Paradoks Manusia Modern

Oleh: Aayaqin

Nestapa dan digdaya manusia karena pikirannya, otaknya dan akalnya untuk membayangkan sesuatu yang mungkin terjadi atau telah penah terjadi sebelumnya.

Maka manusia mencari kepastian. Manakala tidak satupun makhluk bisa memberi kepastian akan nasib masa yg akan datang, diserahkan lah semua urusan pada sesuatu yg diyakini sebagai maha kuat dan maha segalanya. Tuhan.

Tuhan hadir atau wajib hadir karena harus ada sesuatu yg pasti lebih kuat dan lebih agung dari sekedar makhluk yg sekonyong-konyong lahir ke dunia dan tak berdaya.

Sejarah perjalanan manusia dari masa ke masa adalah perjalanan menemukan kepastian akan nasib pada suatu hari yg dibayangkan oleh akalnya, kemudian diyakininya, dan datanglah ketenangan dan kedamaian hidup.

Bayangan akan sesuatu yg lebih kuat pada manusia moderen ter bimbing oleh agama (kitab suci). Manusia moderen pada umumnya taken for granted akan adanya kekuatan2 yg luar biasa yg menguasai makro kosmik. Terutama pada masyarakat tradisional yg memiliki anutan anutan tertentu, sehingga takut untuk memikirkan sesuatu yg jauh tak terjangkau di luar dirinya.

Dalam situasi pandemi seperti sekarang, sejatinya kebutuhan akan adanya jaminan kepastian hidup, biasanya meningkat tajam. Karena ancaman tidak terlihat akan hadirnya wabah mematikan, mengintai setiap saat.

Apalagi pada masyarakat yg ketertiban sosialnya masih jauh dari tertata secara baik dan ketiadaan akan sosok teladan yg bisa jadi anutan. Kita manusia Indonesia, berkelindan di seputar masalah ini dan seperti tersesat tidak menemukan jalan yg bisa dilalui.

Ironisnya, dalam keadaan tersesat pun kita masih terus mengumbar nafsu, menurutkan syahwat berpesta karena hari raya adalah saat berpesta setelah selama satu bulan berpuasa.

Padahal berpuasa sendiri, adalah ajaran tentang menguasai dan menahan nafsu, agar manusia bisa selamat dari kesesatan.

Paradoks manusia ada pada akal dan dorongan nafsu. Hati lemah dalam menguasai nafsu yg di legitimasi akal, menghadirkan kesesatan yg dalam dan tak berujung.

Selamat hari raya,  Saya di rumah aja
Memohon maaf atas kesalahan yg pernah dilakukan ke setiap insan disini. Wassalamualaikum. (Penulis Wartawan senior, tinggal di Tangsel)

 

About dwidjo -

Check Also

Di Samigaluh, Menanti Hujan

Mendekati pertengahan bulan September belum ada tanda-tanda akan hujan di rumah Samigaluh. Mendung silih-berganti muncul …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *