Menimba Ilmu dari Brigjen TNI (Purn) Anton Sudarto

Langit di sepotong jalan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan mulai redup menuju senja tiba. Tapi lalu lintas di hari  Senin itu, tetap padat, apalagi mendekat ke perempatan yang memotong Jalan Hasanuddin.

Hari itu, saya sedang bungah, karena akan kembali bertemu dengan seorang tokoh, sesepuh, sekaligus mantap pejabat yang memiliki jalan hidup sangat menarik. Menarik untuk ditelisik, ditulis, serta tentu saja menjadi suri bagi generasi masa kini.

Orang-orang di sekitarnya biasa menyapa Pak Anton. Nama lengkapnya Anton Sudarto. Atau lebih lengkap lagi, Brigjen TNI (purn) Anton Sudarto. Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1962 yang memiliki banyak prestasi.

Sebagai purnawirawan TNI, urusan tepat waktu sangat ketat. Jadi, saya sudah sejak berjam-jam sebelumnya janjian dengan Den Fadli. Tidak boleh telat, karena bisa tidak enak dengan beliau yang biasa ontime.

Dan, benar. Pak Anton sudah menyambut di teras rumah, begitu kami masuk kediamannya yang lega. Mengenakan busana rapi, lengkap dengan jas warna krem, pria kelahiran 6 Januari 1940 itu, masih sangat sibuk.

Hari-hari Pak Anton biasa dihabiskan di Legiun Veteran Republik Indonesia. Tapi sesekali, mengumpulkan sahabat-sahabatnya di rumah, untuk sekadar bernostalgia.

”Sebelum ada wabah, setiap minggu pasti ngumpul di sini. Ya ngobrol-ngobrol, atau nyanyi-nyanyi, di sini ada ruang untuk nyanyi lengkap dengan alat musiknya. Kadang-kadang campursarian,” ungkap penerima bintang jasa Satya Lencana Nararia di tahun 1995 itu.

Campursarian adalah salah satu hobi lama Pak Anton sebagai upaya mencintai budaya sendiri. Kecintaan piyayi Wates Kulon Progo ini, pada kebudayaan juga ditunjukan dengan membuka sanggar seni karawitan dan pedalangan di rumahnya di Ndriyan, Wates.

“Setiap sore ada yang Latihan. Banyak dalang-dalang muda sudah dilahirkan, pada waktu-waktu tertentu, mengundang dalang yang sudah punya nama,” tambah ayah tiga putri ini tentang kesungguhannya nguri-uri kabudayaan Jawi.

Jejak kecintaannya pada wayang, diakuinya sudah dipupuk sejak kecil. “Dulu zamannya bapaknya pak Gito yang menjadi dalang top. Saya senang dengan tokoh Kresna, karena sosoknya yang cerdas dan ahli strategi,” tuturnya.

Lahir di Bendungan, di kala remaja Pak Anton juga berkawan baik dengan dalang kesayangan masyarakat Jogja, Ki Hadi Sugito. Sebelum akhirnya masuk AMN, masih sering bertemu.

“Pak Gito itu, teman saya main bola. Dulu orangnya gemuk, jadi agak lucu kalua lari mengejar bola. Ya orangnya memang gabyak,” kenang Pak Anton tentang Ki Hadi Sugito, dalang wayang kulit yang meninggal pada 9 Januari 2008 itu.

Seru memang, bertemu Pak Anton. Waktu menjadi sangat cepat berlalu. Saya dan Mas Fadli, sampai lupa beliau sudah sepuh. Tapi rupanya, justru Kakanwil Dephub Provinsi Jawa Tengah tahun 1989 itu, yang masih terus bercerita.

Banyak yang dikisahkan, termasuk pertemuannya dengan Martini Sukasih, salah satu putri Pak Brojo pemilik restoran legendaris di samping Pasar Wates. (hirwan)

About dwidjo -

Check Also

Menteri LHK Siti Nurbaya: Penting, Jurnalisme Lingkungan

Jakarta, Koranpelita.com Menghormati dedikasi seorang jurnalis dalam membantu pelestarian lingkungan, Kementerian Lingkungan HIdup dan Kehutanan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *