Jakarta, Koranpelita.com
Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) berkomitmen dalam mendukung agenda prioritas Perpustakaan Nasional RI. Khususnya, menjadikan perpustakaan sebagai kekuatan strategis dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat Indonesia.
Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Joko Santoso menegaskan penguatan budaya baca untuk meningkatkan indeks literasi di Indonesia tidak boleh hanya sekadar menjadi selebrasi atau perayaan belaka.
“Saya kira ini menjadi satu kewajiban kita semua, jadi kita tidak hanya kita bicara soal gerakan penguatan literasi atau budaya baca itu hanya ramai pada berbagai macam selebrasi saja, tetapi harus ada praktik-praktik langsung, yang dalam pandangan kami itu tidak hanya menyasar kepada siswa atau pendidikan, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga,” katanya di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Dalam salah satu sesi diskusi, Joko Santoso yang juga sebagai Sekretaris Utama Perpusnas menekankan bahwa membaca bukan aktivitas sederhana yang bisa dijelaskan secara hitam-putih. “Mengapa orang membaca dan perlu membaca tidak bisa dijawab hanya dengan ya atau tidak. Diperlukan narasi untuk memperkuat argumen dan memberi daya sugesti agar membaca menjadi kesadaran,” ujarnya.
Diskusi juga mengulas peran buku dalam membentuk pemikiran tokoh-tokoh bangsa. Membaca, menurut para narasumber, menjadi fondasi intelektual yang membangun karakter dan pandangan hidup para pemimpin besar Indonesia.
“Membaca bagi mereka bukan sekadar hobi, tetapi pembentuk identitas. Buku yang dibaca menjadi dasar lahirnya gagasan besar dan keberanian untuk membawa perubahan,” ujar Joko Santoso. Ia mencontohkan kisah Mohammad Hatta yang membawa buku ke penjara dan menjadikan buku sebagai mahar pernikahan sebagai simbol kecintaan mendalam pada ilmu.
Pada peluncuran dan bedah buku “Bersama Kutubuku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” itu, Joko juga menegaskan pentingnya menghidupkan literasi dari lingkungan keluarga serta memberdayakan perpustakaan sekolah.
Menurutnya, menghidupkan literasi di lingkungan keluarga bisa dilakukan dengan menambah bahan bacaan di lingkungan keluarga, termasuk di rumah dan perpustakaan komunitas.
“Termasuk tentu juga memberdayakan perpustakaan, karena perpustakaan sekolah kalau kita lihat potensi di Indonesia itu kan luar biasa. Kita punya 219 ribu perpustakaan, dan paling banyak itu adalah perpustakaan sekolah. Kalau kita bisa jadikan sekolah itu menjadi pusat pembelajaran berbasis membaca dengan memperkuat kebiasaan siswa dengan ada penerapan target membaca dan seterusnya, itu akan sangat bagus,” jelasnya.
Joko juga mengemukakan, kebiasaan membaca perlu ditingkatkan melalui inspirasi dari tokoh-tokoh besar yang juga menjadikan buku sebagai santapan sehari-harinya. Kisah-kisah sukses mereka dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kebiasaan membaca.
“Banyak tokoh-tokoh dunia yang berhasil karena membaca. Orang-orang sukses dan menjadi idola itu mereka juga punya bacaan-bacaan yang memengaruhi mereka sehingga mereka sukses, seperti buku-buku,” tuturnya.
Ia juga menyoroti riset yang dilakukan oleh Program Internasional untuk Student Assessment (PISA). Program ini menekankan pada variabel matematika, sains, dan membaca, yang pada tahun 2022 menunjukkan kemerosotan minat membaca.
“Kalau kita bandingkan misalnya dari tahun 2009, itu kita menurun. Nah, saya kira ini menjadi satu kewajiban bagi kita semua. Jadi, kita tidak bisa bicara soal gerakan penguatan literasi atau budaya baca itu hanya ramai pada berbagai macam selebrasi saja, tetapi harus ada praktik-praktik langsung,” ucapnya.
Bedah buku dan seminar literasi nasional bertajuk yang digelar Pengurus Pusat IPI menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pegiat literasi, akademisi, dan praktisi. Empat penulis buku “Bersama Kutubuku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” turut memaparkan gagasan mereka.
Empat penulis buku “Bersama Kutubuku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” turut memaparkan gagasan mereka. Para penulis tersebut adalah Komaruddin, Joko Santoso, Antoni Ludfi Arifin, dan Joko Nugroho, yang menyoroti pengalaman personal dan refleksi intelektual tentang makna membaca dalam perjalanan hidup dan profesi.
Seminar ditutup dengan ajakan untuk menjadikan membaca sebagai kebutuhan hidup, bukan sekadar pengisi waktu luang. “Setiap buku selalu menawarkan hal baru. Jawaban atas persoalan bisa ditemukan dalam satu buku atau dari gabungan banyak buku. Kuncinya adalah terus membaca dan mencintai ilmu,” pesan yang disampaikan kepada seluruh peserta. (Vin)
www.koranpelita.com Jernih, Mencintai Indonesia