Semarang,KORANPELITA.Com– Pengurus PWI Jateng seksi Polkam Suparman berhasil lulus dan meraih gelar doktor dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Sultan Agung Semarang, dari penelitiannya Al-Itsar Relational Capabilty terhadap kinerja bisnis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Batik di Jateng.
” Dalam penelitian ini ditemukan adanya Itsar Relational Capabilty mampu meningkatkan kinerja bisnis UMKM batik, khususnya di Jateng,” katanya usai mengikuti wisuda ke 96 di Gedung Auditorium Unissula jalan Kaligawe Semarang, Sabtu (7/3/2026).
Penelitian yang dilakukan ini melibatkan responden sebanyak 150 UMKM batik yang tersebar di daerah yang memiliki sentra batik, seperti Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Salatiga, Kendal, dan Kota Demak sebagai sampel.
Menurut dia, Itsar Relational Capability adalah kemampuan membangun hubungan bisnis dengan mitra serta konsumen yang saling menguntungkan kedua belah pihak berdasarkan karakter syariah Islam, sebagai upaya meningkatkan kinerja bisnis.
Selain itu, terdapat adaptif learning dan generatif learning yang menunjukkan adanya pembelajaran yang dilakukan oleh pengelola UMKM Batik dapat membentuk karakter dan memperkuat kapabilitasnya sebagai pengelolanya.
Itsar Relational Capability terdiri empat indikator yaitu kepedulian terhadap hak dan kesejahteraan orang lain sehingga dapat menjalin ikatan pribadi dengan pembeli, kesediaan berbagi informasi mengenai kualitas produk yang berstandar internasional, kesediaan bekerjasama yang berorientasi hubungan jangka panjang dan berkelanjutan serta kesediaan untuk menolong dan menjalin hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dengan pelanggan.
” Menjalin hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dengan pelanggan merupakan indikator yang paling berpengaruh terhadap kinerja bisnis UMKM ini,” ucapnya.
Didasari Saling Percaya, Jujur dan Semata mata karena Allah Subhanallahu Wataalla
Menurutnya, konsep Itsar Relational capability ini terdiri dari tiga dimensi yaitu Kemampuan dalam melakukan hubungan bisnis harus didasari dengan saling percaya, bersikap jujur dan mendorong orang lain semata mata karena Allah Subhanallahu Wataalla.
Meski demikian, katanya, sejumlah UMKM batik sudah menerapkan relasional yang baik dalam menjalankan bisnisnya, tetapi belum terlalu besar dalam memberikan rasa saling ketergantungan.
“Beberapa UMKM batik yang saya teliti sudah melakukan hubungan, meski masih dalam jumlah yang tidak besar. Jadi, setelah mereka berhubungan, setidaknya masih menjalin hubungan dan tidak putus begitu saja. Jadi terdapat ada rasa saling ketergantungan dan berkelanjutan satu sama lain, ” katanya.
Namun hubungan bisnis yang perlu untuk menciptakan Itsar Relational capability, kata dia, perlu dibangun antara sesama pelaku UMKM batik, UMKM kecil dan besar, UMKM batik dengan pelanggan, serta UMKM dengan pemerintah.
“Kenapa harus melibatkan pemerintah ? Karena pemerintah bisa menjadi pendamping dalam pengembangan usahanya, teknologi, inovasi serta bantuan modal. Bahkan pemerintah mempunyai program untuk meningkatkan dan mengembangkan UMKM. Jadi, Itsar Relational capability ini merupakan semacam kepedulian terhadap sesama saling menguntungkan kedua belah pihak, dengan mitranya dan konsumen,” katanya.
Dengan saling peduli dan ketergantungan orang lain, sehingga dapat menjamin ikatan pribadi dengan pembeli. Selain itu, kesediaan bekerjasama yang berorientasi hubungan jangka panjang dan berkelanjutan.
Bisa Hadapi Dampak Krisis Ekonomi
” Yang jelas membuat UMKM batik dalam pemasarannya sesuai karakter syariah Islam menguntungkan kedua belah pihak, sehingga bisa menghadapi berbagai perubahan yang ada, seperti dampak globalisasi hingga krisis ekonomi.”
Sebagai jurnalis, pihaknya menginginkan Itsar Relational Capability yang ditemukannya bisa meningkatkan kinerja bisnis UMKM batik bisa terinformasikan dalam spektrum secara lebih luas agar lebih bermanfaat.
“Apalagi, sekarang ini Menristek Dikti sedang menggalakkan hilirisasi riset. Para penguji mengakui apa yang saya temukan ini merupakan ‘novelty’ (kebaruan). Saya berharap ini bisa dikembangkan kepada variabel lain sehingga tidak hanya tersimpan begitu saja,” katanya.
Secara lebih jauh, ia berharap apa yang ditemukannya dalam penelitian itu bisa menjadi referensi untuk diaplikasikan para pelaku UMKM dalam berbagai bidang, bukan hanya batik saja, tapi bisa bisnis lainnya yang berada dalam wilayah Jateng.
Pihaknya berharap, dengan pencapaian akademiknya hingga mencapai gelar doktor ini, mampu memotivasi rekan-rekan jurnalis lainnya, khususnya yang masih muda untuk bisa melanjutkan studi yang lebih tinggi.
“Saya berharap dengan Raihan ini bisa memotivasi teman teman wartawan lain, yang sudah sarjana untuk bisa studi lanjut lshi. Mudah-mudahan apa yang saya capai ini bisa untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta kerendahan hati yang lebih baik, ” katanya.
Dalam ujian disertasi doktoral berjudul “Pengaruh Itsar Relational Capability pada Kinerja Bisnis UMKM Batik itu, dipromotori Prof Heru Sulistyo, SE, MSi dan Co Promotor Dr Marmo Margono, SE, MM, berhasil meraih gelar doktor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unissula Semarang dengan predikat sangat memuaskan dengan tim penguji, yakni Prof Dr Ibnu Khajar, SE, MM., Prof Dr Widodo, SE, MSi., Prof Dr Muntamimah, SE, MM (*)
www.koranpelita.com Jernih, Mencintai Indonesia