Home / News / Pagi-pagi Meresapi Teladan Bu Maya

Pagi-pagi Meresapi Teladan Bu Maya

Pagi cepat sekali menyapa. Rasa kantuk dan capek, yang makin terasa setelah Rapat Koordinasi yang padat, terusir sudah. Suasana Bandung yang mengundang untuk berlibur, sudah terbayangkan. Tapi kegiatan belum usai. 

Beruntunglah, kali ini kegiatan yang menyenangkan yaitu rafting dan aneka permainan di Pengalengan. Semua antusias terutama anak-anak milenial.

Mereka seperti mempunyai energi untuk bersemangat mengikuti kegiatan ini. Tidak ada yang tidak senang, kelihatannya.

Jadi begitulah. Semula saya mendaftar ikut rafting karena ingin menguji adrenalin. Menyusuri arum jeram sungai Palayangan dekat Situ Cileunca, rasa-rasanya menantang juga.

Namun karena badan sudah remuk, saya harus sadar diri. Terpaksalah, mengurungkan niat untuk ikut seru-seruan bermain air sungai.

Meskipun begitu saya tetap hadir pagi itu menggunakan kaos seragam orange bersama pimpinan untuk melepas teman teman yang akan ke Pengalengan. Tak lupa untuk foto bersama dan mencoba moge patwal.

Awalnya saya ingin lanjut meneruskan tidur dan bersantai seharian untuk mengembalikan energi sebelum balik ke Jakarta. Tapi rugi. Apalagi, tak terbiasa diam, jadi saya mengajak Dinar dan bu Inno, teman semasa dinas di Bandung untuk berjumpa dengan bu Maya yang kebetulan lagi ada acara keluarga di Bandung.

Saya, bu Maya dan bu Inno serta beberapa ibu pimpinan perbankan Bandung sering ngumpul bareng berbagi pengalaman dan cerita lucu sambil ngopi atau ngeteh. Kami bersyukur, di tengah kesibukannya pagi itu, bu Maya masih bisa menemui dan ngobrol santai diselingi sarapan.

Sebagai bu Maya menjadi pimpinan tinggi di Bank Indonesia, beliau termasuk orang yang humble, ramah, baik hati, dan tulus. Tapi justru itu, yang semuanya memancarkan aura kecantikan pada wajahnya.

Bagi saya beliau seperti seorang kakak yang nyaman diajak berdiskusi. Sebab, selalu mampu menasehati tanpa terasa menggurui. Terutama melalui kisah yang dialami. Kisah yang memberikan banyak pelajaran hidup untuk diteladani.

Jujur saja, diam-diam saya kagum dengan gaya Bu Maya yang lucu dan ekspresif dalam menceritakan kisahnya. Caranya bercerita itu loh, yang menjadikan kisah hidupnya pelajaran menarik untuk disimak dan disimpan di hati.

Ketika bu Maya bercerita sampai Bandung sudah tengah malam, kami semua serentak bertanya macet parah ya. Tidak. Tidak ada macet, karena jalanan cukup lancar. Yang membuat lama adalah handphone.

Rupanya, Bu maya harus putar balik lagi ke rumah, karena HP-nya tertinggal. Protokol bu Maya menyampaikan bahwa sebaiknya penjaga malam saja yang mengantar handphone ke suatu tempat daripada balik ke rumah, mengingat kemacetan Jakarta.

Keputusan diambil. Titik temu ditentukan. Bu Maya akhirnya sepakat menunggu di pertokoan Ratu Plaza. Tapi waktu yang berjalan cepat, sudah lewat satu jam. Menunggu lagi. Namun yang ditunggu belum datang.

Topik, penjaga malam yang mengantar handphone, ditelepon. Katanya, sudah sampai di deretan gedung tinggi di Sudirman. Nah loh. Semua gedung di Sudirman tinggi-tinggi. Rupanya, Mas Topik  tidak tahu di mana letak Ratu Plaza.

Bu Maya geleng-geleng. Lalu, memberi Share Location. Tapi ya ampun. Dengan suara lesu, Topik tidak tahu cara membaca shareloc. Suasana makin tegang. Bu Maya mulai panik. Dalam bayanganya, tidak akan jadi seperti ini, jika tadi langsung ke rumah.

Keputusan kembali diambil cepat. Bu Maya minta ke protokol supaya Topik balik saja dan bertemu di rumah.

Sampai di rumah Topik berdiri pucat seraya minta maaf dengan suara bergetar karena tidak dapat menjalankan tugas dengan baik. Namun bu Maya tidak marah, hanya mengambil handphone dan berpesan titip rumah kepada Topik.

Ketika kami menanyakan kok ibu Maya tidak marah, kan gara-gara Topik jadi perjalanan tertunda. Bu Maya tersenyum. Lalu menyampaikan bahwa kita harus mampu memposisikan diri kita pada orang lain sebelum memberi tugas. Ya betul.  If I were you.

Bayangkan apa yang kita lakukan jika diberi tugas namun tidak paham pasti bingung. Apakah Topik salah kalau dia tidak tahu dimana Ratu Plasa dan tidak tahu membaca share location.

Selain itu, lanjut bu Maya mungkin Allah punya rencana lain dengan menunda perjalanan sehingga kita harus mengambil hikmahnya. Berdosa kan kalau kita marah kepada orang lain yang menjadi bagian dari rencana Allah untuk melindungi kita.

Luar biasa. Kami semua terpana mendengarnya. Yaa selama ini betapa piciknya kami yang bertindak tanpa memahami orang lain. Satu lagi pelajaran hidup yang berharga “if I were you” yang kami dapat pagi ini dari bu Maya.

Setelah puas ngobrol, kami segera pamit karena bu Maya juga harus bersiap siap ke acara keluarga.

Waktu masih panjang sehingga kami  bertiga sepakat untuk mampir ke Samiaji mencari sprei dengan kualitas prima dan factory outlet di Setiabudi sekadar melihat-lihat sambil makan mie kocok dan minum teh.

Terakhir sebelum kembali ke hotel kami menikmati makan siang di resto Sky Line di daerah Dago Pakar yang memiliki panorama kota Bandung. Menunya bervariasi dari tradisional sampai western namun kami sepakat memilih paket nasi liwet sunda ditambah lemon tea hangat sehingga menambah nikmat.

Mendung kembali bergelayut dan saya segera menuju hotel untuk berkemas kembali ke Jakarta. Puas sudah hari ini bisa membawa oleh-oleh untuk cucu tercinta sekaligus mendapat pelajaran hidup yang sangat berharga dari bu Maya. If I were You. Semoga saya bisa menerapkannya.(*)

About redaksi

Check Also

Heru Hidayat: Mari Belajar Dari Para Pejuang Kemerdekaan

Palangka Raya, Koranpelita.com. Momentum memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-75, 17 Agustus harus menjadi komitmen ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *