Ketua STAI Attaqwa Bekasi: Islam Phobia, Tantangan Dakwah Saat Ini

Bekasi, Koranpelita.com

Islam phobia menjadi salah satu tantangan dakwah saat ini disaat penggunaan media social digunakan secara terbuka di masyarakat

Untuk itulah da’i dan aktivis dakwah sibuk menangkis fitnah dan Isu Isu yang mengandung Islam phobia yang sengaja dikembang di media social.

Fitnah dan islam phobia menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para da’i dan aktivis dakwah saat ini.

Demikian disampaikan Dr KH M Abid Marzuki M Pd Ketua STAI Attaqwa Bekasi sebagai pembicara di acara Webinar Dakwah Internasional dalam tema “Tantangan Dakwah di Masa Pandemi Covid19”, Sabtu 25 Juli 2020.

Abid Marzuki menjelaskan da’i dan aktivis dakwah harus memahami perubahan karakteristik di masyarakat terutama di era dakwah melalui media digital ini.

“Ada tiga karakter dalam masyarakat digital pertama, personal multi identity, yaitu karakter yang berbeda ketika di medsos atau di luar medsos, begitu pun sebaliknya terlihat baik di dunia maya, tapi sebaliknya ketika di dunia nyata” jelasnya.

Menurut tokoh ICMI Bekasi ini karakter kedua yaitu hubungan interpersonal atau masyarakat secara leluasa berkomunikasi di media maya dengan lintas batas teritorial, ras maupun agama.

Dan ketiga aspek sosial, yaitu karakter personal berwajah ganda atau split personality, ungkapnya.

Tiga karakter masyarakat seperti ini menurut Abid harus menjadi bahan kajian analisis dan pertimbangan para da’i dan aktivis dakwah.

Menurut Abid selain menghadapi karakteristik masyarakat tersebut dunia dakwah kini juga menghadapi tantangan yang tidak ringan.

“Tantangan dakwah yang dihadapi saat ini antara lain krisis ekonomi yang dihadapi ummat, untuk itu dakwah harus berorientasi pada mensejahterakan” ujarnya.

Tantangan lain yang cukup berat lanjut Abid adalah krisis politik, sistem demokrasi yang diterapkan perlahan bergeser menjadi otoritarian. “Dan ini menjadi tekanan bagi umat” katanya.

Untuk itulah, menurut alumnus Universitas Al Azhar Mesir ini, da’i dan aktivis dakwah harus merumuskan paradigma baru dalam dakwah, bagaimana dakwah secara konvensional dan dakwah melalui media digital.

“Pendidikan di perguruan tinggi juga harus memanfaatkan metode pembelajaran tidak hanya konvensional tetapi mulai menggunakan pemanfaatan media digital” ungkapnya.

Sementara itu Prof Ahmad Mubarok mengatakan dakwah harus melakukan pendekatan khoir, yaitu menebarkan kebaikan secara universal.

“Dakwah dengan pendekatan Maruf lebih bersifat kondisional dan terbatas kalangan tertentu” jelasnya.

Menurut Mubarok dakwah perlu pendekatan khoir karena lebih diterima secara universal.

Webinar dakwah Internasional menghadirkan pembicara antara lain Dr Dwi Budiman Assiroji M Pd I (Ketua STID Mohammad Natsir), Dr Daud Rasyid MA (Program Studi Magister Dakwah Universitas Islam Assyafi’iyah), Dr KH M Abid Marzuki M Ed (Ketua STAI Attaqwa Bekasi), Prof Dr Achmad Mubarok (Program Studi Dakwah Doktor Universitas Islam Assyafi’iyah). (RW)

About dwidjo -

Check Also

Kolaborasi Internasional Percepat Kualitas Perguruan Tinggi Indonesia dengan Belanda

Jakarta,Koranpelita.com Kolaborasi internasional menjadi prioritas untuk mempercepat kualitas perguruan tinggi Indonesia melalui kerjasama internasional terutama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *