Waspadai Skoliosis Degeneratif Pada Lansia 

Jakarta, Koranpelita.com

Skoliosis adalah kondisi kelainan bentuk tulang belakang yang menyebabkan tulang belakang melengkung ke samping. Kelainan ini dapat terjadi pada berbagai usia, termasuk lansia. Skoliosis pada lansia biasanya dikenal sebagai skoliosis degeneratif.

Dr. dr. Phedy, Sp.OT (K) Spine Konsultan Tulang Belakang Eka Hospital BSD mengatakan, Skoliosis degeneratif pada orang tua sering kali disertai dengan gangguan kesetimbangan tubuh baik ke samping maupun ke belakang sehingga tubuh penderita tampak miring ke samping dan bungkuk ke depan.

“Pada kasus yang berat, skoliosis degeneratif dapat disertai dengan pergerseran tulang belakang dan syaraf terjepit, Pasiennya sebenarnya sadar, tapi sering kali tidak memperhatikan. Yang biasanya sadar duluan itu keluarganya, karena melihat tinggi badan berkurang. Padahal, bukan karena bertambah pendek, tapi karena makin bungkuk dan miring ke samping,” ujar Dr. dr. Phedy, saat bincang bincang dengan media di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (27/2/2025).

Penyebab skoliosis pada lansia

Beberapa gejala pada lansia, skoliosis umumnya terjadi karena faktor berikut:

  • Penuaan diskus dan sendi: Penuaan menyebabkan bantalan antara tulang belakang menipis dan terkadang tidak simetris, sehingga tulang belakang menjadi tidak stabil.
  • Osteoporosis: tulang yang melemah akibat osteoporosis dapat menyebabkan perubahan bentuk dan kemiringan tulang belakang.
  • Artritis tulang belakang: Peradangan pada sendi tulang belakang dapat menyebabkan nyeri dan perubahan bentuk tulang.
  • Cedera atau trauma: Cedera lama atau jatuh dapat berkontribusi terhadap skoliosis degeneratif.

Gejala skoliosis pada lansia

Dijelaskannya,  Gejala skoliosis pada lansia dapat bervariasi, tergantung tingkat keparahannya. Beberapa gejala umum meliputi:

-Tubuh terlihat semakin miring ke samping atau semakin membungkung

-Nyeri punggung yang kronis Postur tubuh yang tidak simetris, seperti bahu atau pinggul yang lebih tinggi dari sisi lainnya Terdapat punuk pada punggung bawah, Cepat lelah akibat postur tubuh yang tidak seimbang, Kesulitan berjalan atau berdiri dalam waktu lama

Dalam kasus yang lebih parah, dapat terjadi jepitan syaraf sehingga timbul nyeri ke tungkai, kesemutan, kebas, hingga ke kelemahan.

Diagnosis skoliosis pada lansia

Untuk menegakkan diagnosis skoliosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Rontgen: Untuk melihat tingkat kelengkungan tulang belakang.
  • MRI atau CT Scan: Untuk mengevaluasi struktur jaringan di sekitar tulang belakang, termasuk saraf dan bantalan tulang.
  • Tes kepadatan tulang: Untuk menentukan apakah osteoporosis berkontribusi terhadap skoliosis.

Penanganan skoliosis pada lansia

Penanganan skoliosis pada lansia bertujuan untuk memperbaiki keseimbangan, mengurangi nyeri, memperbaiki mobilitas, dan mencegah progresivitas kelengkungan tulang belakang.

Beberapa metode pengobatan yang dapat diterapkan meliputi:

1. Terapi fisik dan latihan

Latihan fisik dan terapi fisik dapat membantu memperkuat otot penopang tulang belakang dan meningkatkan fleksibilitas. Beberapa latihan yang direkomendasikan antara lain:Latihan peregangan dan yoga, latihan penguatan otot inti dan punggung dan latihan keseimbangan untuk mengurangi risiko jatuh.

2. Obat obatan

Penggunaan obat dapat membantu mengurangi nyeri dan peradangan serta untuk mengobati osteoporosis.

3. Penggunaan penyangga (brace)

Penggunaan brace tidak dianjurkan pada skoliosis degeneratif. Brace hanya diberikan bila terdapat nyeri hebat akut dan hanya boleh dipakai untuk jangka pendek.

4. Operasi

Operasi diindikasikan bila skoliosis yang dialami mencapat kelengkungan lebih dari 50 derajat. Bila terdapat gangguan kesetimbangan lebih dari 3 cm baik ke depan maupun ke samping yang tidak membaik dengan terapi fisik, operasi dapat dipertimbangkan. “Pada kasus yang disertai dengan tulang punggung yang bergeser sehingga menimbulkan jepitan syaraf berat, juga perlu dilakukan operasi,” jelasnya.

Pencegahan skoliosis pada lansia 

Meskipun skoliosis degeneratif tidak selalu dapat dicegah, beberapa langkah berikut dapat membantu menjaga kesehatan tulang belakang:

  • Menjaga postur tubuh yang baik saat duduk, berdiri, atau berjalan.
  • Melakukan olahraga secara teratur untuk memperkuat otot punggung dan meningkatkan fleksibilitas.
  • Mengonsumsi makanan kaya kalsium dan vitamin D untuk menjaga kesehatan tulang.
  • Menghindari kebiasaan buruk, seperti membungkuk saat duduk atau membawa beban berat secara berlebihan.

Menghindari asap rokok

Melakukan pemeriksaan rutin ke dokter untuk mendeteksi kelainan tulang sejak dini.”Skoliosis pada lansia adalah kondisi yang umum terjadi akibat proses penuaan, degenerasi tulang belakang, atau osteoporosis. Meskipun dapat menyebabkan nyeri dan gangguan mobilitas, berbagai metode penanganan seperti terapi fisik, obat-obatan, penggunaan brace, atau operasi dapat membantu mengelola kondisi ini,” jelasnya.

Pencegahan melalui gaya hidup sehat kata Phedy juga penting untuk menjaga kesehatan tulang belakang dan mengurangi risiko skoliosis degeneratif.

“Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala skoliosis, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis tulang  kami untuk mendapatkan penanganan tepat,” pesan dr. Phedy. (Vin)

About ervin nur astuti

Check Also

Saint Peter’s School Gandeng Komunitas Tuna daksa Tingkatkan Empati Siswa di  Acara “Miles and Smiles – Charity and Funwalk”

Jakarta, Koranpelita.com Saint Peter’s School sebagai salah satu sekolah Katolik yang berlokasi di Kelapa Gading …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pertanyaan Keamanan *Batas waktu terlampaui. Harap selesaikan captcha sekali lagi.

Eksplorasi konten lain dari www.koranpelita.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca