Perjuangan Perempuan Pembersih Bawang di PPM Sampit


Sampit,Koranpelita.com.

Kartini telah memperjuangkan emansipasi kaumnya di negeri ini. Melalui pemikiran-pemikirannya yang menembus batas zaman. Secara kodrati kaum perempuan terlihat lemah tapi sejatinya kaum perempuan sangat kuat menghadapi terjalnya kehidupan ini.

Seperti ibu Supinah ( 45 ) pembersih bawang merah di Pasar PPM Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur ( Kotim ) Provinsi Kalteng ini.

Menurut ibu yang masih memiliki tiga anak ini, yang mengaku memiliki dua anak lainya yang telah meninggal dunia. Upah yang didapatnya dari mengupas atau membersihkan bawang merah seribu rupiah perkilogramnya. Jika banyak bawang merah yang berhasil dibersihkannya itu makin lumayan pula upah yang didapatnya.

Cukup untuk makan membantu suami yang kerja ikut orang, kata Supinah.Ketika menjawab pertanyaan jurnalis media ini.

Namun seberapapun upah yang ia dapat ia selalu bersyukur kepada Tuhan yang memberinya kesehatan sehingga ia dapat bekerja mengambil upah membersihkan bawang merah di Pasar PPM Sampit.

Baginya hal ini juga rejeky yang tak ternilai dari yang Maha Kuasa , sehingga dengan kondisi yang tidak sakit-sakitan masih bisa membantu suami mencari nafkah. Terlebih ketiga anaknya yang ada sekarang masih sekolah yang juga perlu biaya.

Baginya, tak ada rasa sesal harus menjalani keadaan hidup susah seperti ini.Terpenting kita jangan menyerah terlebih pasrah dengan keadaan.

Selain berikhtiar bekerja dalam mencari nafkah untuk membantu suami memenuhi kebutuhan makan sehari-hari,

Supinah juga tidak lupa selalu berdoa kepada Tuhan agar senantiasa berada dalam lindungan Nya, segetir apapun kehidupan menghadang.

Suasana Pasar PPM Sampit dengan pengunjung yang berlalu-lalang, tak membuat ia hirau dengan kondisi ini. Supinah asyik dengan pekerjaannya membersihkan bawang merah milik pedagang di pasar tersebut.

Tempat tinggal Supinah yang berada di Kecamatan Seranau , seberang Pasar PPM Sampit , dimana akses untuk ke Sampit harus ditempuhnya dengan kapal fery penyeberangan yang juga memerlukan ongkos.

Sebab hingga kini belum ada jembatan penghubung antara Kecamatan Seranau dan Kota Sampit.

Sehingga aktivitas kehidupan supinah juga tidak lepas dari keberadaan Sungai Mentaya Sampit ini.

Sungai yang telah menjadi saksi bisu anak manusia dalam merajut kehidupannya dengan berbagai dinamika dan problema.

Supinah perempuan berusia 45 tahun ini adalah salahsatu potret perempuan yang tidak menyerah dengan keadaan.Yang tidak ingin berpangku tangan dan hanya menjadi beban suami. Ia ingin membantu suaminya bekerja serabutan mencari rejeky untuk menghidupi keluarganya.

Dan Sungai Mentaya Sampit merupakan saksi sejarah bagaimana tegarnya Supinah berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. ( Ruslan AG).

About dwidjo -

Check Also

Di Samigaluh, Menanti Hujan

Mendekati pertengahan bulan September belum ada tanda-tanda akan hujan di rumah Samigaluh. Mendung silih-berganti muncul …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *