Home / News / NKS Menulis Jenewa-2: Teman Sejati dari Seorang Wanita

NKS Menulis Jenewa-2: Teman Sejati dari Seorang Wanita

Sebuah tulisan yang  menginspirasi saya peroleh dari Jenewa. Tulisan salah seorang pembicara di Global Social Protection Week. Ternyata wanita di belahan dunia mana pun bernasib sama. Rentan secara finansial. Dan, perlindungan sosial menjadi kawan sejati. Jadi kawan sejati seorang wanita, bukan lagi intan berlian.

Hari pertama rangkaian Global Social Protection Week akhirnya datang juga. Saya bangun saat hari masih terlalu pagi untuk ukuran kota Jenewa. Bayangkan saya terjaga saat jam rolex di dinding penginapan menunjukkan pukul 04.30.

Mohon maaf jika saya sebut merk jam dengan sangat jelas. Ini sekadar menunjukkan bahwa saya sedang di negara pembuat jam terkenal itu. Sayangnya saya pernah merasa tidak terlalu  nyaman berjam tangan. Sehingga, jam dinding dan jam di handpone menjadi andalan.

Waktu datangnya sholat subuh masih terlalu lama, pukul 06.00 lebih sedikit. Sedang, matahari baru mau menampakkan wujud dirinya pukul 08.00. Di Jenewa, matahari memang agak enggan untuk bangun segera.

Itu, tentu berbeda dengan matahari di Dusun Nganjir, tempat saya lahir, yang giat menggeliat, menerobos dinding dedaunan di perbukitan Menoreh. Matahari di Jenewa yang malas, membuat pagi, selalu kalah oleh dinginnya suhu udara malam di kota yang pernah menempati urutan pertama kota termahal di dunia itu.

Saya sepakat dengan Pak Maliki untuk melawan dinginnya udara kota Jenewa. Bersama pejabat dari Bappenas itu, tentu ada cara yang bisa dilakukan untuk menaklukkan dingin. Dan, kami pilih cara yang sehat sekaligus murah dengan jalan kaki tipis-tipis.

Pukul 07.00 kami mulai ritual jalan kaki. Pasti, tidak seperti di Taman Suropati atau di Senayan yang memilih pakai kaos setipis mungkin. Di Jenewa, kami harus berteman jaket tebal untuk meilndungi tubuh yang mulai menuai dari serangan angin dingin.

Karena acara dimulai cenderung lebih siang dari biasanya, jalan kaki dan kadang lari diarahkan ke landmark kota Jenewa.

Melalui United Nation yang di depannya ada Broken Chair, kami menyisir pinggir taman kota, menuju Danau Jenewa. Cahaya lampu tentu menjadi andalan agar kaki tak luka terantuk batu atau tergelincir saat menginjak kerikil.

Ternyata kami tak sendiri. Beberapa bule lokal (atau jangan-jangan warga internasional) sudah ada yang mendahului dan berjalan kaki. Bule-bule lain berdatangan kemudian. Rata-rata mereka tidak sendiri.

Bule-bule itu, selalu ada yang menemani. Malah, kadang tak hanya satu tapi dua atau tiga sekaligus. Teman setianya itu, diikat tali yang terhubung dengan tangan. Mengapa? Ya, karena teman setianya itu adalah anjing.

Saya kurang tahu kenapa mereka lebih memilih ditemani seekor atau beberapa ekor anjing. Apakah sudah tak memiliki pasangan? Atau anak? Mungkinkah pasangan dan anaknya ada di kota lain? Benarkah anjing menjadi pilihan karena dapat menjadi teman paling setia tanpa pernah berniat menghianati?

Tak sempat saya melakukan penelitian tentang kebiasaan memelihara anjing ini. Andai pun saya melakukan penelitian, bisa-bisa gagal karena saya termasuk yang takut, bahkan sekadar suara gonggongan anjing.

Menjauh dari anjing-anjing teman setia para bule, kami terus mengukur jarak dengan menelusuri jalanan kota Jenewa. Lumayan. Tidak rugi, pagi-pagi menembus dingin karena dapat keringat.

Pepohonan yang menguning memberi bingkai yang aduhai. Apalagi, ada sebagian yang sudah gundul tanpa daun. Terlihat cantik dan berbeda dengan pohon di desa asal saya di Kulon Progo sana yang kalau gundul malah jelek, menakutkan, serta bahaya.

Selesai menikmati pagi, saatnya menikmati sarapan. Bukan menikmati, sejatinya, karena menu makanan yang kami hadapi itu-itu melulu. Namun sarapan ini penting untuk menghadapi suhu dingin. Serta, alat  konsentrasi mengikuti serta Global Social Protection Week.

Lalu, bersama Pak Maliki, Bu Puspita, Bu Annissa, dan saya berjalan kaki menuju ILO, tempat diselenggarakannya konferensi. Tidak dekat tapi asyik bisa menambah hitungan langkah.

Sementara Pak Eko Darwanto, Pak Hilman, dan dua rekan dari serikat pekerja menggunakan bus karena beda tempat menginap.

Sampai. Kami memilih tempat duduk agak di depan agar pandangan makin tajam menatap para nara sumber. Layaknya pertemuan tingkat tinggi, ada beberapa sambutan kunci (biasanya disebut keynote speech atau welcome address) dari pejabat penting dalam urusan perburuhan.

Mr Guy Ryder dari ILO dan Mrs Michelle Bachellet, Commissioner of Human Rights.

Sambutan kunci yang pertama dari tuan rumah, Mr. Guy Rider, Director General ILO yang mengingatkan tentang social justice atau keadilan sosial. Ini penting agar tidak sekadar  jargon. Keadilan sosial dimaknai sebagai keadilan dalam hal distribusi kekayaan, peluang, dan hak-hak individu dalam suatu masyarakat.

Perlindungan sosial secara umum dan jaminan sosial secara lebih spesifik merupakan alat untuk dapat mencapai keadilan sosial.

Lebih lanjut, Direktur Jenderal ILO mr Guy Rider menambahkan masih ada 55% dari penduduk dunia yang belum terlindungi oleh jaminan sosial apapun. Pesan beliau seharusnya jaminan dapat diakses secara universal, diberikan secara komprehensif, dan berkelanjutan.

Mr. Guy Rider juga mengingatkan bahwa setiap bangsa dan setiap orang perlu melakukan investasi di dalam perlindungan sosial.

Sambutan kunci kedua dari Mrs. Anima Mohammed. Beliau adalah Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam sambutannya melalui video, Mrs. Amina Muhammed menyampaikan bahwa perlindungan sosial terbukti meningkatkan produktivitas dan mengurangi angka kemiskinan.

Menurut Mrs. Amina Muhammed, ada tiga hal agar perlindungan sosial bisa dijalankan dengan baik: work together (bekerja sama), change mindset (ubah pola pikir), dan look to future (melihat ke masa depan). Bekerja sama dimaksudkan bahwa kita semua harus bahu membahu untuk bisa saling membantu mewujudkan jaminan sosial secara menyeluruh. Yang kaya membantu yang miskin. Negara yang kaya membantu negara yang miskin.

Mrs. Amina Muhammed lebih lanjut menambahkan bahwa kita dituntut pula untuk mengubah pola pikir yang lama dimana jaminan sosial dianggap sebagai biaya. Padahal sejatinya jaminan sosial adalah sebuah investasi, bukan lah biaya. Sementara itu, kita perlu melihat ke masa depan sehingga paham betul apa yang bisa kita perbuat untuk masa depan yang lebih baik.

Welcome address berikutnya dari Mrs. Michelle Bachellet, Commissioner of Human Rights. Beliau juga menyinggung keadilan sosial dan berinvestasi di perlindungan sosial secara ekonomi dan teknologi. Banyak negara mendapatkan dampak positif bagi kesehatan anak dari adanya perlindungan sosial.

Untuk itu, perlu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, inklusi perlindungan sosial dan dua hal tersebut harus dilakukan secara global. Jelas bahwa jaminan sosial perlu dipropagandakan sehingga semua tanpa kecuali mendapatkan jaminan sosial.

Selanjutnya diskusi panel dengan para panelis  para pejabat penting dari berbagai negara. Beberapa menteri hadir dan sharing berbagai kasus di negaranya sesuai dengan topik yang diangkat dalam panel.  Juga dari akademisi dan peneliti ternama turut duduk melengkapi kemeriahan diskusi panel. Tiga diskusi panel secara berurutan hingga pukul 17.00, yaitu:

–          Panel 1: Social Protection, a Global Priority and an Investment with High Returns,

–          Panel 2: Still 55% without social protection,

–          Panel 3: A Common Strategy to Achieve SDGs on Social Protection.

Pada intinya, diskusi menyepakati bahwa perlindungan atau jaminan sosial merupakan prioritas global, perlindungan atau jaminan sosial bukan lah biaya namun merupakan investasi dengan hasil investasi yang tinggi.

Ada satu profesor dari India menyampaikan bahwa perempuan merupakan yang paling terpapar risiko untuk menjadi miskin. Perempuan rata-rata harus rela bekerja di rumah atau bekerja secara informal agar bisa tetap mengurus anak dan keluarga.

Sangat dipahami jika teman baik dari wanita bukan lagi intan berlian, tapi jaminan sosial. Dengan jaminan sosial, kehidupan para wanita akan lebih terjamin dari risiko sakit, ditinggal meninggal suami karena kecelakaan kerja, ataupun risiko tua dan tak lagi bisa bekerja nantinya.

Pada forum itu, juga ada ajakan menuju tahun 2030 untuk semua lapisan masyarakat telah terlindungi jaminan sosial. Sebutan kerennya USP 2030, universal social protection 2030.

Langkah-langkah sukses dari negara yang sudah menerapkan perlindungan secara universal mungkin bisa dicontoh oleh negara lain. Termasuk bagaimana menghadapi pekerjaan-pekerjaan masa depan yang cenderung informal work dan menyikapi hilangnya pekerjaan yang saat ini ada akibat terdisrupsi.

Selepas panel, masih ada satu agenda yang dinamakan market place. Ada cukup banyak stand yang memberikan berbagai informasi terkini mengenai kegiatan atau hal lainnya.

ILO meminta delegasi Indonesia membagi cerita tentang jaminan sosial, antisipasi dampak disrupsi terhadap tenaga kerja, serta program vokasi.

Pak Maliki tentu sebagai wakil pemerintah Indonesia menyampaikan penjelasan secara umum. Dan, saya baru tahu ajakan Pak Maliki tidak sekadar ajakan duduk manis tanpa tugas. Saya diminta menjelaskan secara praktis bagaimana program jaminan sosial diselenggarakan, program vokasi yang sedang berjalan, dan tentu menjawab berbagai pertanyaan pengunjung.

Waktu satu setengah jam serasa berjalan cepat, secepat laparnya perut terkena dingin udara Jenewa. Saatnya mencari makan malam yang panas dan segar.

Pilihan jatuh pada restoran Sen yang menyajikan makanan Vietnam yang disarankan oleh Bu Evie Sumardjono, orang Indonesia yang tinggal di Swiss.

Saran yang tidak mengecewakan. Sebagai balasannya, Buku Nami Kulo Sumarjono saya kirimkan sebagai hadiah untuk beliau.

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

…..bersambung

About redaksi

Check Also

Bintang: Indonesia Darurat Kekerasan Seksual Perempuan dan Anak

Jakarta, Koranpelita.com Pembahasan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) mulai konsep, naskah akademik, sampai ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *