Neta S Pane dari Loper Koran, Wartawan Merdeka hingga Ketua Presidium IPW

Oleh Dasman Djamaluddin

Sebagai sesama wartawan Harian “Merdeka” pimpinan Burhanudin Mohamad (B.M) Diah, sudah tentu pernyataan pengamat kepolisian, Sisno Adiwinoto yang menilai tudingan Ketua Presidium IPW, Neta S. Pane terhadap Polri sangat tendensius, yang sengaja untuk merusak institusi Polri dengan tuduhan yang tidak benar, tidak berlanjut.

Benar bahwa Sisno, mengatakan bahwa apa yang dilakukan Neta dan IPW melalui pernyataan terbuka kepada publik sangat berpotensi mendelegitimasikan kredibilitas lembaga Polri dan menurunkan moral anggota Polri secara umum. Tetapi sebagai sesama wartawan “Merdeka,” saya berharap, sekali lagi berharap, persoalannya segera berakhir.

Sisno menegaskan, “Agar marwah institusi kepolisian tidak dirusak lebih jauh oleh tuduhan NP, semestinya pimpinan Polri perlu mengambil langkah proaktif,” kata Sisno kepada wartawan, Senin, 20 Juli 2020.

Lebih jauh, apa yang dituduhkan oleh Neta terhadap Polri terhadap surat jalan dan red notice Djoko Tjandra sangat spekulatif, tidak didukung bukti yang kuat yang sudah diverifikasi, liar yang cenderung menggeneralisasi suatu perbuatan dilakukan oleh oknum menjadi tuduhan yang sepertinya dilakukan oleh institusi.

“Tuduhan NP yang sudah ditimpakan kepada lembaga Polri akan segera terbukti keliru besar karena hal tersebut merupakan kesalahan oknum,” tandas Sisno.

Sisno justru kemudian mempertanyakan, Neta tidak memahami tentang Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur (PPOP) atau Organisasi Tata cara Kerja Kepolisian (OTK) dan manajemen kepolisian.

“IPW sudah tidak proposional dan tidak objektif dalam menganalisis kasus ini,” demikian Sisno.

Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo sebelumnya menegaskan, komitmen Kapolri Jenderal Idham Azis untuk mengusut tuntas skandal surat jalan Djoko Tjandra demi menjaga marwah Polri.

“Ini komitmen pimpinan Polri dan kami khususnya dari jajaran Bareskrim Polri untuk menjaga marwah institusi,” kata Sigit usai upacara pelepasan jabatan Brigjen Prasetijo Utomo di Mabes Polri, Kamis, 16 Juli 2020.

Mantan Kapolda Banten itu menegaskan, Brigjen Prasetijo Utomo dapat dijerat dengan pasal 221 KUHP yaitu perbuatan pidana menyembunyikan pelaku kejahatan dam menghalang-halangi penyidikan. Kemudian pasal 263 KUHP tentang pidana pemalsuan surat atau dokumen.

Pemanggul bintang tiga itu kemudian mengatakan, hasil investigasi sementara Propam menyimpulkan Brigjen Prasetijo Utomo yang terseret kasus ini diduga kuat menyalahi wewenang dan membuat surat palsu.

“Mulai dari buat surat jalan sampai dengan cek red notice dan giat lain dalam rangka mengajukan proses PK sampai dengan kembalinya JC ke luar negeri, semua sedang kita lidik,” demikian Listyo.

_Neta Meniti Karier yang Berawal dari Loper Koran_

Neta S Pane dikenal seorang yang vokal mengkritisi lembaga Kepolisian. Ia ditunjuk menjadi Ketua Presidium IPW sejak tahun 2004. Aktivis kelahiran Medan, 18 Agustus 1964 ini sebenarnya memulai karirnya di bidang jurnalistik dengan menjadi reporter di Surat Kabar Harian (SKH) “Merdeka” di Jakarta tahun 1984. Di harian ini beliau mengabdi selama 7 tahun hingga menduduki jabatan sebagai Redaktur Pelaksana di tahun 1991.

Selepas dari SKH “Merdeka,” Neta menjadi asisten Redpel di Harian “Terbit, “Jakarta tahun 1993 dan kemudian menjadi Redpel koran “Aksi” Jakarta. Beliau mencapai jabatan tertinggi di bidang media adalah dengan menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Surat Kabar Jakarta tahun 2002-2004.

Setelah kenyang berkarir di dunia jurnalistik, Neta kemudian aktif menjadi seorang aktivis hingga menjabat sebagai Ketua Presidium IPW.

Melalui IPW, putra pasangan Tapi Rumondang Siregar dan Endar Pane ini mengkritisi beberapa kasus kepolisian yang cukup menggegerkan seperti kasus rekening gendut sejumlah pejabat kepolisian, para perwira Polri yang diduga menerima suap dari Gayus Tambunan, serta beliau mengomentari tindakan Polsi saat memeriksa Anas Urbaningrum.

Selain berkarir menjadi aktivis di IPW, Neta terbilang produktif dalam menulis seperti buku, karya ilmah, dan sastra. Beliau juga menjadi dosen tidak tetap di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Universitas Muhammadiyah, dan sejumlah kampus lainnya.

Bicara tentang Neta S Pane, ia sendiri pernah menulis pengalaman hidupnya di buku: ” Aku Wartawan Merdeka,” ( Jakarta: Pustaka Spirit, 2009). Selain sebagai editor di buku tersebut, Neta menulis sendiri pengalaman hidupnya di halaman 314-335.

” Kayaknya wajar jika saya bercita-cita menjadi wartawan. Soalnya sejak kecil hingga saat ini, kehidupan saya praktis dibiayai oleh dunia persurat-kabaran.

Di masa kecil, saat Sekolah Dasar, demikian lanjut Neta, saya menjadi loper koran. Biaya sekolah, saya dapatkan dari keuntungan menjual lembar demi lembar koran yang saya jajakan. Sejumlah koran yang saya baca setiap hari, disela-sela berdagang, membuat saya lancar menulis.”

Itulah perjalanan hidup Neta S Pane dari menjadi loper koran hingga sekarang menjadi Ketua Presidium Indonesia Police Watch. (Penulis mantan wartawan Merdeka)

About dwidjo -

Check Also

Kesaksian Jurnalis Palestina Bushra Jamal Ath-Thawil, Ungkap Fakta Penjajahan Zionis Israel

BUSHRA Jamal Muhammad Thaweel (22) memilih profesi wartawan setelah menyaksikan sendiri ayah dan ibunya ditangkap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *