Perpusnas Dukung Seminar Nasional GPMB

Jakarta,Koranpelita.com

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mendukung penuh seminar nasional yang dibuat oleh Gerakan Permasyarakatan Minat Baca (GPMB). Kegiatan Seminar dan call for paper menjadi salah satu kegiatan yang mendukung dengan kegiatan pembudayaan kegemaran membaca.

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando selalu memberikan apresiasi yang setinggi-tingginyanya kepada berbagai pihak yang senantiasa meningkatkan peran perpustakaan, taman baca masyarakat, pojok buku dan sebagainya yang mendukung dan memperkuat pembudayaan kegemaran membaca masyarakat tentunya melalui berbagai program dan kegiatannya.

“Berbagai program kreatif, inovatif dan visioner dilaksanakan dalam upaya perpustakaan memberikan layanan yang berkualitas kepada pemustaka untuk meningkatkan kegemaran membaca untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpusnas, Deni Kurniadi dalam Seminar Nasional Gerakan Permasyarakatan Minat Baca (GPMB) yang diselenggarakan secara daring pada Senin (26/10/2020).

Lebih lanjut Deni menjelaskan, kegiatan yang tema “ Sejarah Gerakan, Peta dan Paradigma Literasi Indonesia: Perkembangan dan Pencapaian”ini berusaha menjawab penilaian lembaga internasional yang menganggap minat dan kegemaran membaca di Indonesia masih rendah. Padahal untuk mengetahui hal tersebut, harus dilakukan pengukuran secara kuantitatif dan kualitatif yang ditinjau secara komprehensif.

Sementara itu Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Restu Gunawan, mengatakan penguatan literasi diperlukan untuk pemajuan budaya. Memasuki revolusi industri 4.0, seluruh bidang mengalami gelombang besar tak terkecuali perpustakaan. Penguatan literasi menjadi pemikiran bersama dengan konteks revolusi industri 4.0.

“Perlu adanya ketersediaan daya dukung untuk mengubah budaya bertutur untuk beralih ke budaya baca tulis. Di era digital saat ini sebenarnya sudah tidak ada hambatan lagi, semua orang sudah bisa mengakses. Dengan bantuan teknologi kita diuntungkan untuk mempercepat proses literasi ini,” jelasnya.

Restu Gunawan menambahkan, harus ada perubahan paradigma mengenai kebudayaan yang bukan hanya bicara tentang masa lalu. Untuk meningkatkan literasi budaya, tuturnya, harus dituangkan dalam bentuk visual. “Kendala kita belum mampu memahami literasi budaya. Padahal kebudayaan memiliki dampak yang luas dalam kehidupan sehari-hari, seperti kita dapat belajar berdiplomasi, dan pembentukan karakter,” urainya.

Gol A Gong menyebut melalui gempa literasi, dirinya berusaha menghancurkan kebodohan melalui literasi dan membangun peradaban baru. Menghadapi era digital, semua pihak harus beradaptasi. Karenanya, ujar Gol A Gong, GPMB sebagai mitra pemerintah dalam menggerakkan literasi baca dan tulis juga harus memiliki strategi untuk memasyarakatkan minat baca di era literasi digital.

Seperti pengalaman yang sudah dia lakukan dengan memanfaatkan berbagai platform digital yakni membuka kelas menulis online dan mengedukasi masyarakat melalui video. “Kita harus cepat beradaptasi di era digital ini, karena literasi digital dapat memberikan nilai ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan,” tutur penulis buku “Rahasia Penulis: Bukan Sekadar Tips Menulis”.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Pusat GPMB, Tjahjo Suprajogo menjelaskan, dunia literasi Indonesia sudah melalui sejarah panjang. Ini terbukti dari adanya peninggalan gambar dan tulisan di gua-gua pra sejarah atau jejak tulisan dalam berbagai prasasti serta candi pada zaman kerajaan nusantara. “Indonesia sejatinya merupakan negara dengan sejarah literasi yang cukup tua,” tutur peraih gelar doktor dari Universitas Brawijaya tersebut.

Naskah nusantara yang ditulis dengan tangan dan menggunakan aksara kuno, mengindikasikan adanya kegiatan menulis. Tjahjo menambahkan, hampir semua wilayah di Indonesia mempunyai bahasa dan aksara daerah dari tempat asal naskah. Seperti naskah Aceh, Batak, Rejang, Kerinci, Lampung, Jawa, Sunda, Bali, Bima, Banjar, Bugis, dan Makassar.

“Berangkat dari paradigma ini, maka implementasi literasi dalam konteks Indonesia harus menyesuaikan dengan tingkatan sosial budaya, dan pengetahuan masyarakat, keanekaragaman budaya local dan kondisi yang dialami masyarakat,” jelasnya. (Vin)

About ervin nur astuti

Check Also

Ini Dia, Program Himmah STEBIS Bina Mandiri

Suasana di aula kampus Sekolah Tinggi Ekonomi Bisnis Syariah (STEBIS ) Bina Mandiri, agak berbeda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *