Kenapa Sultan Cirebon dan Yogyakarta Tidak Hadir ?

Oleh Dasman Djamaluddin

Tahun 2016, sebanyak 14 Kerajaan dan Kesultanan se-nusantara mendeklarasikan Perjanjian Adat Indonesia Bersatu, untuk bersama-sama memerangi terorisme, Narkoba dan korupsi di Sulawesi Selatan.

Hadir pada kesempatan itu ada 14 kerajaan dan kesultanan se-Indonesia seperti Kerajaan Sambalung, Gunung Tabur, Atjeh Darussalam, Salaparang di Lombok, Tiworo Muna, Tai Woi, Moroneme Rumbia, Manggarai dan Fak-fak.

Kemudian Kesultanan lainnya yakni Taliwang, Bulungan, Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Demak, serta Buton. Sementara dari kerajaan negeri tetangga, yaitu Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Sejumlah kerajaan lain yang masuk daftar Dewan Adat Nusantara dilantik

“Deklarasi ini merupakan komitmen kami untuk turun tangan, karena sudah menjadi kewajiban kami memberantas musuh negara,” ujar Sultan Tallo XIX, I Paricu Muhammad Akbar Amin Sultan Aliyah Daeng Manaba Karaengta’ Tanete.

Menurutnya Dewan Adat Nusantara wajib mengambil bagian dari penyelamatan bangsa dan negara serta memberikan konstribusi bagi pembagunan bangsa salah satunya dengan melawan musuh terkait dengan terorisme, narkotika dan perilaku korupsi.

“Kami wajib berperang dan memberantas musuh negara itu karena sudah menyerang semua lini bukan hanya kalangan bawah tetapi hingga kalangan menengah keatas,” katanya.

Deklarasi ini dikukuhkan dalam piagam istiadat bersama dengan bertandatangan kerajaan dan kesultanan sebagai bentuk peran serta memerangi ancaman terorisme, peredaran narkotika dan mencegah perilaku korupsi.

Pertemuan Raja-raja dan Kesultanan digagas Dewan Adat Nasional, Perintis dan Generasi Kemerdekaan Republik Indonesia serta Kesultanan Kerajaan Tallo. Hadir pula Mendagri Tjahjo Kumolo, anggota DPR Akbar Faisal dan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang serta undangan lainnya.

Ketika mendengar Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat di Cirebon meninggal dunia pada Rabu, 22 Juli 2020, pagi, sudah tentu kita ikut berbelasungkawa. Di sanping itu, muncul pula pertanyaan, kenapa nama Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, tidak tercatat dalam daftar Dewan Adat Nusantara ? Sementara, Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat ini merupakan Sultan Sepuh XIV. Bukankah Sultan Sepuh merupakan pemimpin tertinggi di Keraton Kasepuhan Cirebon ?

PRA Arief Natadiningrat naik takhta sebagai Sultan Sepuh XIV pada 9 Juni 2010. Jadi jelas ketika diselenggarakan acara 14 Kerajaan dan Kesultanan se-nusantara mendeklarasikan Perjanjian Adat Indonesia Bersatu, tahun 2016, PRA Arief Natadiningrat sudah naik takhta. Beliau menggantikan ayahnya, Sultan Sepuh XIII, tepat 40 hari setelah wafatnya.

Pertanyaan berikutnya, kenapa Sultan Hamengku Buwono (HB) X juga tidak diundang dalam acara 14 Kerajaan dan Kesultanan se-nusantara ketika mendeklarasikan Perjanjian Adat Indonesia Bersatu, tahun 2016 ? Apakah tidak ada persatuan di antara para Sultan ? Dikarenakan masih bersifat sektoral ?

Kalau melihat dari sejarah Kesultanan di Indonesia, maka Sultan IX, ayah Sultan HB X, yang menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan RI setelah menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Benar, bahwa setelah itu seluruh kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Indonesia menyatakan bersatu dengan Negara Kesatuan RI. Tetapi harapan kita, perayaan dalam bentuk apa pun yang dilakukan para raja-raja atau sultan sebelum merdeka, hendaknya juga menjiwai rasa persatuan sebagai bangsa Indonesia. (Penulis wartawan senior tinggal di Jakarta)

About dwidjo -

Check Also

Kesaksian Jurnalis Palestina Bushra Jamal Ath-Thawil, Ungkap Fakta Penjajahan Zionis Israel

BUSHRA Jamal Muhammad Thaweel (22) memilih profesi wartawan setelah menyaksikan sendiri ayah dan ibunya ditangkap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *