Home / News / Pagi-pagi, Menikmati Bistik Legendaris di Restorasi  Kereta Api

Pagi-pagi, Menikmati Bistik Legendaris di Restorasi  Kereta Api

Berkemas karena tugas, saya menembus pagi. Ada kesenangan yang tak biasa, sebab bisa ikut Rapat Koordinasi (Rakor) dengan semua level pimpinan di kantor. Semogalah, Rakor yang munculkan ide-ide innovatif.  Apalagi tempatnya juga inspiratif: Bandung.

Perjalanan ke Bandung akan menjadi tamasya yang membawa rasa bahagia. Karena, kami naik kereta yang rasa-rasanya akan menyenangkan. Dan, saya mulai berdebaran, begitu sampai di Stasiun Gambir yang sudah ramai.

Betul juga kata orang-orang. Sekarang-sekarang ini, jika ingin ke Bandung, lebih enak naik kereta. Lebih pasti waktu tempuhnya. Selain itu juga lebih nyaman dan bersih. PT KAI, tampaknya bersungguh-sungguh dalam berbenah diri, sehingga naik kereta menjadi pengalaman yang membuat riang.

Di Gambir, saya melihat, suasana yang sibuk. Semua orang seperti bergegas. Tapi semua  terlihat teratur. Saya juga melihat,  di jalur yang lain para portir berseragam merah berdiri berjajar di sepanjang peron untuk memberi hormat kepada penumpang di dalam kereta yang akan berangkat.

Mereka berjajar sampai kereta melaju keluar stasiun. Menjadi budaya kerja yang bagus yang ditegakkan oleh KAI untuk memberikan appresiasi kepada konsumen yang telah bepergian menggunakan kereta.

Bentuk apresiasi ini memberikan kepuasan kepada konsumen, selain kebersihan dan kenyamanan sehingga kereta akan menjadi prioritas pilihan bepergian.

Rasanya saya harus menyampaikan apresiasi kepada pak Ignasius Jonan karena sejak KAI dipegang oleh pak Jonan tahun 2009, mutu pelayanan KAI menjadi baik dan membanggakan Indonesia. Masyarakat menjadi senang menikmati perjalanan dengan kereta yang bersih dan nyaman.

Karena berangkat pagi maka begitu kereta bergerak, pak Ari mengajak saya, pak Heru, bu Dinar dan yang lainnya untuk sarapan di restorasi.

Seumur-umur naik kereta, saya belum pernah makan di restorasi karena selalu memilih makan di tempat duduk saja. Namun karena beramai-ramai pasti menyenangkan sarapan bareng sambil ngobrol.

Dan, ternyata memang asyik. Bahkan jalan menuju restorasi saja sudah penuh tantangan. Kami harus bergoyang-goyang mengikuti irama laju kereta melewati lima gerbong sebelum sampai restorasi.

Begitu duduk, melihat menu, rupanya banyak juga pilihannya. Bervariasi dari mie rebus atau goreng, nasi bakar, nasi rames, dan tentu tak ketinggalan menu legendaris nasi goreng telur ceplok dan bistik daging.

Saya dan Dinar memilih bistik sementara yang lain sepakat dengan menu favorit yaitu mie rebus. Kayaknya tak di kantor, di rumah atau di perjalanan semua menyukai makanan mie tersebut.

Setelah sarapan segera kami kembali bergoyang-goyang menuju ke gerbong pertama. Gerbong kami adalah gerbong luxury yang didesain seperti kelas bisnis pesawat. Dengan kaki selonjoran sambil mendengarkan musik yang disediakan serta melihat pemandangan pagi menjadi kenikmatan luar biasa yang memberikan kesegaran jiwa.

Kereta terus menembus pagi. Sejumlah kota dilewati, sampai kereta mulai merangkak, mendaki perbukitan menuju Bandung. Terlihat dari kejauhan jalan tol Cipularang yang belum ramai karena masih pagi.

Beberapa saat sebelum sampai ke Bandung, Kami sepakat untuk menikmati kupat tahu Gempol. Kemudian sebelum memulai Rakor saya sempatkan juga mampir ke kantor regional 2 OJK di Jalan Dago untuk bertemu dan tentu saja berfoto dengan teman teman.

Lumayan, sambil nengok kantor, akhirnya ada waktu untuk menuliskan keberhasilan perubahan Budaya Kerja KAI sebelum Rakor dimulai.(*)

About redaksi

Check Also

Bintang: Indonesia Darurat Kekerasan Seksual Perempuan dan Anak

Jakarta, Koranpelita.com Pembahasan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) mulai konsep, naskah akademik, sampai ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *