain ihram lagi untuk melaksanakan rangkaian haji.

Sekitar tengah malam lewat sedikit, saya dan rombongan selesai menunaikan rangkaian awal dari haji tamattu’ yaitu umrah. Selanjutnya adalah kembali menaiki bus untuk pulang ke wisma di daerah Nuzhah. Setelah membersihkan badan, malam itu kami berlima tidur pulas yang didahului dengan pembahasan pengalaman melaksanakan umrah yang baru saja dilalui.

BACA JUGA: NKS Munggah Kaji-3: Perih Merintih di Depan Ka’bah

Bangun pagi saat suara adzan merdu terdengar dari masjid yang tak jauh dari wisma yang kami tempati. Tak jauh tapi juga tak dekat. Buru-buru kami berlima berangkat dengan janjian bersama pasangan.

Saat pulang dari masjid, saya dan istri serta rekan lain melewati jalanan yang lapang dan melewati beberapa penjual tak yang saya duga pendatang dari kawasan benua Afrika. Barang yang dijajakan seperti surban, baju gamis, dan asesoris termasuk menjual kucing dalam karung. Istri membeli kucing dalam karung untuk oleh-oleh beberapa keponakan. Saya tidak tahu seperti apa kucingnya, namun jika dipencet memang berbunyi meong-meong.

Acara hari-hari menunggu hingga ibadah haji di penginapan diisi dengan membaca Al Quran, mengikuti pengajian yang dijadwalkan oleh KBIH, sholat lima waktu di Masjidil Haram, berwisata ke beberapa tempat bersejarah, beristirahat menjaga stamina, dan tentu bercengkarama berlima yang terdiri dari anak-anak muda penjaga tegaknya agama.

BACA: NKS Menulis Lebaran: Manakala Corona Mengubah Cara Bersilaturahmi

Saya masih ingat dengan acara yang selalu bersama-sama yaitu saat makan. Makanan yang oleh pimpinan rombongan haji sudah dikoordinasikan penyiapannya terasa nikmat. Secara sadar dan ikhlas pembagian tugas untuk mengambil jatah makanan yang tersedia dalam kotak di lantai pimpinan rombongan haji dengan mengucap kata sandi. Ya, kami menyebut nomor regu dan rombongan berapa. Ini penting karena jumlah anggota regu bervariasi.

Makanan yang tersaji memang dominan masakan arab dengan volume relatif besar. Kadang kami berbagi pula jika ada yang menginginkan porsi yang lebih besar. Saat makan bersama itu, saya makin mengenal lebih dekat tentang keluarga, anak, dan kegiatan keseharian serta pekerjaan dari lima keluarga muda ini: Dodik-Novi, Hakim-Ani, Heri-Weni, Widi-Ayi, dan saya-Istri.

Saya kagum dengan keserasian dan keharmonisan keluarga muda itu. Mereka tampak kompak dan tak terlihat ada pertengkaran. Dalam setiap kesempatan, saya menyaksikan kebersamaan dan saling melindungi antar pasangan. Sampai-sampai saat mencuci pakaian di kamar mandi yang memang sangat lega untuk berdua dan kesempatan menjemur pakaian pun selalu rukun berdua.

Saya sangat bersyukur walau bisa merasakan bersama menempati kamar berlima dalam waktu yang lama. Empat puluh hari secara rata-rata jika mengambil paket haji biasa. Saya membandingkan dengan rombongan haji  yang dari kloter berbeda. Mereka ada yang tinggal bersama dengan jumlah 25 orang dalam satu ruangan. Tentu kenyamanan menjadi kurang jika demikian. Apalagi bagi keluarga muda yang pasti rindu untuk bercinta di sela waktu menunggu ibadah haji tiba, sebelum waktu pindah ke kota Madinah, atau menunggu kepulangan ke tanah air.

Awalnya saya bertanya-tanya saat ada keluarga muda yang biasanya giat mengajak sholat di Masjidil Haram, namun tiba-tiba dia ijin untuk sholat di masjid di dekat penginapan saja dan meminta kunci kamarnya dia yang membawanya. Ternyata itu adalah ijin dengan halus untuk memenuhi kebutuhan biologis yang halal, indah, dan bernilai ibadah.

Secara bergiliran akhirnya modus pinjam kunci dan tidak ikut sholat di Masjidil Haram serta memilih sholat di masjid di dekat penginapan. Kamar yang biasanya untuk berlima bagi laki-laki atau hanya berisi perempuan semua itu diisi berdua saja. Yang lain sholat dan mengharap pahala berlipat di Masjidil Haram. Pahala semoga menjadi lebih berlipat ganda lagi lantaran telah memberi kebahagiaan bagi rekan lain dan pasangan halalnya. Kamar kami untuk sementara diubah sebutannya menjadi ‘kamar barokah’.

Terngiang pula pesan pimpinan KBIH tentang pembagian regu yang didasarkan berbagai pertimbangan termasuk usia dan pendidikan. Juga pesan tentang bagaimana membahagiakan rekan satu regu dengan memberikan waktu untuk ibadah yang satu itu. Tidak dijelaskan secara lugas, namun akhirnya saya paham saat waktunya tiba. Saya paham ketika pasangan muda meminta untuk membawa kunci kamar, kamar barokah. Begitupun sebaliknya.

Bahkan ada modus baru didapatkan. Kamar mandi yang lega dan kompaknya pasangan muda saling membantu mencuci, membuat saya penasaran apa yang mereka lakukan. Saat saya tanya kenapa nyuci bajunya lama, tak ada jawab yang membuat hilangnya kepenasaran saya. Hanya sebuah senyum yang berbeda. Pasti agak sulit menjawab pertanyaan mengapa pakaian ihram yang bersih tiba-tiba dibawa ke kamar mandi untuk dicuci. Ini pasti untuk sebuah alasan yang tak perlu lebih dalam ditanyakan.

Akhirnya saya pun mengikuti. Saya membantu istri mencuci pakaian. Sebuah sensasi yang berbeda. Tak pernah saya lakukan sebelumnya, mengingat kamar mandi yang sempit di komplek perumahan pesona khayalan. Bahkan di penginapan haji itu bisa mandi sehingga semua pakaian bersih tercuci dan berganti dengan baju lain. Saya pun akhirnya menyebut kamar mandi itu sebagai ‘kamar mandi barokah’.

Beberapa waktu lalu, saya membuat grup percakapan di aplikasi dengan anggotanya Pak Widi, Pak Heri, Pak Hakim, dan Pak Dodik serta pasangannya. Topik yang langsung trending di grup itu adalah ‘masihkah suka mencuci bareng dengan istri?’ Saya tentu menjawab masih tapi sayangnya kini menggunakan mesin cuci. (bersambung)

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About NKS

Check Also

Menteri LHK Siti Nurbaya: Penting, Jurnalisme Lingkungan

Jakarta, Koranpelita.com Menghormati dedikasi seorang jurnalis dalam membantu pelestarian lingkungan, Kementerian Lingkungan HIdup dan Kehutanan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *