NKS Menulis Jogja-3:  Saatnya jadi Influencer Para Buzzer

Imogiri memberi seri, entah mengapa. Meninggalkan kawasan wingit itu, hati terasa ringan. Langkah juga tak berbeban. Saatnya  menjalankan  tugas: menjadi influencer para buzzer.

Mandi, memakai pewangi, serta dresscode colourfull. Rasanya sudah siap menghadapi anak-anak masa kini, yang dunianya sama sekali berbeda dengan dunia saya.

Beigtu menunggu, suasana sudah mulai bungah. Alunan musik, lengkap dengan suara merdu biduan, membuat nyaman dalam perasaan. Tapi mungkinkah panita tahu, saya sedang grogi, sehingga diberi waktu untuk menunggu seluruh keberanian terkumpul?

Sejenak menghela nafas dan merasakan atmosfir anak milineal. Ini penting agar saya tidak tergegar, terguncang karena timpang.

Lalu saatnya panggung benar-benar milik saya. Tapi tetap saja, panggung yang begitu megah, membuat saya salah tingkah. Sejatinya saya tidak terlalu suka berbicara di depan orang. Justru saat di belakang orang, saya lancar ngomonginnya.

Jatah tema saya hari itu adalah bercerita tentang kreativitas tanpa batas. Saya dipilih untuk  menceritakan hasil kreativitas, karena saya membuat sebuah buku fenomenal berjudul NKS. Buku yang mengubah panggilan saya menjadi NKS.

Lalu saya aktif menulis di media, seperti tulisan yang sedang Anda dibaca ini. Kegiatan lain adalah nge-Vlog. Dan aktif di sosial media.

Ada pertanyaan yang menggelitik dari peserta, kok masih ada waktu untuk berkreasi. Jangan-jangan sebenarnya pertanyaan itu sama halnya mau mengatakan apa kurang kerjaan, tapi mungkin tak tega menyampaikannya. Saya tidak tersinggung dengan pertanyaan seperti ini. Pertanyaan yang sangat wajar.

Saya pernah menulis tentang mengelola medsos sendiri. Atau pun bagaimana memanage waktu agar bisa nge-vlog, menulis, atau update status di medsos. Nah, saya mencoba membagi tips menciptakan kreativitas tanpa batas ala NKS. Pertama, temokno passion Anda. Temokno adalah bahasa Jawa yang berarti temukan.

Jika boleh saya sedikit mengutip dari beberapa sumber, passion itu adalah sebuah perasaan dari dalam diri yang sangat kuat dalam melakukan sesuatu hal. Perasaan itu berangkat dari rasa cinta, suka atau kesenangan.

Dengan begitu, kita tak akan merasa lelah atau bosan melakukannya. Kita akan ikhlas melakukannya  dan tidak akan berhitung untung rugi dalam melakukannya. Banyak orang sukses karena mengerjakan usahanya dengan passion. Orang Nganjir biasa menyebutnya dengan, “Do what your love”.

Tips kedua, catat atau rekam ketika ide muncul. Ide muncul kadang saat kita termenung namun lupa atau menghilang lenyap tanpa bisa diingat. Begitu ide itu muncul, catat di buku atau di HP atau rekam dengan HP. Saat kita lupa, kita bisa putar balik memori kita

Tips ketiga, nikmati budaya kreatif untuk menstimulasi imajinasi. Cara menemukan ide bisa dari membaca buku, menonton sebuah film, mendapatkan pencerahan dari seorang ahli, mendengarkan musik, dan lain-lain. Jangan malu untuk menghargai hasil kreatif orang lain. Kita mungkin bisa ambil, tiru, dan modifikasi sehingga pas dengan kebutuhan dan tujuan.

Tips keempat, bodo amat dengan komentar orang. Ide baru tidak sedikit yang memunculkan komentar tidak enak didengar. Bisa jadi karena ide kita lain dengan pemikiran semua orang. Sehingga, muncul anggapan kurang kerjaan, atau bahkan dibilang kurang waras.

Saya sering membaca kolom Sosok di harian Kompas yang menggambarkan tokoh inspiratif. Di awal sebelum menjadi panutan atau inspirasi, cap miring atas idenya selalu muncul. Untuk itu, kita jangan takut komentar tak enak jika kita yakini ide kita baik untuk banyak orang.

Tips terakhir, alokasikan waktu untuk berinovasi dan alokasikan waktu untuk melakukan kesenangan itu. Saya menulis biasanya di kendaraan saat berangkat dan pulang kerja, saat menunggu pesawat dan di dalam penerbangan, atau secara khusus di hari Sabtu atau Minggu di sela-sela waktu untuk keluarga. Disiplinkan hal ini sehingga setiap minggu kita bisa melakukan kesenangan kita tersebut.

Begitulah. Sharing kreativitas tanpa batas ala NKS yang ndeso untuk para milenial. Saat tanya jawab, ada yang bertanya, sebagai pimpinan, mengapa bisa membuat vlog dengan content yang terbebas dari atribut pimpinan.

Saya jawab bahwa direktur juga manusia. Content receh memang saya pilih untuk memisahkan antara saya selaku pimpinan sebuah institusi dan saya selaku individu NKS. Harapannya terlihat sisi lain yang sekali lagi berharap termasuk kategori positif. Ada keinginan kuat bisa menginspirasi orang lain secara luas dengan cara yang berbeda. Tidak hanya untuk kalangan tertentu, tapi untuk semua kalangan.


Bagi yang aktif bertanya dan juga pemenang lomba, mereka diganjar sebuah Buku NKS gratis dengan syarat dibaca dan berani upload di medsos foto saat membaca Buku NKS. Dan pastinya diberi bonus foto bersama tokoh buku tersebut.

Cerita kreativitas, rasanya kok begitu melaju. Tahu-tahu selesai, meski malam belum terlalu larut. Saya sudah niatkan hati untuk foto dekat dengan tugu Jogja. Ada misi khusus, terutama karena ini adalah tuga bersejarah.

Orang mengenalnya tugu Jogja, tapi masyarakat Jogja menyebutnya tugu Pal Putih. Sementara orang-orang yang lebih sepuh, menyebutnya tugu Golong Gilig.

Nah, sebagai orang Jogja (sebenarnya agak-agak malu menyebut orang Jogja karena begitu ditanya Jogjanya mana, agak kebingungan karena harus menjawab Kulon Progo) saya harus punya koleksi foto di tugu ikonik ini. Kebetulan Pak Nasipiyanto, fotografer handal yang juga salah satu Deputi Direktur sedang di Jogja.

Saya minta untuk mengambil foto yang bisa lebih indah dari aslinya. Sebuah permintaan yang sulit, tapi rasanya Pak Anto (begitu Pak Deputi biasa dipanggilan) sulit menolak permintaan sulit ini. Sampai dengan tulisan ini naik cetak, hasil pemotretan belum juga bisa diserahkan. Mungkin terlalu sulit.

Setelah selesai sesi foto di tugu Jogja, saya ajak Pak Anto untuk ngopi sebelum pulang istirahat. Seperti biasa saya hanya nyruput teh walaupun di warung kopi. Teh itu mengantarkan tidur dibumbui dengan mimpi nyruput kopi.

Pagi harinya Pak Anto masih penasaran untuk memenuhi permintaan saya membuat foto lebih ganteng dari aslinya. Pukul 5.30 wib kami sudah berada di tugu Jogja untuk sesi foto kembali. Luar biasa usaha yang dilakukan. Saya belum tahu hasilnya. Kita tunggu saja.

Selesai juga akhirnya sesi foto. Perut yang sedari pagi belum terisi mulai berulah. Saatnya mencoba soto Kadipiro yang kaloko.

Tak dinyana ada teman yang SMA yang tinggal di Jakarta sedang pulang kampung dan menginap di rumah teman lain yang tinggal di daerah Gamping. Jadilah kami sarapan bertiga.

Entah lapar atau karena saking enaknya, saya nambah ayam sampai tiga kali. Inilah yang saya khawatirkan jika ke daerah.

Diet yang diniatkan mulai besok, hari ini belum berlaku. Mini-reuni kembali lagi terjadi. Dan foto selfie dilakukan sebagai bukti reuni terjadi. (*)

Salam NKS: Niki Kekancan Saklawase

About redaksi

Check Also

Pasca OTT Bupati Pekalongan, Gubernur Jateng Kembali Tekankan Birokrasi Bersih

SEMARANG,KORANPELITA.Com-  Pasca insiden Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Pekalongan, Fadia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertanyaan Keamanan *Batas waktu terlampaui. Harap selesaikan captcha sekali lagi.

Eksplorasi konten lain dari www.koranpelita.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca