Haryono Suyono Berikan Selamat ke Hasto Wardoyo

Jakarta, Koiranpelita.com

Prof Dr Haryono Suyono memberikan ucapan selamat kepada dr. H. Hasto Wardoyo, SpOG(K) setelah dilantik
Menteri Kesehatan sebagai Kepala BKKBN di Jakarta, Senin 1 Juli 2019.

Menteri Kesehatan RI Dr Nila Juwita Moeloek melantik
Dr H Hasto Wardoyo SPOG(K), sebagai Kepala BKKBN. Pelantikan berlangsung di Ghraha Kencana BKKBN Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 33/TPA tanggal 30 April 2019, menetapkan Dr H Hasto Wardoyo SPOG(K), Bupati Kulon Progo, sebagai Kepala BKKBN yang baru.

Prof Dr Haryono Suyono selama ini menjadi kolega Hasto Wardoyo dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan di Kulon Progo yang tergolong tinggi.

“Kami Haryono Suyono, mengucapkan selamat dan semoga mendapat limpahan restu, kekuatan, kemudahan dan kelancaran kerja dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa,” Haryono Suyono.

Hasto Warfoyo lahir di Kokap, 30 Juli 1964, jadi usianya baru 54 tahun. Ia menjabat sebagai Bupati Kulon Progo untuk dua masa jabatan sejak tahun 2011 sampai sekarang, setelah sebelumnya berprofesi sebagai dokter ahli kandungan serta pengusaha alat-alat kesehatan yang berhasil.

Perjuangannya dalam arena politik sebagai bupati, didorong oleh desakan dari banyak kalangan untuk memimpin Kulon Progo. Posisi bupati menjadi penting, antara lain adalah karena Kulon Progo akan ditempati lapangan terbang internasional yang baru. Serta, posisi Kulon Progo yang waktu itu tingkat kemiskinannya sangat tinggi, hampir 23 persen.

Secara personal, Progo Hasto Wardoyo adalah sosok pria Jawa yang santun. Meski seorang dokter dan pengusaha yang sukses, ia adalah seorang pendengar dan penerima masukan yang baik. Segera setelah terpilih, dengan senang hati menerima Ketua Yayasan Damandiri Haryono Suyono yang mengajak Kulon Progro membangun dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat dan keluarga. Saat itu, terbentulah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di desa-desa dan menerima bantuan ribuan mahasiswa KKN di desanya.

Gerakan itu bertambah semangat, karena rakyat diajak berpartisipasi dalam pembangunan dengan dana yang relatif kecil. Tidak itu saja, biarpun seorang dokter ahli kandungan, dokter Hasto juga penerima gagasan dan sangat pandai meramu gagasan itu menjadi inovasi yang memanfaatkan potensi daerahnya. Semua menguntungkan rakyat banyak sekaligus menjadikannya sebagai sebuah gerakan pemberdayaan. Prinsip gerakan itu, diikuti rakyat banyak, utamanya warga dari Kabupaten yang dipimpinnya.

“Bela Kulon Progo, Beli Kulon Progo” termasuk inovasi yang mewajibkan pegawai negeri dan pelajar pada hari tertentu memakai baju batik produksi Kulon Progo. Gerakan itu berhasil diikuti sekitar 80.000 pelajar dan 8.000 PNS, sehingga industri batik dari dua buah berkembang menjadi 50-an buah. Bersama itu, produk lokal menyebar ke segala pasaran.

Kebijakan itu diikuti dengan kebijakan lain. Misalnya saja pembagian beras untuk pegawai harus berasal dari beras lokal sehingga produk petani harus dibeli oleh Bulog untuk kebutuhan pegawai di Kulon Progo. Itulah cara menyintai Kulon Progo, dengan konsep beli Kulon Progo.

Keberhasilan demi keberhasilan itu mengubah dokter ahli kandungan itu tidak saja menjadi administrator unggul tetapi juga ekonom produsen yang disegani. Muncul gagasan mengemas air minum dan mulai mengharuskan konsumsi di kantor dan upacara resmi dengan air minum asal Kulon Progo.

Usaha warung modern yang berbau “mart” diubah menjadi Koperasi yang dikuasai oleh Pemerintah daerah sehingga segala produksi lokal sekaligus dijual dalam warung modern koperasi tersebut. Upaya gotong-royong pengentasan kemiskinan baik melalui Posdaya atau kelompok lain digencarkan sehingga tingkat kemiskinan menurun drastis dari sekitar 22,54 % pada tahun 2011, pada tahun 2014 menurun menjadi 16,74 %, dan akan terus merosot karena minggu lalu Lapangan Tebang yang baru untuk DI Yogyakarta secara resmi mulai beroperasi dari Kulon Progo.

Sebagai Kepala BKKBN yang baru tugasnya bukan saja satu Kabupaten Kulon Progo tetapi membantu pemberdayaan keluarga dari seluruh Indonesia yang separo sudah memiliki jumlah anak sedikit dan ingin keluarganya menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera. Sebagian lagi sudah siap menjadi peserta KB dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi sumber daya manusia yang bermutu menyongsong Indonesia maju dan mandiri pada tahun 2045 saat Indonesia berumur 100 tahun nanti.

Dokter Hasto Wardoyo memiliki setidaknya tiga tugas utama membawa BKKBN memadukan pemberdayaan keluarga dan penduduk dengan berbagai program instansi lain menghilangkan stunting dan kurang gizi, menurunkan tingkat kemiskinan, dan mengantar keluarga Indonesia memiliki nilai Human Development Indeks (HDI) yang memadai agar mampu melanjutkan pembangunan dengan kecepatan tinggi dalam era industri 4.0 dan atau lebih canggih di kemudian hari.

Penanganan KB dalam artian penggunaan kontrasepsi seperti keadaan di awal tahun 1970-an telah selesai, karena keluarga Indonesia mutunya makin tinggi, perlu pendidikan yang memadai, tinggi dan bekerja, sehingga otomatis mampu mengatur kelahiran anak-anaknya sendiri dengan fasilitas modern yang ada di setiap desa dan kota.

Tugas dr Hasto Wardoyo adalah memperkuat kemauan politik dan operasional BKKBN dan meyakinkan setiap keluarga yang ber-KB menjaga agar kesertaan KB-nya tetap tinggi dan diturunkan kepada anak-anaknya, semua anak dan keluarganya dijaga kesehatannya dengan baik, disekolahkan sampai ke tingkat paling tinggi dan membantu mendapatkan pekerjaan guna menjamin hidupnya dalam era modern dan menjaga kelestarian hidup damai penuh harmoni antar keluarga dan sesama warga masyarakat yang dinamis.(tom)

About dwidjo -

Check Also

Survei Menilai Dampak Covid-19 Perempuan Pikul Beban Lebih Berat

Jakarta, Koranpelita.com Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia tidak hanya berdampak sektor kesehatan tapi juga sosio-ekonomi, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *