Anggota Fraksi PDIP MPR RI Masinton Pasaribu (kiri) Pakar Rohani sekaligus juru bicara PBNU, Nabil Haroen (tengah) dan Pangi syawi Chaniago (pengamat Politik ) Senin (4/3) sebagai pembicara pada Diskusi empat pilar MPR RI, membahas tentang 'Merawat Kebhinekaan Indonesia' diselenggarakan Pengurus Koordinatoriat Wartawan Parlemen bekerja sama dengan Biro Humas MPR RI di Gedung Parlemen Senayan Jakarta (foto edm)
Anggota Fraksi PDIP MPR RI Masinton Pasaribu (kiri) Pakar Rohani sekaligus juru bicara PBNU, Nabil Haroen (tengah) dan Pangi syawi Chaniago (pengamat Politik ) Senin (4/3) sebagai pembicara pada Diskusi empat pilar MPR RI, membahas tentang 'Merawat Kebhinekaan Indonesia' diselenggarakan Pengurus Koordinatoriat Wartawan Parlemen bekerja sama dengan Biro Humas MPR RI di Gedung Parlemen Senayan Jakarta (foto edm)

Bangsa Indonesia Diminta Membangun Narasi Persatuan

Jakarta, Koranpelita.com

Segenap warga negara sudah harus sadar bahwa ada pihak-pihak yang selalu berupaya membenturkan dan mengotak-ngotakan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, setiap warga masyarakat harus membangun narasi-narasi yang dapat memperkuat presatuan dan kesatuan bangsa.

Demikian antara lain kesimpulan diskusi Empat Pilar MPR yang bertema “Merawat Kemerdekaan Indonesia” di media Center Gedung MPR, DPR dan DPD Senayan Jakarta, Senin (4/3). Tampil sebagai pembicara anggota F-PDIP MPR Masinton Pasaribu, Juru Bicara PB NU Nabil Haroen dan pengamat Politik Pangi Syawi Chaniago.

 

Pangi Syawi Chaniago menegaskan, bahwa sesungguhnya semua masalah yang terus dipermasalahkan masyarakt  saat ini, sudah selesai sejak-jauh hari. Tapi ada pihak-pihak yang terus menggoreng masalah itu, hingga akhirnya masyarakat Indonesia bersteru dan nyaris terbelah.

Dia mengaku sedih melihat kondisi bangsa yang terus terpuruk pada masalah-masalah yang sudah selesai itu. Sementara negara-negara lain sudah jauh melesat maju. “Saya mengimbau, akhirilah masalah itu,” papar dia.

Ditegaskan Pangi, dia keberatan bila ada kelompk masyarakat yang tidak memilih calon pemimpin yang tidak sesuai dengan keimanannya disebut sebagai garis keras, intoleransi dan antikeberagaman.

Tetapi, mengapa ketika di lingkungan mayoritas muslim tidak memilih calon non muslim, lalu dibilang intoleran dan anti keberagaman dan tidak Pancasilais. “Kalau soal Pancasila, toleransi dan keberagaman, Muslim dari dulu dusah sangat Pancasilais, toleran dan sangat menghormati keberagaman,” papar dia.

“Melalui masalah-masalah seperti ini lah kita bangsa Indonesia diadu domba. Kita sudah harus sadar, ada pihak-pihak yang mengondisikan ini. Apalagi dihembuskan bahwa kita akan dibuat hancur seperti Suriah,” ujar Pangi lagi.

Terkait hal itu, juru bicara PBNU Nabil Haroen menegaskan, NU akan selalu berada di depan untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam salah satu keputusan Munas NU, warga NU wajib merawat kebinekaan Indonesia, papar dia.

Sedangkan anggota F-PDIP MPR RI Masinton Pasaribu mengatakan, bangsa Indonesia harus memahami sejarah perjuangan bangsa. Bangsa ini lahir dari konsensus bersama dan didesain sebagai negara untuk semua.

Kalau hari ini ada pihak-pihak yang ingin mengubah itu, dan apalagi ingin merusak tatanan yang sudah ada seperti ideologi Pancasila, maka presiden memiliki kewenangan menerbitkan Peraturan Presiden Pengganti Undang Undang (Perppu) untuk mengatasinya.

Masinton juga mengingatkan, sekalipun masih teralu jauh pemikiran Indonesia akan seperti suriah atau di Suriahkan oleh kelompok-kelompok tertentu, kewaspadaan patut terus ditingkatkan. Tugas negara memastikan seluruh warga negara itu aman, nyaman, dalam menjalankan ibadahnya masing-masing, kata Masinton. (kh)

 

 

 

About dwidjo -

Check Also

Syahrul Yasin Limpo: UU CK Menata Ulang Kewenangan Daerah

Jakarta, Koranpelita.com Anggota Dewan Pakar Partai Nasdem Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa Undang-undang Cipta Kerja …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *