Semarang,koranpelita.com
Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam aliansi Semarang menggugat melakukan unjuk rasa di hadapan Gedung Pemerintah Provinsi Jateng Jalan Pahlawan Semarang. Aksi unjukrasa yang berlangsung aman, tertib dan lancar tersebut mendapat pengamanan secara ketat dari aparat kepolisian.
Meski di pintu gerbang masuk gedung Gubernuran dipasangi kawat berdiri, mahasiswa melakukan orasi di jalan pahlawan dengan disertai pembakaran ban bekas, sehingga api dan asap mengepul dan tidak menyulut aparat yang menjaga jalannya demo tersebut.
Junaedi koordinator aksi mahasiswa Semarang menggugat menyikapi tiga isu nasional diantaranya kelangkaan dan minyak goreng mahal, kenaikan harga Pertamax dan penundaan pemilu serta perpanjangan masa jabatan presiden.
“Negara kita sebagai penghasil minyak terbesar dunia, kenapa minyak goreng sangat langka diduga ada distributor bekerjasama dengan pejabat yang tidak bertanggung jawab yang berada di Senayan,” ungkap Junaedi dalam keterangannya dengan wartawan, Senin sore ( 11/4/2022).
Menurutnya, apa yang dilakukan teman teman mahasiswa demo kali ini menuntut sepuluh poin yang menjadi tuntutannya, yaitu pertama, turunkan harga minyak Ireng dan usut tuntas mafia minyak goreng. Kedua, turunkan Kemendag Muhammad Lutfi, ketiga, mendesak pemerintah untuk menjamin distribusi BBM bersubsidi tepat sasaran.
Selain itu, keenpat mendesak pemerintah untuk menjamin ketersediaan BBM bersubsidi di masyarakat. Kelima, menolak penundaan pemilu dan perpanjangan masa periode jabatan presiden. Keensm, mendesak presiden Jokowi untuk mengeluarkan pernyataan resmi terkait penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden. Ketujuh, menolak amandemen UUD 1945 karena tidak mendesak da irasional dan kedelapan, mendesak pemerintah untuk segera menuntaskan persoalan bangsa atau presiden Jokowi mundur.
Meski begitu, lanjut Junaedi, ada alasan lain yang dikemukakan elite nasional dalam membangun wacana penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden demi kesetabilan ekonomi pasca pandemi.” Pernyataan itu tidak rasional dan justeru memperlihatkan kebodohannya,” ujar Junaedi.(sup)