NKS Menulis Kisah: Dua Drama di Pagi Buta

Malam hampir minggir. Gelap sudah di ujung perjalanan, meski  rembulan masih nampak di atas pohon. Awan, langit, rembulan yang di ketinggian tak terjamah, seolah tak berjarak. Sisa malam yang ditingkah pesona fajar, memberi pemandangan mewah bagi saya. Setidaknya, karena membawa angan membuka album kenangan saat-saat indah di Nganjir menjelang malam berakhir.

Di Kampung saya, saat masih masa kecil, bulan (apalagi bulan bulat bundar di malam purnama) adalah pemandangan megah. Sinarnya tak perlu bersaing dengan pijar silau lampu listrik. Sesekali, setelah meninggalkan Nganjir, saya masih sering rindu suasana itu.

Yakinlah, yang kita sering lupa ketika tinggal di kota dengan penerangan yang kadang berlebihan, adalah memandangi bulan. Dan, di pagi buta itu, saya melakoni sebuah ikhtiar, mencari dan menjaga sehat. Nikmat lain yang patut kita syukuri, lebih-lebih di masa pandemi.

Bersama istri, hampir setiap pagi saya niatkan dan alokasikan sekitar satu jam untuk berjalan kaki. Saya tak menghitung berapa langkah kaki mengayun. Catatan melalui sebuah aplikasi hanya menunjukkan rute yang dilalui, jarak yang ditempuh, dan kecepatan rata-ratanya. Tak ada rekomendasi harus mampir dimana untuk mencari sarapan pagi.

Pada awalnya saya mengelilingi komplek perumahan tempat saya tinggal. Dari kegiatan ini saya dapat menyapa tetangga yang tak semua saya hafal namanya. Menyapa dengan mengucap selamat pagi atau sekadar kata halo Pak atau hai Bu.

Saya mencoba seramah mungkin dengan senyum termanis yang saya punya. Baru setelah berjalan agak jauh, saya sadar, percuma saja memameri para tetangga senyum paling manis, karena mereka tidak akan pernah melihatnya. Saya lupa jika masker menutup sebagian besar wajah kecuali mata dan dahi kita.

Perumahan tempat saya menghabiskan hari selepas beraktivitas itu, rasa-rasanya, setiap saat bergeliat. Selalu berbenah. Nyaris ada saja yang mbangun. Rumah-rumah bertambah runcing, menuding langit.

Berjalan kaki di dalam komplek saja membuat rasa bosan datang walau tak diundang. Maka, saya didampingi kekasih hati memilih menyusuri jalanan yang tak selalu dapat dilalui oleh kendaraan, terutama kendaraan roda empat.

Ternyata jalan kaki yang seperti itu jauh lebih seru. Lebih membuka mata bahwa tak semua orang hidup setara seperti halnya di dalam komplek perumahan yang rumahnya terlihat hampir serupa.

Di saat pagi buta, rupanya banyak yang sudah terjaga. Mereka rasanya, lebih siap menjemput rejeki, di banding yang lain. Penjual sayuran dan penjual beraneka rupa sarapan mendominasi pemandangan di sepanjang jalan.

Ada yang ramai pembeli, tapia da juga sepi dan lama menanti hadirnya rejeki. Pemulung dan penjual balon seolah enggan kalah untuk menyambut rejeki dengan rasa antusiasme yang tinggi.

Mereka seperti mengajari saya bahwa “urip iku urup”. Hidup seharusnya memberi manfaat dan berkah bagi orang lain dan alam sekitarnya. Mereka tak hanya mencari rejeki namun ingin memudahkan orang lain untuk mendapatkan sarapan atau bahan masakan.

Jangan hanya melihat geliat tukang balon yang hidup sederhana di  rumah bersahaja dengan dagangan apa adanya yang barangkali jauh dari laku (mungkinkah anak kecil masa kini masih merenggek, nangis minta balon?), tapi lihat perannya. Mereka, para tukang balon itu, adalah orang-orang berhati mulia yang ingin membahagiakan anak-anak dengan mainan sederhana, murah, tapi sumrambah.

Peran lain, yang tak kalah berkah adalah pemulung. Boleh saja ada yang memandang hina karena bekerja mengais sampah, tapi mereka ikut membuat alam sehat lewat proses limbah yang didaur ulang.

Setiap melewati para pencari nafkah itu, saya selipkan doa agar mereka sehat, dilancarkan usahanya,  serta dibanjiri rejeki yang berkah. Doa yang tak saya lafalkan secara keras, tapi saya yakin Tuhan Yang Maha Mendengar.

Setelah doa lirih untuk pejuang di pagi but aitu,  rasa syukur meluncur, mengingat banyak nikmat rejeki yang sudah saya dapat. Sesekali saya dan istri membeli sarapan pagi dari mereka tergantung apa yang didapati di rute yang dilewati.

Beda hari, beda cerita yang bisa didapati. Mungkin itu maksud hari berganti. Rute pun semakin tak pasti karena kadang ada rasa ingin tahu apakah ini jalan atau gang buntu. Namun dari situ, saya mendapati spot-spot foto yang menarik: gang yang sempit, mural, atau obyek lainnya.

Suatu hari saat menjalani ritual pagi jalan kaki, saya dan istri mendapati dua cerita yang tragis. Agak menakutkan bagi saya yang akan segera pensiun. Cerita pertama, dimulai dari depan rumah sebuah keluarga tua. Sang istri, menjual makanan untuk sarapan pagi. Sementara suaminya yang saya yakin sudah lama purna tugas, mendampingi. Tapi apa yang terjadi?

Laki-laki berusia lebih dari 70 tahun itu, tak berhenti  bicara. Kalimatnya ditujukan kepada para pembeli dangangan istrinya. Yang membuat jengah, kalimat-kalimat itu menusuk siapa saja, sampai-sampai sang istri risi sendiri, lalu meminta suaminya untuk berhenti berpidato dengan nada menyakitkan hati pendengarnya.

Di pagi itu juga, cerita yang kedua saya dapati hanya sepelemparan batu dari pasangan tua penjual makanan itu. Kisah diawali dengan pemandangan yang sama sekali berbeda dari drama pertama. Kali ini, terlihat seorang suami duduk melamun dengan sesekali menghembuskan asap rokok sangat nikmat. Di depannya segelas kopi pagi.

Laki-laki yang juga sudah purna tugas itu, tidak berbicara apapun. Hanya tatapan kosong yang barangkali berbicara dengan Bahasa batin. Tidak lama, istrinya datang, menghardik dengan kata-kata keras. Ngomel-ngomelin dengan lengking nada tujuh oktaf.

Ya ampun. Pagi-pagi saya sudah  dibuat merinding disuguhi dua melodrama yang datang hamper berbarengan. Saya menarik nafas dalam untuk kemudian membuangnya perlahan. Saya yakin, Tuhan ingin memperlihatkan sebuah makna hidup pada saya.

Langkah belum jauh, suara istri yang ngomel sepagi itu masih sayup terdengar saat saya mencuri pandang istri saya sambil bertanya sambil lalu. Apakah saya akan begitu juga nasibnya ketika pensiun tiba dan tak produktif lagi: bicara banyak ataupun tidak bicara apapun seolah salah di mata sang istrinya.

Belahan jiwa saya ini tak menolak dan hanya tertawa begitu puasnya. Ia tak berusaha menyangkal kemungkinan itu, sehingga membuat dada saya mak deg. Dari cara istri saya tertawa, seolah ingin mengatakan, begitulah nasib lelaki di usia tak lagi produktif.

Kekhawatiran bernasib serupa dua lpriatua tak berdaya itu, memang terlintas. Namun, saya segera hapus semua itu begitu teringat saya telah menyiapkan diri dengan mengikuti jaminan hari tua dan jaminan pensiun SJSN di BPJS Ketenagakerjaan.

Andai tetap suatu saat nanti diomeli istri, saya akan menyimpulkan bahwa semakin tua ia semakin pandai bicara. Bisa jadi itulah tanda istri mencintai suaminya. Jangan-jangan omelan istri bagus untuk kesehatan suami. Minimal untuk kesehatan kedua telinga saya: masih bisa mendengar dengan baik.(*)

Sebuah pelajaran berharga dari perjalanan mengejar matahari di setiap pagi. Salam sehat

About NKS

Check Also

Wapres Resmikan Rumah Sakit Mata Achmad Wardi

Jakarta, Koranpelita.com Rumah Sakit Mata Achmad Wardi yang dilengkapi dengan fasilitas Retina dan Glaukoma Center  …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *