Bank Emok Riba Dan Guyonan

 

Oleh Man Suparman

DI jalanan di daerah tempat tinggal saya,  berseliweran angkutan umum trayek antar distrik. Pada kaca belakangnya terdapat merk S dan di pintu depan tertulis nomor urut 1, 2, 3 dan seterusnya.

Siapa pun akan menyangka,  bahwa angkutan-angkutan umum tersebut pemiliknya seorang  pengusaha besar angkutan umum dengan merk S. Dalam benak saya orang tersebut kaya banget memiliki puluhan angkutan umum dibawah nama perusahaan S.

Setela usut punya usut mengobrol dengan salah seorang  pengemudinya,  ternyata  angkutan – angkutan umum tersebut, bukan milik  seorang pengusaha angkutan umum. Ceritanya begini, setiap pemilik angkutan umum yang meminjam uang kepada si Boss (rentenir) minimal Rp. 5 juta, wajib mencatumkan nama S pada kaca mobil bagian belakang dan nomor urut pada bagian pintu depan mobil.

Langkah rentenir kepada setiap nasabahnya harus memasang merk S. Boleh jadi sebagai promo gratis dan tanda bahwa pemilik kendaraan angkutan umum itu, adalah nasabah/kreditur S. Atau ada maksud lain,  saya kurang paham, namun yang pasti ditengah-tengah beratnya beban hidup sebagian masyarakat terutama masyarakat kelas menengah kebawah tidak sedikit yang menjadi nasabah rentenir atau Kosipa (Koperasi Simpan Pinjam),  bank emok atau apapun istilahnya.

Banyaknya  warga masyarakat yang terjerembab ke kubangan  rentenir,  jelas karena faktor ekonomi. Kenapa meminjam uang kepada rentenir, karena prosesnya mudah hanya bermodalkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kartu Keluarga (KK) jaminan Bukti Pemilik Kebdaraan Bermotor (BPKB) sepeda motor/mobil sertifikat tanah. Dalam hitungan jam bisa cair.  Tentu saja sangat jauh berbeda jika mengajukan kredit ke bank-bank milik pemerintah maupun swasta. Sekalipun mengajukan pinjaman kepada  BPR milik pemerintah sama sulitnya.

Namun yang menjadi heran banyak warga masyarakat yang  menjadi nasabah bank emok, rentenir dan apapun namanya oleh sementara orang atau kalangan dianggap korban. Mereka tampil seakan-akan peduli kepada mereka yang dianggap korban tapi tanpa ada solusi yang nyata. Padahal para nasabah itu sendiri tidak merasa jadi korban. Justeru dengan adanya kosipa bank emok dan yang lain-lainnya merasa dibantu disaat-saat butuh keuangan dengan mudah memperoleh pinjaman dengan persyaratan yang lunak dan prosesnya cepat, mudah. Langsung cair.<

Tidak hanya itu, tidak sedikit ustazd,  pendawah dalam pelbagai kesempatan dakwah, menjadikan para nasabah Kosipa, Bank Emok dan lainnya,  menjadi materi atau tema berdakwah.  Intinya meminjam uang rentenir  Bank Emok, Kosipa,  adalah riba. Bahkan jadi olok-olok dan dicibir  pula oleh para tetangganya,  bahwa mereka pemangsa riba dan dinilai sebagai orang-orang dihinakan dan amat sangat rendah derajatnya di lingkungannya.

Ya, semua orang tahu meminjam uang kepada rentenir, Bank Emok, Kosipa dan apapun istilahnya adalah riba. Tapi kenapa hanya nasabah Kosipa, Bank Emok yang dipersoalkan sebagai pemangsa riba dan dianggap orang orang atau warga masyarakat yang terhinakan.

Pertanyaannya, kenapa warga masyarakat kelas menengah ke atas yang meminjam uang terhadap bank – bank konvensional tidak dipersoallan dan jadi materi berdakwah. Padahal, jika ditinjau dari soal riba  yang sama sama riba,  yaitu yang namanya  bunga bank itu riba.

Persoalanaanya sekaramg bagaimana solusinya agar masayarakat tidak jadi pemangsa riba yaitu tidak menjadi sahabat atau nasabah rentenir atau Bank Emok.

Soal bunga bank, riba-ribanya itu, tidak hanya Bank Emok, Kosipa dan lembaga kredit lainnya, bahwa pinjaman kredit ke bank konvensoonal juga riba. Kredit motor, kredit mobil riba juga, karena ada jangka waktu dan perjanjian kelebihan megembalikan uang.

Intinya dan amat sangat penting,   bagaimana solusinya jangan hanya menjadikan para masabah Bank Emok, Kosipa  rentenir dan lainbya menjadi tema dakwah, jadi  guyonan –  guyonan dan olok-olok. Padahal apa bedanya dengan meminjam uang atau pinjaman kredit terhadap bank – bank konvensional yang  sama-sama riba. Apakah karena nilai pinjamannya besar,  sehingga tidak jadi olok-olok dan guyonan-guyonan ? Walauhu’alam.(Penulis wartawan Harian Pelita 1980 – 2018, www.koranpelita.com).

About koran pelita

Check Also

Walikota Semarang Jemput Bola Warga Belum Vaksin Didatangi di Rumahnya

Semarag,koranpelita.com Program vaksinasi jemput bola keliling kelurahan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang terus berjalan. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *