Khairul Habiba, waratwan senior

Dilema Para Caleg Diantara Dua Kepentingan

Jakarta, Koranpelita.com

HARI ini, Selasa, 9 April 2019. Dan, genap delapan hari lagi menuju 17 April 2019. Yaitu, hari pemilihan presiden dan wakil presiden secara bersamaan dengan pemilihan anggota legislatif. Sebuah sistem pemilihan umum pertama kali diselenggarakan di negera ini.

Di April 2019 ini pula, akan tercatat dan menjadi tonggak sejarah bagi Indonesia menuju negara penegagakan hukum yang absolut, melahirkan kemakmuran yang hakiki bagi seluruh rakyat Indonesia dan mengokohkan kehidupan sistem demokrastis yang bermartabat.

Tentunya itu akan terwujud bila pemilu berhasil melahirkan pemimpin yang amanah, tegas, dan memiliki komitmen tinggi untuk menjadikan negara ini berdiri di atas kaki sendiri, berdaulat di atas kedaulatan rakyat dan bermartabat di atas nilai-nilai budaya dan keagamaan yang suci.

Rakyat Indoneasia ingin perubahan. Sudah lelah menghadapi ketidakpastian. Khsusunya pasca reformasi yang memiliki cita-cita mulia; memperbaiki sistem dan tatakelola pemerintahan yang dianggap buruk. Namun, apa lacur? Reformasi memakan dirinya sendiri. Gagal.

Di sadari atau tidak, di tengah cita-cita dan harapan besar itu, rakyat masih dibayang-bayangi perpecahan. Mestinya, pengalaman Pemilu Presiden 2014 dan pemilihan kepala daerah DKI Jakarta yang menyeramkan itu, menjadi pelajaran untuk tidak terulang lagi.

Namun, tetap terjadi. Di Pemilu 2019 ini, “pertarungan” antara massa pendukung ke dua kandidat pasangan presiden 01, Jokowi – Ma’ruf Amin dan pasangan 02, Prabowo – Sandiaga Uno makin hebat. Hingga antara koalisi partai pendukung pun menjadi tidak solid.

Sesungguhnya, ketidaksolidan itu sudah ada sejak lama, namun tak Nampak. Dia, menjadi terang benderang sepekan menjelang 17 April 2019 ini, akibat keputusan partai politik dengan anggotanya yang tidak seirama dalam memutuskan calon presiden yang diusung.

Kampanye Akbar Capres 02, Prabowo Subianto di Stadion Kridosono Yogyakarta Senin (8/4/2019) kemarin, membuktikannya. Sejumlah kader dan bahkan fungsionaris dua partai legendaris Golkar dan PPP mengalihkan dukungan kepada Prabowo.

Tidak hanya itu, ormas terbesar di negeri ini pun sudah memberikan sinyal akan merapat ke Prabowo – Sandi. Aliran dukungan itu diperkirakan akan terus membesar, yang kalau tidak disipaki dengan arif bijaksana akan menambah hiruk pikuk negeri ini.

Mengapa itu bisa terjadi? Menurut pangamat politik dari UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto, Selasa (9/4), para caleg berada dalam dilema dan kekhawatiran berat, karena, konsern rakyat tertuju penuh kepada pemilihan presiden. Bukan kepada calon anggota dewan. Sementara caleg harus kerja keras untuk dua kepentingan, yaitu untuk kepentingan partainya memenangkan calon presiden yang diusung dan disi lain untuk kepentingan dirinya menjadi anggota DPR.

Dalam kondisi dilema itu, dan di samping perbedaan pilihan terhadap penetapan calon presiden oleh partainya, maka para caleg mau tak mau harus mempertimbangkan konstituen yang telah mantap pada pilihannya. Kalau tidak, dia tidak akan dipilih menjadi anggota dewan.

Tidak dipungkiri, banyak caleg berpikiran demikian. Sekjen Partai Gerindra Andre Rosiada bilang, banyak yang mengambil sikap sepeti itu dan datang untuk bergabung ke partai dia. “Bintang terang saat ini berada di pihak Pak Prabowo Subianto,” kata dia.

Dari relaitas itu, dapat dipahami, betapa rapuhnya militansi kader-kader partai politik. Itu, juga tak lepas dari dampak serius yang dihasilkan partai-partai politik di Dewan Perwakilan Rakyat yang terus menerus melakuakn bongkar pasang undang undang pemilu.

Sekarang baru sadar, bahwa pemilu serentak menjadi kontraproduktif untuk partai mereka. Pemilu serentak juga menyimpan potensi pemilu tidak sukses, jika dalam seminggu ke depan Komisi Pemilihan Umum tidak massif melakukan sosialisasi tata cara pemungutan suara.

Sampai detik ini, masyarakat belum banyak tahu. Bukan hanya diperdesaan saja, di ibukota pun masih banyak yang belum paham. Ada lima surat suara yang akan dibagikan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebelum masuk ke bilik pencoblosan.

Surat suara pertama adalah untuk pemilihan presiden. Berukuran sedang. Sementara yang empat lagi, adalah untuk pemilihan anggota DPR, DPRD tingkat I dan II dan surat suara untuk pemilihan anggota Dewan Perwakilan daerah (DPD). Ukurannya besar-besar seperti kertas koran.

Banyak pengamat bilang pemilu ini rumit. Maka sangat dibutuhkan kearifan, kesadaran dan kedewasaan seluruh elemen masyarakat. Terutama kepada aparatur negara untuk bersikap netral. Tidak memihak, karena akan memantik anarkisme publik.

Perlu diingat, kekuasaan tidak abadi. Hanya sementara. Syahawat politik harus dikendalikan untuk kepentingan yang lebih besar. Kepentingan bangsa dan Negara dan untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bagi kedua pasang calon, kekalahan bukanlah aib. Dan, bagi kedua kubu pendukung, siapun yang terpilih adalah presiden kita. Presiden Republik Indonesia yang akan memperbaiki nasib bangsa Indonesia menjadi lebih baik, adil dan makmur. (Penulsi Khairul Habiba, Wartawan Senior)

About dwidjo -

Check Also

Komnas HAM Agar  Selidiki Dugaan Pelanggaran Penangkapan Aktivis KAMI

Jakarta,  Koranpelita.com Tim Advokasi KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) mendesak Komisi Nasional Hak Azasi Manusia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *