NKS Menulis Sewu Kutho: Mengenang Mas Kempot yang Rela Repot 

Ini tentang Sewu Kutho. Kemarin, di Depok, pagi-pagi jam enam, saya sedang memulai nulis Sewu Kutho, saat di Solo terjadi perjalanan pulang. Saya tidak tahu, apakah ini yang disebut kontak batin, atau sekadar kebetulan. Tapi ketika baru tiga paragraf saya ketik, hati dibuat terkejut dengan kabar duka wafatnya pemilik Sewu Kutho: Didi Kempot.

Saya linglung, berhenti menulis. Hati cuwo, kosong, tanpa ada rasa sama sekali. Tiba-tiba saja ingin menangis, tapi tidak bisa. Lalu, yang kembali ingat pada makna Sewu Kutho yang sudah tergambar sejak awal meniatkan nulis buku dengan judul itu. Sewu Kutho hakekatnya adalaah perjalanan pulang. Seribu kota hanya tempat persinggahan, sebelum pulang ke keabadian.

Dan, pada 05.05.2020 Mas Didi Kempot memulai perjalanan itu. Perjalanan pulang ke pangkuan Tuhan. Harinya, Selasa Legi, 12 Poso 1953 tahun Jawi. Masih dalam warsa Wuwu di Wuku Wuye, tepat dimongso Kasewelas. Orang Jawa akan dengan mudah memaknai deretan data itu sebagai hari baik untuk pulang: legi lan kebak kawelasan.

Saya benar-benar berhenti menulis. Saya biarkan tiga paragraf menggantung. Saya sudah kehilangan kata-kata untuk menulis. Jadi, kemarin, saya habiskan waktu untuk mengikuti berita kepulangan Mas Didi Kempot, meski harus curi-curi kesempatan di sela-sela rapat yang padat. Kemarin itu, pantaslah disebut sebagai Hari Ambyar Nasional (HAN).

BACA JUGA NKS Menulis: Nami Kulo & Sewu Kutho…   

Malam hari, setelah melihat berita upacara pemakaman Mas Didi Kempot di Ngawi,  saya baru berani melanjutkan tulisan tentang Sewu Kutho. Tetap tidak bisa lancar. Sebab, seperti ada ajakan untuk kembali merenung. Merenungkan Sewu Kutho, yang benar-benar menemukan maknanya, dengan kepulangan Mas Didi sebagai penggubah lagu ini.

Sewu Kutho adalah lagu Didi Kempot yang sangat berarti dalam hidup saya. Berarti karena menjadi andalan setiap dipaksa pegang mic oleh teman-teman. Sewu Kutho juga sudah lama saya ‘incar’ untuk dijadikan judul buku NKS seri kedua. Itu, yang membawa pertemuan 1 Maret 2020 dengan Mas Kempot, menjadi kenang-kenangan paling penting.

Benar. Mas Kempot. Nama Mas Kempot muncul atas permintaan pria berusia 53 tahun itu, setelah duduk, saling berbagi kabar, bertukar kenalan, dalam sebuah makan siang, di pusat kota Solo, 1 Maret 2020.  Permintaan itu, spontan diucapkan sambil tertawa, karena saya bertanya harus memanggilnya dengan sebutan apa.

Dalam perjamuan makan siang itu, juga saya sampaikan soal meminjam judul Sewu Kutho untuk buku saya. Dan, Mas Didi mempersilkan. “Monggo,” jawaban yang hanya satu kata itu diucapkan dengan tekanan kata yang tegas dan ikhlas. Bukankah sangat banyak sebutan, julukan, paraban yang diberikan untuk putra kesayangan Mbah Ranto ini?

Sebelum mengucapkan kata monggo, Mas Didi menerima buku NKS seri pertama yang selalu saya bawa setiap bertemu tokoh-tokoh penting di seluruh tanah air. Saya persembahkan satu buku, untuk Mas Didi sebagai simbol bertautnya hati kami sekaligus memohon izin meminjam Sewu Kutho.

Saya menyebut bertautnya hati kami, karena biasanya semua figur yang saya beri buku, secara otomatis menjadi Sedulur NKS. Jadi lengkaplah, Mas Didi jadi Sedulur NKS, saya menjadi  Sobat Ambyar.

Begitulah. Saya senang dengan bertautnya hati kami, seperti saya senang dengan judul Sewu Kutho yang maknawi. Sejak pertama meniatkan diri menulis buku NKS 2, saya memang ingin menulis sesuatu yang agak spiritual, walaupun barangkali tersamar.

Sewu Kutho adalah sebuah perjalanan hidup. Meski jauh di tempuh, melewati ribuan kota, pada akhirnya, perjalanan itu akan membawa kita kembali. Pulang. Kembali pulang ke tanah para leluhur.

Sungguh, dalam melewati seribu kota, tak selamanya bersenang-senang, karena di setiap perjalanan, terselip selaksa makna. Bungah-susah, harus dilakoni.  Dan, kini, sang kampiun campursari itu sudah mencapai tujuan. Sebuah tempat yang semua umat sepakat untuk  sampai di tujuan itu, tanpa tahu kapan kepastian itu datang.

Berita wafatnya panutan kaum patah hati ini, begitu menyayat hati. Saya sampai tak dapat konsentrasi melakukan berbagai aksi. Seolah tak terima kabar mengejutkan yang datang tiba-tiba itu. Kabar yang terlalu berat bagi sobat ambyar seperti saya.

Jelas lebih sakit menerima kenyataan perginya Mas Didi Kempot dibanding dengan Tatu akibat Kertonyono Medot Janji karena kekasih hati pergi bersama kekasih lain. Tatu (yang berarti luka) di dada ditinggal pergi pacar,  isih kuat tak songgo (masih kuat saya pikul), tapi kepergian Mas Didi Kempot jelas abot disonggo.

Tak dipungkiri. Bagi sobat ambyar seperti saya, lagu-lagu Didi Kempot adalah pengobat luka dalam yang membekas. Luka hati yang sering memaksa kita untuk neteske eluh neng pipi, membuat air mata berlinang membahasahi pipi.

Mendengarkan lagu dengan lirik indah kegundahan hati dari  Didi Kempot, perihnya hati terkurangi. Apalagi memahami bahwa patah hati ialah gejala massal yang bisa ditanggung bersama-sama. Kepada mereka yang terluka hatinya, Didi Kempot seolah mengajarkan untuk tidak malu mengakui, tidak malu menangisi. Tapi setelah itu, mari menyanyi. Karena kesedihan juga pantas dirayakan. Dijogeti wae.

                                                                     ***

Kepergian Didi Kempot bagi saya adalah kehilangan yang sangat membekas, entah sampai kapan. Apalagi, sejak pertemuan 1 Maret 2020, kami berjanji untuk lebih sering bertemu, mengobrolkan banyak hal.

Perjumpaan monumental (sebagai Sobat Ambyar, bukankah sangat menginginkan bertemu idolanya) itu, dibantu oleh Pak Willy, Deputi Direktur Wilayah Jateng dan DIY. Saya diberi jalan untuk bisa berbincang dengan Mas DK, dengan membawa dua agenda besar.

Agenda pertama menyangkut kerjasama antara institusi dan Mas Didi. Saya ingin sekali Mas Didi membuat lagu tentang bpjamsostek. Lagu yang kelak, dinyanyikan langsung oleh sang maestro.

Dengan begitu, semua orang diharapkan lebih mudah mengenal bpjamsostek dengan program jaminan sosial yang diselenggarakannya. Saya sudah memperhitungkan daya dongkrak untuk kepesertaan terutama untuk sektor bukan penerima upah yang rata-rata masuk dalam komunitas sobat ambyar.

Sementara agenda kedua berupa misi pribadi untuk meminta restu jika lagu Sewu Kutho, saya jadikan judul buku yang akan terbit di tahun ini. Restu itu sudah terucap dari lisan Mas DK dan ini pula yang membuat tekad membuat buku semakin bulat. Saya juga sudah meminta Mas DK untuk memberikan kata sambutan di buku yang terinspirasi dari lagu Sewu Kutho itu.

Setelah perbincangan mengenai bisnis di agenda pertama usai, saya memohon waktu tak lama untuk mewawancarainya. Wawancara seorang sobat ambyar pada idolanya seputar bagaimana awal karir, proses penciptaan sebuah lagu yang indah, dan  senggakan-senggakan seperti cendol dawet membuatnya menjadi sangat identik.

Jawaban atas keingintahuan saya, cukup mengejutkan. Didi Kempot seperti yang kita tahu saat ini, rupanya melalui proses laku yang tak mudah. Lelaku yang dapat diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai latihan yang mesti dijalani itu sangat penting untuk mengasah kemampuan, membuatnya mandiri dan menemukan jati diri.

Didi Kempot muda harus ngamen di trotoar di daerah Slipi Jakarta Barat. Nama Kempot juga dibuat untuk memudahkan orang mengingat: Kelompok Pengamen Trotoar.

Ia keluar dari zona nyaman sebagai putra kesayangan seorang seniman besar di Solo. Bagi anak seniman kondang sekelas Ranto Edi Gudel, rasanya Didi Kempot tak harus menjadi pengamen. Sang ayah  adalah pelawak kondang, pencipta lagu Jawa terkenal, serta pemain ketoprak yang populer.

Tapi rupanya, mengamen adalah cara Mas Didi menyerap inspirasi, selain sebagai laku spiritual. Ia kemudian,  melihat kenyataan bahwa banyak orang mengalami patah hati dengan berbagai sebab. Ada yang ditinggal pergi kekasih yang berpaling ke orang lain. Ada yang ditolak cinta karena alasan miskin harta. Ada pula yang cidro janji, tak lagi menepati janji. Kenyataan hidup seperti inilah yang diolah menjadi lagu mendayu-dayu.

Dalam fase karirnya, jauh sebelum namanya hits, Didi Kempot justru sangat digemari di Suriname. Ia bahkan dicari-cari oleh pejabat Suriname, saat ada kunjungan kenegaraan ke Jakarta. Itulah, barangkali, titik balik Didi Kempot untuk menjadi bintang.

Pada fase-fase selanjutnya, Didi Kempot setia pada pasar lagu-lagu sendu berbahasa Jawa. Konsistensi ini, yang membuatnya memiliki penggemar yang khas tanpa perlu penggemar itu diciptakan, dikelola, atau dibuat-buat seolah ada ribuan pengidola.

BACA NKS Menulis Kulon Progo: Nge-pit Membelah Bukit Menoreh

Jadilah, para penggemar yang menghimpun diri di berbagai fans club itu, menjadi penonton tetap di setiap konser Didi Kempot. Mereka, tak hanya kalangan tua yang akrab dengan campursari, orang Jawa yang paham lagu-lagu berbahasa Jawa, tapi anak milenial yang   metropolis.

“Ini adalah cara saya sebagai seniman, meskipun hati ambyar tapi tetap harus hepi. Dijogeti wae,” kata Didi Kempot saat saya tanya kenapa lagunya bernuansa patah hati semua.

Peran penggemar diakui sangat penting oleh Didi Kempot. Mereka saling memberi rasa cinta. Didi Kempot memberikan cinta yang membahagiakan, sementara para penggemar mencintainya tanpa prasangka. Maka, munculah sebutan-sebutan membahana yang viral: Godfather of Broken Heart, Lord Didi, atau Bapak Patah Hati.

Para penggemar, kemudian tidak sekadar mereka yang ubyang-ubyung, kumpul-kumpul  tanpa tujuan. Bagi semua konser Didi Kempot, penggemar adalah ruh yang menjadikan setiap pertunjukannya hidup. Termasuk lahirnya, senggakan-senggakan yang khas seperti cendol dawet, yang membuat merinding.

Dari wawancara singkat sebelum Didi Kempot mbradat ke Temanggung untuk malam harinya manggung, ada satu hal yang tak akan saya lupa dari kata yang terucap darinya.  Bahwa seniman kita harus mampu sepadan dengan seniman luar negeri. Jika orang mau membayar mahal untuk menonton konser artis luar negeri, mengapa kita tidak juga dihargai tinggi di negeri sendiri. Dan, itu ia buktikan di beberapa konser yang dihadiri pejabat negara, pengusaha, dan penggemar setia yang membayar cukup mahal.

Jadi itulah. Banyak pelajaran bisa kita simpan sebagai bekal hidup, dari pertemuan dengan Didi Kempot. Termasuk pelajaran kepedulian pada sesama. Di kalangan seniman, DK adalah sang penderma yang tulus.

Lihat saja bagaimana Didi Kempot ngentaske Arda, membantu Arda yang berkebutuhan khusus tampil sebagai seorang bintang. Arda seolah ditemuan, sebelum Didi Kempot pulang ke keabadian, sebagai calon penerus seniman campursari. Bukankah sangat jarang, ada artis besar yang peduli dengan orang lain, tanpa embel-embel pamrih? Itulah pelajaran utama Didi Kempot yang rela repot untuk orang lain.

Salam Sobat Ambyar. Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About NKS

Check Also

Campursari Virtual: Tetap Prokes, Nonton dari Rumah

Forum Diskusi Sahabat Ngopi Kulon Progo (SNKP) bersama komunitas Kulon Progo di Jabodetabek (KPJD) siap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *