Sang Waktu Yang Tak Pernah Berhenti

Sampit, Koranpelita.com.

Kini, tibalah waktunya merayakan lebaran dengan penuh hikmad ,setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di siang hari.

Momentum seperti ini, hal yang alamiah karena waktu terus berjalan tak pernah kenal kata berhenti.Orang bijak bilang , sejarah. bisa terulang dalam versi yang berbeda.

Tetapi waktu kembali berputar dalam siklusnya dan berjumpa lagi dengan bulan ramadhan tahun berikutnya, apakah kita semua akan menjumpainya seperti bulan puasa tahun ini?

Tentu tidak. Sebab Usia yang terus berjalan akan dijemput kematian kapan saja dan bagi siapapun.

Sebuah realitas hukum alam bahwa Kekuasaan Tuhan itu sangat maha besar dan maha mengasihi.

Dan menunjukkan manusia itu secara kodrati makhluk yang lemah tetapi merupakan makhluk yang paling sempurna dimuka bumi ini,
ketimbang makhluk lainnya.

Sepatutnya sebagai makhluk yang paling sempurna dan menjadi khalifah di muka bumi ini, janganlah kita terbawa hawa nafsu melakoni kehidupan yang tidak kekal.

Tetapi keberadaan kita sesama manusia hendaknya menjadi rahmat dan berkah termasuk bagi makhluk lainnya.

Jangan memanjakan diri dengan kerakusan dan menghalalkan segala cara, terlebih jika dipundakmu ada amanah serta kepercayaan rakyat yang sejatinya harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Janganlah seperti yang diungkapkan Kahlil Gibran penyair Lebanon sebagai berikut: “Kalian jangan sampai tinggal di kediaman ketidak tahuan.Karena dirumah itu tidak ada cermin untuk memandangi jiwamu.”

Karena itu ada kata bijak lainnya yang bagus untuk kita terapkan dalam kehidupan ini yang katanya:”Gunakan dua cermin dalam hidup.Yang satu untuk melihat kelebihan orang lain, dan yang satunya untuk melihat kekurangan dirimu.”

Tersebab, itu merupakan motivasi untuk mencapai keadaan yang lebih baik dan bukan iri dengki. Namun berkompetisi dan bersaing secara sehat tanpa menggilas orang lain.

Sang waktu tak pernah kenal kata terlambat. Iaterus menapakinya melaju kedepan.Bangunlah kesadaran hati nurani tentang sikap bijaksana.Jangan terperangkap dalam friksi dan memanjakan hawa nafsu.Keserakahan hanya menimbulkan tidak terkontrol diri dan cendrung merugikan orang lain.

Merenungkan kata bijak dari Mahatma Gandi ,”Bumi ini sangat cukup untuk memenuhi segala kebutuhan manusia.Tapi tak pernah cukup untuk memenuhi segelintir orang yang rakus.”

Setidaknya kata bijak dari tokoh India itu menjadi perenungan bagi kita dalam berbangsa dan bernegara pada bingkai NKRI.Mereka yang berada di kekuasaan eksekutif dan legislatif hendaknya selalu amanah dengan kepercayaan yang diberikan rakyat.

Jangan justru bersekongkol untuk melakukan kesepakatan dan deal -deal yang hanya mementingkan kepentingannya, namun merugikan rakyat dan daerah.

Rakyat membutuhkan pemegang mandatnya yang sungguh sungguh berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, dan bukan untuk memperdaya masyarakat dan daerah.

Rakyat sudah sangat lelah dengan kemiskinan dan kesakitan hidup, karenanya bahagiakanlah rakyat dengan membawanya pada keadaan yang lebih baik. Sebab rakyat tidak butuh penguasa tetapi rakyat mendambakan pemimpin yang mengayomi. (Ruslan AG).

About redaksi

Check Also

Cerita Petani Dapat Bantuan Irigasi dari Gubernur Jateng. Inilah Manfaatnya Bisa Panen Melimpah

PEKALONGAN,KORANPELITA – Program pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertanyaan Keamanan *Batas waktu terlampaui. Harap selesaikan captcha sekali lagi.

Eksplorasi konten lain dari www.koranpelita.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca